Internasional
Beranda » GCC Harus Melindungi Diri dari Krisis Selat Hormuz Berikutnya

GCC Harus Melindungi Diri dari Krisis Selat Hormuz Berikutnya

Untuk mewujudkannya, diperlukan tindakan kolektif mulai sekarang.
Oleh : Nikolay Kozhanov dan Şaban Kardaş
Krisis yang dipicu oleh perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memengaruhi negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) pada tingkat yang berbeda-beda.
Oman hampir tidak merasakan guncangan karena pelabuhan dan terminalnya tetap beroperasi seperti biasa. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab masih dapat mengalihkan sebagian ekspor minyak mereka melalui terminal di Yanbu dan Fujairah untuk menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz.
Sebaliknya, Kuwait, Bahrain, dan Qatar praktis terputus dari pasar global dan menghadapi ancaman perlambatan ekonomi.
Dalam situasi seperti ini, negara-negara GCC lebih dari sebelumnya perlu menunjukkan persatuan dan menghadapi krisis melalui tindakan bersama. Solidaritas bukan sekadar soal berbuat baik kepada negara tetangga, melainkan membangun mekanisme yang dapat mengurangi dampak ancaman penutupan Selat Hormuz di masa depan.
Hal ini menyangkut kelangsungan gagasan persatuan GCC dan pengaruhnya di tingkat global.
Tindakan Kolektif demi Kepentingan Bersama
Sekalipun pihak-pihak yang berperang mencapai kesepakatan hari ini, negara-negara GCC masih akan menanggung dampak dari hampir tiga bulan penutupan jalur tersebut.
Negara-negara Teluk berisiko kehilangan pelanggan karena dianggap tidak mampu memenuhi kontrak atau dinilai sebagai pemasok yang berisiko tinggi. Hanya upaya bersama yang dapat mencegah kemerosotan lebih lanjut.
Sejauh ini, pendekatan yang berorientasi pada kepentingan nasional lebih dominan dibandingkan kerja sama kolektif. Misalnya, keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC sebagian besar didorong oleh pandangan bahwa krisis Selat Hormuz merupakan peluang untuk merebut pangsa pasar minyak yang lebih besar.
Jika tren respons sepihak terhadap krisis ini berlanjut, konsekuensinya dapat sangat serius bagi seluruh GCC dan bahkan mengancam keberadaan organisasi tersebut. Tanpa mekanisme pembagian beban, negara-negara Teluk akan saling bersaing dalam permainan yang keuntungan satu pihak berarti kerugian pihak lain.
Hal itu akan mengurangi pengaruh GCC sebagai blok regional dan melemahkan kemampuannya memengaruhi pasar energi dunia.
Meski demikian, beberapa bentuk solidaritas telah ditunjukkan dalam pernyataan politik. Dalam pertemuan konsultatif GCC di Jeddah pada 28 April lalu, para pemimpin Teluk berusaha menunjukkan persatuan dan membahas jalan keluar dari krisis.
Namun hingga kini belum terlihat tanda-tanda bahwa pembahasan tersebut telah berkembang menjadi langkah nyata di tingkat kebijakan.
Skema Swap sebagai Instrumen Solidaritas
Penulis mengusulkan penggunaan mekanisme swap energi sebagai salah satu solusi praktis.
Ada tiga jenis swap yang dapat dipertimbangkan:
Swap fisik, yaitu satu pihak mengirim komoditas pengganti atas nama pihak lain.
Swap kontraktual, yaitu pemenuhan kewajiban kontrak melalui pengiriman dari pihak ketiga.
Swap kualitas, yaitu pertukaran jenis minyak atau produk energi yang berbeda agar sesuai dengan kebutuhan kilang atau untuk mengurangi biaya transportasi.
Dengan sistem ini, minyak dari Kuwait, Qatar, atau Bahrain tidak perlu melewati Selat Hormuz. Sebagai gantinya, pembeli dapat menerima minyak yang setara dari terminal di Yanbu, Fujairah, Duqm, Ras Markaz, Sohar, Qalhat, Singapura, India, Korea Selatan, Jepang, atau Eropa.
Penyelesaian transaksi dilakukan kemudian melalui pengiriman di masa depan, kompensasi tunai, pertukaran produk, atau biaya tertentu yang disepakati.
Swap tidak mengharuskan komoditas yang terjebak segera dipindahkan. Yang dibutuhkan hanyalah kepemilikan yang jelas, penilaian nilai yang transparan, dan sistem pencatatan yang memungkinkan komoditas pengganti dikirim kepada pengguna akhir.
Karena itu, sistem swap yang kuat pada dasarnya menyerupai sistem kliring (clearing system).
Pengalaman yang Sudah Ada
Mekanisme seperti ini sebenarnya bukan hal baru bagi negara-negara GCC.
Pada tahun 2013, ketika Mesir gagal memenuhi kewajiban kontrak gasnya, Qatar setuju mengekspor gas alam cair (LNG) miliknya langsung kepada pelanggan yang seharusnya dilayani Mesir, sementara Mesir menggunakan pasokan gasnya untuk kebutuhan domestik.
Pada tahun 2021, Emirates National Oil Company memenangkan tender untuk menukar 84.000 ton minyak bakar Irak dengan produk minyak yang akan dipasok ke Lebanon.
Pada tahun 2024, perusahaan milik negara Oman LNG menjalankan sekitar dua tender swap setiap bulan. Kargo LNG dari Amerika Serikat dikirim ke Spanyol, sementara Oman LNG memasok pelanggan mereka di Asia.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa negara-negara Teluk dan perusahaan energi nasional mereka memiliki keahlian yang cukup untuk melaksanakan swap di dalam kawasan GCC.
Membangun “Asuransi” untuk Masa Depan
Cara paling praktis untuk menerapkan gagasan ini adalah dengan membentuk fasilitas swap energi melalui mekanisme kliring terkoordinasi yang melibatkan perusahaan minyak nasional, kilang regional, perusahaan perdagangan energi, perusahaan asuransi, bank, serta pembeli utama di Asia dan Eropa.
Fungsinya adalah mencocokkan kontrak yang terhambat akibat krisis dengan alternatif pengiriman yang tersedia, lalu menyelesaikan perhitungan nilainya di kemudian hari.
Tentu saja, penerapan sistem seperti ini membutuhkan kemauan politik yang kuat, tingkat kepercayaan yang tinggi, dan komitmen bersama.
Dalam jangka pendek, Arab Saudi, Oman, dan Uni Emirat Arab harus bersedia mengorbankan sebagian pendapatan dan pangsa pasar mereka demi membantu Qatar, Bahrain, dan Kuwait melalui penggunaan kapasitas ekspor, penyimpanan, atau transportasi yang mereka miliki.
Namun dalam jangka panjang, semua pihak akan memperoleh manfaat.
Penulis menilai Arab Saudi memiliki peran paling penting karena memiliki kapasitas terbesar untuk menghindari Selat Hormuz dan menyediakan pasokan minyak pengganti. Reputasi pelanggan yang kuat, infrastruktur ekspor Laut Merah, serta kemampuan perdagangan minyak Saudi Aramco menjadikannya pilar utama sistem swap di masa depan.
Uni Emirat Arab juga dapat memainkan peran penting melalui kapasitas ekspornya di Fujairah, sementara Oman dapat memanfaatkan fasilitas penyimpanan minyak di Ras Markaz, kapasitas kilang di Duqm, pengalaman LNG, dan pelabuhan-pelabuhannya yang tidak memerlukan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Memperkuat Persatuan GCC
Jika skema swap ini diterapkan, persatuan GCC akan semakin kuat dan negara-negara anggotanya dapat menghindari persaingan ekonomi internal yang merugikan.
Yang lebih penting, langkah tersebut dapat menjadi awal pembangunan infrastruktur regional yang lebih besar untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz dan mengurangi nilai strategisnya sebagai alat tekanan geopolitik.
Apabila tersedia mekanisme swap yang berfungsi baik dan dapat diaktifkan setiap kali muncul ancaman penutupan selat, para pelanggan internasional akan lebih yakin untuk terus berbisnis dengan seluruh pemasok energi dari kawasan Teluk.
Dalam jangka panjang, mekanisme tersebut dapat menjadi “polis asuransi” GCC terhadap gejolak geopolitik baru di kawasan. (Al Jazeera)
Nikolay Kozhanov adalah profesor riset asosiasi di Gulf Studies Center, Qatar University.
Dr. Şaban Kardaş adalah profesor riset dan koordinator program di Gulf Studies Center, Qatar University. Ia telah menerbitkan berbagai buku, artikel, dan bab buku mengenai kebijakan dalam negeri dan luar negeri Turki, kebijakan energi dan keamanan internasional, serta isu-isu keamanan regional di Timur Tengah dan kawasan Teluk. Ia juga sesekali menjadi kontributor bagi berbagai media internasional

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *