Dunia Islam
Beranda » Shalat, Bukan Aktivitas Komat-Kamit Bibir, tapi Meditasi Menuju Ketenangan Jiwa

Shalat, Bukan Aktivitas Komat-Kamit Bibir, tapi Meditasi Menuju Ketenangan Jiwa

Salah satu musuh utama manusia modern, kata M. Natsir, adalah stres: “Tekanan atas jiwa dan perasaan dalam kehidupan sehari-hari, yang bersifat serba teknis, dan serba berlomba, berkejar-kejaran, berebut hidup ini.”
Materialisme, katanya, turut berperan menciptakan kondisi itu: fitrah manusia disingkirkan, manusia hanya dianggap sebagai sekerup-sekerup mesin produksi dan dinilai hanya dengan ukuran ‘manhours’ .
Pikiran kita dibentuk untuk mengukur kemuliaan dan kesuksesan hanya berdasarkan aspek materi; jiwa dan fisik kita disibukkan dengannya. Kita dibuat lupa kalau kekayaan tidak sama dengan kepuasan.
Natsir tegaskan, Islam tidak melarang umatnya untuk mengejar dunia, menjadi kaya bahkan bertahta. Islam hanya mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan utama sehingga jiwa tidak perlu lupa bagaimana caranya tenang dan bahagia.
Bagi Natsir, meditasi terbaik untuk mengobati stres sehingga tenang, adalah shalat. Bukan shalat sebagai aktivitas komat-kamit bibir atau melenyapkan murka Tuhan semata, tapi sebagai ibadah penuh penyerahan diri kepada-Nya sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad
Kata Natsir:
“Sembahyang dalam Islam… adalah suatu tempat berlindung yang tak mengecewakan bagi seorang Islam, yaitu suatu keadaan tempat ia lebih banyak dapat mengumpulkan tenaga sesudah keributan dan kegelisahan hidup sehari-hari sehingga ia lebih tabah untuk meneruskan perjuangan hidup selanjutnya.
Agar arti dan tujuan shalat itu mencapai maksud yang sesungguhnya, haruslah dijaga supaya shalat jangan berubah hanya jadi komat-kamit bibir yang hakikatnya tidak lebih dari bisikan hampa serta gerakan tubuh yang tiada berarti…
Mereka yang pernah merasa gelisah dan sedih sesudah mendapat pukulan-pukulan yang melumpuhkan, yang ditimbulkan oleh kehidupan sehari-hari, akan merasakan sendiri betapa kesegaran jiwa yang diperoleh dengan penyerahan diri sepenuhnya dengan bacaan pengaduan dan penghargaan yang diucapkan dalam shalat itu; dan akan dialami sendiri pula betapa besarnya tenaga dan energi yang diberikan oleh kesadaran yang mendalam akan kemahakuasaan dan kepemurahan-Nja yang tidak terbatas itu…
Pengalaman itu akan memberikan bukti yang nyata… shalat adalah santapan ruhani utuk memelihara dan memperkembangkan jiwa yang tidak mungkin ditinggalkan…
Shalat seperti yang diwajibkan oleh Islam kepada kita, bukanlah alat untuk melenyapkan kemurkaan seorang dewa yang sedang mengamuk atau murka dan bukan pula untuk membeli kesenangan hatinya seperti maksud sembahyang dalam kebanyakan agama yang lain-lain, tapi shalat dalam Islam itu adalah untuk mengangkat derajat jiwa dan mempertinggi susila dari mengerjakan shalat itu sendiri.”
Ketenangan dan kebahagiaan yang diraih melalui ibadah yang Islam hadirkan, bagi Natsir, hakiki dan tidak semu. Kuncinya, ada pada kondisi “ihsan”, ketika seseorang, lewat ibadahnya, mampu menumbuhkan pandangan bahwa ia seakan-akan tengah melihat Allah atau ia selalu merasa diawasi oleh Allah.
Berdasarkan pengalamannya dan keyakinannya akan firman Allah (QS. Thaha: 124 dan Al-Ra’d: 28), Natsir percaya:
“Kemampuan untuk senantiasa merasakan dan menyadari akan kehadiran Ilahy, sebagai buah hasil dari ibadah kita sebagai mu’minin, mempunyai satu peranan yang lebih lagi daripada memulihkan keseimbangan (quilibrium) dan memelihara ketentraman dan kesegaran jiwa dalam satu dunia yang sedang bergelora, sibuk dengan action dan counter-action ini. Yaitu: menumbuhkan apa yang dinamakan hati nurani yang hidup… Hati nurani yang merupakan kekuatan untuk mengendalikan pemikiran dan tingkah laku kita, ringkasnya membina watak dan karakter, yang tak mudah terumbang-ambing”
Maka, lanjut Natsir, jangan jadikan rumah kosong dari suara azan dan qamat, sepi dari tadarrus Al-Quran, bisikan tasbih, dzikir, dan tahmid, hampa dari suara hati orang yang munajat kepada Ilahy.
Mewah-sederhananya rumah dan banyak-sedikitnya harta, memang membahagikan. Tapi, bagi Natsir, “Kebahagiaan hidup orang beriman itu mempunyai dimensinya sendiri, di luar dimensi yang tiga, yang dikenal dalam alam physical itu.” Faktor utama untuk meraihnya, adalah iman.
“Banyak orang yang pandai berlayar di laut tengah… Tapi, peganglah teguh kembali bahteramu bila nanti berada di tengah-tengah arus—menipu, bersimpang siur agar jangan sampai terseret hanyut, berangsur-angsur, tanpa disadari…
Maka iman yang disuburi oleh ibadah itulah jua yang akan jadi sauh tempat menambatkan perahu hidupmu, bila gelombang dan badai datang menipu. ‘Carilah perlindungan dalam ketabahan hati, dan ibadah shalat’ (Al-Baqarah 45),” tutur Natsir.
📚 Sumber:
1. M. Natsir, Ibadah Memberi Theraphy Terhadap Tekanan Jiwa (Majalah Suara Masjid, No. 135, 1985)
2. M. Natsir, Dari Masa Ke Masa, Jilid 2B, 1977
3. M. Natsir, Marilah Shalat, 1999
4. M. Natsir, Fiqhud Da’wah, 2000
5. M. Natsir, Iman Sumber Kekuatan Lahir dan Batin, 1974

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *