Kolom
Beranda » Dibalik Sengkarut Pengalihan Isu

Dibalik Sengkarut Pengalihan Isu

Sering kali kita mengira pengalihan isu hanya taktik politik biasa untuk menyelamatkan muka pihak tertentu. Ternyata, dampaknya jauh lebih sistemik: merusak cara berpikir masyarakat secara massal.

Ketika strategi seperti defleksi, framing, ad hominem, dan red herring dipakai terus-menerus, mereka menciptakan Information Distance (Jarak Informasi) yang sengaja dikaburkan. Bagaimana strategi ini bekerja membajak otak kita?

Memperlebar Information Distance (Menjauhkan dari Realitas): Strategi pengalihan isu bekerja dengan cara melempar bola informasi yang jarak konteksnya sangat jauh dari masalah riil yang sedang dihadapi masyarakat. Kita dipaksa menghabiskan energi untuk meributkan hal-hal abstrak atau sensasional di media sosial, sementara masalah nyata seperti harga pangan, ruang hidup, atau kebijakan hukum yang berdampak langsung pada dompet dan dapur kita justru terasa “jauh” dan terlupakan.

Otak Kita Dibuat Lelah (Cognitive Overload): Ketika ruang publik dibanjiri gosip dan drama dengan jarak informasi yang acak-acakan ini, energi otak kita habis untuk memilah mana yang penting dan mana yang tidak. Begitu dihadapkan pada masalah kebijakan negara yang rumit, kita sudah malas berpikir. Akhirnya kita cuma ikut-ikutan opini yang paling viral.

Nalar Kritis Ditumpulkan oleh Emosi: Strategi menyerang pribadi (ad hominem) membuat kita gampang marah. Kita dilatih untuk merespons sesuatu menggunakan emosi instan, bukan logika analitis. Kita jadi lebih fokus pada “siapa yang bicara” daripada menjembatani jarak informasi untuk mencari tahu “apa fakta yang sebenarnya terjadi”.

Kita Dijadikan Bangsa Pelupa: Siklus pengalihan isu yang cepat membuat ingatan kolektif kita memendek. Masalah korupsi yang harusnya dikawal berbulan-bulan, bisa dilupakan hanya dalam hitungan hari karena ada “hiburan baru” yang sengaja dilempar untuk mendistorsi fokus kita.

Ujung-ujungnya, masyarakat bisa sampai pada tahap learned helplessness, rasa putus asa dan apatis. Muncul pikiran, “Ah sudahlah, paling ini pengalihan isu lagi.” Di titik inilah masyarakat menjadi paling mudah disetir karena sudah kehilangan kompas untuk mengukur kedekatan dan kebenaran sebuah informasi.

Yuk, mulai sekarang kita persempit lagi jarak informasi kita. Tarik fokus kita kembali ke hal-hal nyata yang berdampak langsung pada kehidupan. Jangan biarkan perhatian kita diculik oleh kegaduhan yang sengaja diciptakan untuk menjauhkan kita dari realitas.

Dian Anggraeni Umar

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *