Ada satu pemandangan yang hampir selalu sama di SPBU Indonesia akhir-akhir ini. Seorang pengendara motor paruh baya berhenti di depan dispenser. Ketika petugas bertanya, “Pertamax atau Pertalite, Pak?” Ia terdiam sejenak.
Bukan karena sedang merenungkan makna hidup. Ia sedang menghitung isi dompet apakah cukup atau tidak.
Dulu jawabannya tegas: “Pertamax penuh.” Sekarang jawabannya mulai filosofis dan diplomatis: “Lima belas ribu dulu, Mas.”
Kenaikan harga Pertamax minggu ini memang membuat banyak orang terkejut. Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau melonjak sekitar 32 persen. Ini merupakan rekor kenaikan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Yang menarik bagi Sebagian besar keluarga Indonesia saat ini, Pertamax bukan lagi sekadar BBM yang harus diisi. Tapi sudah menjadi simbol sosial ekonomi.
Kalau Pertalite identik dengan rakyat kebanyakan, sedangkan Pertamax identik dengan kelompok yang sedikit lebih mapan atau biasa disebut kelas menengah, maka perubahan harga Pertamax sering kali menjadi indikator psikologis kondisi kelas menengah Indonesia.
Ketika harga Pertamax naik, yang bergetar bukan hanya jarum bensin, tetapi juga perasaan kelas menengah. Kelas Menengah itu dilematis: kaya tidak, miskin juga belum.
Masalahnya, menjadi kelas menengah di Indonesia bukan perkara mudah. Mereka bukan penerima bantuan sosial. Mereka juga bukan konglomerat yang bisa memindahkan uang ke Singapura sambil menikmati kopi Rp300 ribuan secangkir.
Kelas Menengah ada di Wilayah Abu-Abu
Bukan hanya anak SMA yang identik dengan seragam putih abu-abu, tapi kelas menengah juga. Gaji mereka cukup untuk mencicil rumah, kendaraan, sekolah anak, dan sesekali liburan. Tetapi satu kenaikan biaya hidup saja bisa membuat neraca keuangan keluarga langsung merah.
Data BPS menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia terus menyusut. Dari sekitar 57,3 juta orang pada 2019 turun menjadi sekitar 47,9 juta orang pada 2024. Pada 2025 jumlahnya kembali turun menjadi sekitar 46,7 juta orang. Artinya, jutaan orang mengalami penurunan status ekonomi atau setidaknya semakin rentan turun kelas.
Ironisnya, kelompok inilah yang selama ini menjadi mesin konsumsi nasional. Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54 persen terhadap perekonomian Indonesia. Ketika kelas menengah melemah, mesin pertumbuhan ekonomi ikut kehilangan tenaga. Karena itu, ketika harga Pertamax naik, ekonom mungkin melihat angka inflasi. Tetapi kelas menengah melihat sesuatu yang berbeda.Mereka melihat tagihan.
Pertamax dan Kalkulator Keluarga
Mari kita hitung sederhana. Seorang pekerja yang menggunakan mobil dengan konsumsi 150-liter Pertamax per bulan sebelumnya mengeluarkan biaya sekitar Rp1,85 juta.Dengan harga baru, pengeluarannya menjadi sekitar Rp2,44 juta.
Ada tambahan hampir Rp600 ribu per bulan. Bagi sebagian orang mungkin tidak besar. Tetapi bagi keluarga kelas menengah, Rp600 ribu bisa berarti: uang les anak; cicilan internet; tagihan listrik; atau dua kali makan keluarga di akhir pekan.
Maka jangan heran jika setelah harga Pertamax naik, banyak keluarga langsung mengadakan rapat kabinet kecil-kecilan di meja makan. Agenda tunggal: “Pengeluaran apa yang harus dikurangi bulan ini?”
Biasanya yang pertama dikorbankan adalah hiburan. Yang kedua adalah nongkrong di café, yang ketiga adalah cita-cita membeli gadget baru dan yang terakhir baru bensin. Karena tanpa bensin, tidak bisa bekerja.
Di media sosial mulai bermunculan lelucon. “Dulu Pertamax, sekarang Pertalite.” “Dulu full tank, sekarang full doa.” “Dulu isi sampai klik, sekarang sampai ikhlas.” Memang bercanda. Tetapi seperti semua humor yang baik, ada kebenaran di dalamnya.
Kenaikan harga Pertamax mengingatkan kita bahwa, banyak kelas menengah sangat dekat dengan batas kerentanannya. Secara statistik mereka bukan miskin, tetapi secara psikologis mereka sering merasa tidak aman.
Mereka mampu membayar pajak, membayar BPJS, membayar cicilan, membayar sekolah, membayar segala macam biaya yang terus naik lebih cepat dibandingkan kenaikan pendapatan.
Akibatnya, banyak orang merasa bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan posisi yang sama, seperti berlari di treadmill, berkeringat banyak. Tetapi tidak maju-maju.
Pemerintah menyatakan dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas karena penggunaannya tidak dominan pada transportasi umum dan hanya sekitar 7 persen dari total penjualan BBM domestik.
Secara makro, argumentasi itu masuk akal. Namun secara sosial, cerita berbeda. Pertamax adalah alarm. Ia memberi sinyal bahwa biaya hidup sedang bergerak naik. Ketika bensin naik, masyarakat mulai khawatir harga lain akan mengikuti.
Kenaikan biaya transportasi, logistik, makanan, pendidikan dan sebagainya tidak bisa dihindari. Kadang yang lebih mahal dari kenaikan harga itu sendiri adalah kecemasan yang ditimbulkannya.
Kelas Menengah Butuh Harapan dan Aksi Nyata
Dalam banyak negara, kelas menengah adalah fondasi stabilitas ekonomi dan demokrasi. Mereka bekerja, membayar pajak, berinvestasi, dan mendidik generasi berikutnya. Karena itu, menjaga kelas menengah bukan sekadar urusan ekonomi. Ini urusan masa depan ekonomi sebuah negara.
Indonesia saat ini memiliki sekitar 188,7 juta penduduk yang termasuk kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah atau sekitar 66,99% dari total penduduk. Mereka adalah mayoritas masyarakat Indonesia.
Jika kelompok ini optimistis, ekonomi bergerak. Tapi jika kelompok ini pesimistis, konsumsi tertahan. Jika kelompok ini turun kelas, pertumbuhan ikut melambat. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya stabilisasi harga BBM.
Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan lapangan kerja berkualitas, menjaga daya beli, meningkatkan produktivitas, dan memastikan pendapatan masyarakat tumbuh lebih cepat daripada biaya hidup.
Pada akhirnya, kisah Pertamax bukan semata tentang bensin. Ia adalah cerita tentang kelas menengah Indonesia.
Tentang jutaan orang yang setiap pagi berangkat bekerja, membayar cicilan tepat waktu, menyisihkan uang pendidikan anak, dan tetap berusaha tersenyum ketika harga-harga naik.
Mereka bukan kelompok paling miskin. Tetapi juga bukan yang paling kaya. Mereka adalah para pejuang spreadsheet keluarga. Para ahli strategi pengeluaran bulanan. Para juara bertahan hidup yang setiap akhir bulan mampu melakukan keajaiban akuntansi.
Dan mungkin itulah definisi paling tepat kelas menengah Indonesia hari ini Kelompok yang masih mampu membeli Pertamax, tetapi kini harus menghitungnya dengan kalkulator, disitulah seni kelas menengah untuk mampu bertahan hidup.
HANDI RISZA
Ketua Bidang Ekuin DPP PKS

Komentar