“The story of the night has been sirens and missiles, missiles and sirens, launched at central Israel and northern Israel as well. And a reminder that whenever these sirens go off, Israelis are expected to run either to a safe room or to a shelter. That’s the strategy that Iran has really – to give Israelis no rest.”
(Kisah malam ini adalah sirine dan rudal, rudal dan sirine, diluncurkan ke Israel tengah dan juga Israel utara. Dan sebagai pengingat bahwa setiap kali sirine ini berbunyi, warga Israel diharapkan berlari ke ruang aman atau ke tempat perlindungan. Itulah strategi yang sebenarnya dimiliki Iran – untuk memberikan Israel tanpa istirahat.”
Rory Challands, koresponden Al Jazeera di Amman, Yordania, melaporkan pengalaman mencekam pada 11 Maret 2026. Dari lokasinya yang hanya berbatasan dengan Israel, ia mendengar suara sirine dan rudal silih berganti sepanjang malam, diluncurkan ke Israel tengah dan utara.
“Setiap kali sirine ini berbunyi, warga Israel diharapkan berlari ke ruang aman atau ke tempat perlindungan,” kata dia. “Itulah strategi yang sebenarnya dimiliki Iran untuk memberikan Israel tanpa istirahat,” lanjut Challands.
Sekilas, di permukaan, ini adalah laporan tentang serangan rudal. Namun jika dibaca lebih dalam, ia mengungkap ‘strategi perang’ yang dirancang untuk menggerogoti lawan dari dalam, tanpa harus menang di medan tempur konvensional. Iran tidak sedang mencoba mengalahkan Israel secara militer. Iran sebaliknya sedang mencoba membuat Israel ‘lelah secara psikologis dan ekonomi.’
Dalam konteks yang lebih luas, Ambassador Patrick Theros dalam analisisnya “The Gulf Shock” di Gulf International Forum (10 Maret 2026) menegaskan bahwa konsekuensi terbesar perang ini tidak akan terjadi di medan perang, tetapi di ekonomi global dan sistem aliansi Barat.
Apa yang dimulai sebagai ‘serangan pemenggalan’ (decapitation strike) untuk meruntuhkan rezim Iran justru memicu krisis berantai, yakni terganggunya ekspor energi Teluk, tekanan pada pasar energi global, ancaman eksistensial bagi negara-negara GCC, dan peluang strategis baru bagi Rusia.
Strategi Iran untuk “tidak memberikan Israel waktu istirahat” adalah bentuk perang atrisi psikologis yang cerdas. Tujuannya adalah menguras habis kekuatan lawan secara bertahap—baik personel, peralatan, moral, maupun sumber daya ekonomi—sehingga lawan akhirnya tidak mampu melanjutkan perlawanan.
Untuk itu, Iran tidak harus menghancurkan kota-kota Israel; ia cukup membuat sirene berbunyi berulang kali, memaksa warga berlari ke tempat perlindungan, mengganggu ekonomi, dan menghilangkan rasa aman.
Ini adalah logika yang sama dengan ladang ranjau dalam analisis Greer dan Bartholomew dalam “The Psychology of Mine Warfare” (U.S. Naval Institute Proceedings, Februari 1986) bahwa “senjata bekerja lebih pada pikiran daripada pada sasaran fisik.” Ketika militer Israel mengklaim semua rudal berhasil dicegat, mereka secara tidak sadar mengakui bahwa serangan itu tetap berhasil—dalam bentuk gangguan psikologis. Challands mencatat bahwa Israel berusaha membendung informasi dengan melarang wartawan mendekati lokasi serangan, tetapi dalam era media sosial, upaya ini sering sia-sia.
Strategi ini juga mengungkap ‘keterbatasan Iran’ sekaligus menunjukkan kelemahan strategis AS. Theros menulis bahwa tidak ada kejelasan strategis dari Washington tentang mengapa perang ini harus terjadi. Trump awalnya mengklaim Iran hampir membuat bom nuklir, kemudian bergeser ke rudal balistik antarbenua, lalu ke infrastruktur produksi rudal.
Pergeseran tujuan ini mencerminkan improvisasi kebijakan, bukan strategi koheren. Asumsi bahwa ‘serangan pemenggalan’ akan memicu keruntuhan cepat terbukti keliru. Iran tidak menyerah, justru membalas dengan menyerang negara-negara GCC, Irak, Azerbaijan, dan Turki. Perang yang diluncurkan dengan harapan kemenangan cepat kini berubah menjadi “pengar” di sekitar pergelangan kaki Washington, seperti dikatakan Theros.
Strategi Iran telah menciptakan guncangan energi yang mengubah peta kekuatan global. Sekitar 20 juta barel minyak per hari yang melewati Selat Hormuz terhenti. Ekspor LNG Qatar—seperlima perdagangan global—juga berhenti. Theros memperingatkan bahwa AS tidak bisa menggantikan volume sebesar itu; ekspor minyak AS hanya 4,4 juta barel per hari.
Dampaknya paling berat dirasakan sekutu-sekutu AS seperti India, China, Jepang, dan Korea Selatan. Negara-negara GCC menghadapi ancaman eksistensial karena pendapatan hidrokarbon adalah fondasi anggaran mereka.
Pendapatan hidrokarbon adalah pendapatan negara yang berasal dari eksploitasi dan penjualan sumber daya alam berbasis hidrokarbon, yaitu minyak bumi dan gas alam. Bentuknya seperti minyak mentah (crude oil), gas alam (natural gas), produk olahan seperti LPG, bensin, solar, dan avtur, serta kondensat dan produk petrokimia lainnya.
Sementara itu, Rusia menjadi satu-satunya pihak yang diuntungkan. Kenaikan harga minyak memperkuat posisi fiskal Moskow, dan AS bahkan mulai melonggarkan sanksi terhadap kapal-kapal Rusia.
Mengutip The Moscow Times (6 Maret 2026), Amerika Serikat pada hari Kamis (5/3/2026) telah melonggarkan sanksi terhadap Moskow untuk sementara waktu guna memungkinkan minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut dapat dikirim dan dijual ke India. Theros menyimpulkan bahwa perang ini, alih-alih melemahkan Iran, justru mengikis kepemimpinan Amerika.
Kita kembali ke Iran. Sejauh ini, Iran kelihatannya belum bisa mengalahkan Israel secara militer, dalam arti ‘benar-benar melumpuhkan Israel’. Akan tetapi, Iran telah menemukan cara untuk membuat lawannya kelelahan melalui serangan terus-menerus. Sementara itu, AS sialnya terjebak dalam ‘perang tanpa tujuan jelas’ dan sekutu-sekutunya pun ikutan terbakar gara-gara perang tersebut.
Yanuardi Syukur. Dosen Antropologi Universitas Khairun

Komentar