ELITE politik lintas partai politik yang sangat dekat Presiden Prabowo Subianto mulai menyatakan dukungan kepada Presiden Prabowo periode kedua. Tak tanggung-tanggung, mereka menebar pernyataan itu di berbagai forum dan momentum. Elite atau politisi PKB, PAN, Demokrat dan Golkar telah menyatakan dengan tegas. Tapi judulnya cukup unik: “Dukung Presiden Prabowo untuk Periode Kedua 2029-2034”.
Pertanyaan sederhana pun muncul, pertama, mengapa mesti disampaikan sekarang? Pernyataan dukungan pada Prabowo untuk periode kedua merupakan hak elite dan partai politik. Mereka memiliki kalkulasi dan tujuan tertentu saat menyatakan dukungan, terutama pada momentum forum nasional partai. Hal ini punya dampak tertentu karena angka dukungan publik kepada Prabowo masih tinggi. Sangat mungkin disampaikan untuk pencitraan di media. Dan itu hal yang biasa saja.
Kedua, mengapa tidak langsung dengan paket Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka (Prabowo – Gibran)? Itulah seni dan serunya politik. Menyatakan dukungan pada Prabowo bukan berarti tidak mendukung Gibran periode ini. Bila pun kelak tak mendukung Gibran lagi di periode yang kedua, itu hak partai politik. Karena setiap partai politik ingin memajukan tokohnya, bahan bisa berdampingan dengan Prabowo di Pilpres 2029. Itulah politik, tak ada yang salah secara hukum dan etika politik.
Ketiga, ada apa dengan elite di lingkaran Prabowo? Sederhana saja sekaligus sebagai penegas, PKB punya Muhaimin Iskandar, PAN punya Zulkifli Hasan, Demokrat punya AHY, dan Golkar punya Bahlil dan banyak tokoh lainnya. Menyatakan dukungan pada Prabowo tanpa menyebut Gibran itu pertanda partai politik menghargai tokohnya. Justru ini momentum bagi partai yang akrab dengan Gibran seperti PSI untuk lebih aktif menjagokan Gibran. Ini hal biasa saja. Jadi, bila Gibran tak disebut, biasa saja.
Lalu, muncul analisa berbagai kalangan, baik di layar TV maupun media online seperti YouTube dan artikel atau opini. Pada intinya, menggugat langkah dan wacana elite partai politik di lingkaran istana yang begitu terbuka menyatakan mendukung Prabowo untuk maju di periode kedua, tapi tanpa nama Gibran. Langkah semacam itu dianggap terlalu dini dan nihil etika politik. Bahkan dianggap sebagai pembangkangan terhadap koalisi Prabowo – Gibran.
Jauh sebelum PKB, PAN, Demokrat dan Golkar menyatakan dukungan untuk Prabowo maju di periode kedua, sebetulnya Gerindra sudah menyatakan hal yang sama. Bahkan pada beberapa forum nasional internal Gerindra juga kembali menegaskan dukungan untuk Prabowo. Lagi-lagi, sebagai partai politik yang menang Pilpres, Gerindra wajar menyampaikan hal semacam itu. Selain sebagai Pendiri dan Ketua Dewan Pembina, Prabowo juga merupakan Ketua Umum Gerindra.
Bagi saya, bila kelak Prabowo – Gibran benar-benar berpisah atau pecah kongsi di Pilpres 2029, itu berarti politik bangsa ini semakin cair. Bila dianggap menikung dan menelikung, itu wajar juga. Karena politik Indonesia era reformasi selalu memperlihatkan politik saling menikung dan menelikung. Habis manis sepah dibuang adalah warna sekaligus selera politik selama ini. Bahkan saling sikat dan sikut memang perlu dipelihara. Itu juga sudah terjadi di era Orde Lama dan Orde Baru.
Menari di atas peluang, menepi di pinggir dan “skak ster” sejak detik awal hingga sistem politik berakhir, itu fenomena yang kerap kita saksikan di panggung politik bangsa ini. Politik saling tikam pun perlu, biar rakyat bisa menonton dengan riang sambil sorak sorai dan bertepuk tangan. Memperkosa konstitusi, menabrak Undang-Undang dan menjalankan praktik politik uang adalah tontonan gratis selama ini. Menebar janji palsu demi kekuasaan juga sudah jadi budaya politik di setiap lini.
Etika politik, politik santun dan berbagai ajaran suci berpolitik hanyalah narasi akademik yang tertulis di diktat-diktat yang dipampang di perpustakaan perguruan tinggi. UU politik, partai politik dan serupanya memang disusun dalam rangka saling intip kepentingan jangka pendek dan untung-rugi. Dalam politik, semua cara dijalani untuk menggapai tujuan politik. Menyudahi Prabowo – Gibran di periode kedua juga adalah cara untuk menggapai tujuan politik tertentu.
Aktivitas penggalangan pasangan calon untuk maju di Pilpres 2029 adalah hal yang wajar. Politik Indonesia sangat cair. Bisa berubah kapan pun. Prabowo bisa jadi tak bersama Gibran lagi di 2029. Bisa jadi Prabowo memilih wakil dari PKB, PAN, Demokrat, Golkar, PKS, PDIP, Nasdem, Gelora, PPP, Gerakan Rakyat, Perubahan Baru dan Gema Bangsa, atau non partai politik. Bagi rakyat, terserah elite saja. Rakyat tetap berpeluh keringat di sawah, kebun dan pasar, atau dorong gerobak berjualan keliling di gang-gang sempit. (*)
Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh

Komentar