Sosok
Beranda » Memanfaatkan Setiap Titik Interaksi Menjadi Rekrutmen Tarbawi

Memanfaatkan Setiap Titik Interaksi Menjadi Rekrutmen Tarbawi

Beberapa hari yang lalu saya hadir di acara bedah buku “Boleh Lelah Pantang Menyerah” karya Pak Wardoyo, Yogyakarta. Penulis buku bercerita pengalaman sebagai seseorang yang ditakdirkan harus selalu cuci darah.
Dalam acara tersebut hadir pula istrinya, Hajar Ratnaningtyas. Seorang umahat yang sangat familiar meskipun lama kami tidak saling berjumpa. Saya salut akan kesabaran dan ketegaran beliau.
Saya mengenal Bu Hajar sudah sejak tiga dasawarsa yang lalu. Sejak beliau lulus dari sebuah SMPN Yogyakarta. Saat itu saya mahasiswa semester empat di sebuah unversitas negeri. Dik Hajar, panggilan sayang saya kepada beliau saat itu. Beliau masih sangat imut.
Bertemu dengan Dik Hajar adalah kebahagiaan sendiri bagi saya. Ada goresan kenangan yang indah tentang tarbiyah bersamanya.
Dik Hajar adalah teman SMP adik saya, Diah. Saat itu Diah mengalami kecelakaan hingga harus istirahat di rumah. Untuk sekian lama ia tidak bisa berjalan.
Hampir setiap hari teman-temannya silih berganti mengunjungi. Terkadang juga ramai-ramai. Liburan panjang kelulusan SMP membuat mereka memiliki waktu luang sembari menunggu pendaftaran SMA.
Kami sering berjumpa, kami sering berdiskusi tentang apa pun. Tentang jilbab yang saya kenakan (maklum ketika itu belum banyak pemakai jilbab termasuk mereka), tentang keislaman, tentang isi majalah Islam Anida, Ummi dan Sabili yang selalu saya tumpuk di meja tamu dan menjadi santapan teman-teman adik saya.
Sesekali mereka meminjam untuk dibawa pulang. Saat itu saya memang menjadi agen majalah-majalah Islam. Hal itu membuat saya lebih dekat dan akrab dengan teman-teman adik saya.
Hingga saya melihat peluang itu. Peluang untuk menebar kebaikan yang berkelanjutan. Gadis-gadis kecil polos yang mata mereka selalu berbinar setiap mendapatkan pencerahan.
Saya manfaatkan kedekatan interaksi ini sebagai cara memengaruhi. Mengajak mereka melakukan pembinaan diri. Dan alhamdulillah, berhasil.
Kami kemudian memulai forum pekanan. Ini adalah pengalaman pertama saya memberanikan diri membina kelompok halaqah.
Sebenarnya saya adalah seorang yang awam masalah agama. Sejak TK hingga Perguruan tinggi saya belajar di sekolah negeri dan belajar ilmu umum. Bagaimana mungkin bisa dijadikan rujukan untuk bertanya tentang agama meskipun sekedar di kelompok kecil saya?
Hal ini membuat saya semangat untuk terus belajar. Jika saat pagi saya kuliah, sore harinya saya belajar Diniyah di sebuah pondok pesantren. Saya juga belajar di sebuah ma’had baru di kampus. Saya mengambil jurusan Lughah Arabiyah dengan semangat agar saya lebih paham tentang Al-Qur’an.
Tak lupa saya pun sering berkonsultasi dengan murabbi saya di kampus. Lebih intensif lebih sungguh-sungguh. Semakin saya belajar ilmu agama ternyata semakin membahagiakan.
Lingkaran kecil itu terus menyala semangatnya. Sepekan sekali di mushalla rumah kami mulai ada warna baru. Adik-adik itu satu persatu mulai mengenakan jilbab untuk menutup aurat.
Saya dengan sukarela mengambil setumpuk baju panjang dan jilbab dari lemari yang mungkin bisa mereka pakai bagi mereka yang pemula dan belum banyak memiliki baju panjang.
Ada salah seorang dari mereka yang menyampaikan baru akan berjilbab nanti kalau sudah kuliah. Sekarang mungkin belum dulu. Saya tidak ingin menghakimi. Biarkan saja. Toh semua butuh proses.
Akan tetapi pendapat itu runtuh dengan sendirinya melihat teman-temannya sudah mulai rapi berjilbab. Akhirnya mereka bertujuh semua menutup aurat dengan sempurna. Tak terkecuali Dik Hajar.
Ada kebahagian membuncah dalam dada saya. Sekelompok siswa SMPN kini bertransformasi menjadi akhwat salihah.
Mereka masing-masing akhirnya diterima di SMA yang berbeda-beda. Akan tetapi silaturahim tetap terjalin begitu indah di acara pekanan kami.
Hal yang saya ingat juga dari Dik Hajar adalah ketika kami mengadakan acara mabit. Dik Hajar dengan wajah sedihnya menyampaikan kalau beliau tidak diizinkan oleh ibundanya.
Saya datang bersilaturahmi ke rumah ibunya di Krapyak. Saya menjelaskan agenda kegiatan kami pada acara mabit.
Alhamdulillah akhirnya ibunda mengijinkan beliau ikut acara kami sehingga tidak satupun tertinggal.
Halaqah tersebut adalah kelompok pertama yang saya ampu saat saya memberanikan diri untuk membina. Dan ternyata…
Saya mendapatkan banyak kebaikan dengan memiliki binaan.
Ratna Kushardjanti (Yogyakarta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *