Kolom
Beranda » Di Balik 2.500 Serangan: Iran Melemah atau Menguat?

Di Balik 2.500 Serangan: Iran Melemah atau Menguat?

Pernyataan Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini memberi penegasan bahwa klaim Presiden Trump tentang melemahnya serangan Iran adalah kebohongan.

Menurut Naeni, rudal Iran justru semakin kuat dan ukurannya membesar dibandingkan hari-hari awal perang pada Sabtu (28/2/2026). Di tengah konflik yang terus berkecamuk, pertarungan narasi ini menjadi sama pentingnya dengan pertempuran di medan fisik.

Berbicara kepada kantor berita Iran, Tasnim, Naeini mengatakan kemampuan rudal Iran tetap utuh dan serangan terus berlanjut dengan jumlah proyektil yang lebih banyak.

“Kami tahu bahwa amunisi kalian hampir habis dan kalian sedang mencari jalan keluar yang terhormat dari perang ini. Mengapa kalian tidak mengatakan yang sebenarnya kepada rakyat Amerika? Trump tidak ingin warga Amerika tahu bahwa seluruh infrastruktur militer AS di kawasan Teluk Persia telah hancur,” kata Mohammad Naeini (Middle East Eye, 10 Maret 2026).

Di New York Times (9 Maret 2026), kita lihat laporan Ephrat Livni rasanya lebih terukur. Berdasarkan rekapitulasi serangan drone dan rudal Iran yang menargetkan sekutu-sekutu Amerika di seluruh Timur Tengah—menggunakan laporan resmi dari militer dan kementerian pertahanan negara-negara yang menjadi sasaran—terungkap bahwa Iran telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone dan 500 rudal balistik sejak konflik dimulai. Angka ini tidak termasuk serangan ke Israel, karena otoritas di sana menolak membagikan rincian.

Data tersebut melukiskan dua sisi mata uang. Di satu sisi, 2.500 serangan dalam waktu singkat menunjukkan bahwa Iran memiliki persediaan amunisi yang sangat besar dan kemampuan logistik yang mumpuni untuk meluncurkan serangan secara berkelanjutan. Ini bukan negara yang bisa diremehkan. Di sisi lain, NYT juga mencatat adanya tanda-tanda bahwa kemampuan Iran mungkin mulai berkurang. Ada celah di sini yang perlu dibaca secara cermat.

Pertanyaannya: apakah ini awal dari kelelahan logistik, atau sekadar fluktuasi taktis dalam strategi perang? Yang pasti, rentetan serangan masih terus berlanjut hingga Selasa dini hari dan itu membuktikan satu hal: “Iran belum kehabisan amunisi.” Namun efektivitas serangan tidak hanya diukur dari kuantitas sebenarnya, tetapi juga dari seberapa banyak yang berhasil menembus pertahanan lawan. Iron Dome milik Israel, Patriot milik AS, dan sistem pertahanan negara-negara Teluk pasti bekerja keras untuk mencegat serangan Iran.

Satu hal yang penting dicermati adalah soal ‘penyembunyian informasi’ Israel kepada publik. artinya, ‘kerahasiaan Israel’, walaupun beberapa fakta kerusakannya dapat kita telusuri di berbagai media, justru menjadi teka-teki tersendiri. Penolakan mereka untuk membagikan data serangan bisa dibaca dalam dua cara. Pertama, mungkin mereka ingin menyembunyikan kelemahan sistem pertahanan udara mereka. Atau sebaliknya, yang kedua, mereka hendak merahasiakan kerusakan yang sebenarnya terjadi. Dalam perang modern, informasi adalah senjata strategis, dan diam kadang lebih kuat daripada bicara. Mungkin itu strategi Israel terkait ‘berbagai informasi’ kepada publik internasional.

Satu hal yang jelas bahwa angka 2.000 drone dan 500 rudal yang telah ditembakkan itu adalah jumlah yang fantastis. Jika sebagian besar mencapai target, kerusakan yang ditimbulkan pasti signifikan. Namun tantangan terbesar Iran bukan pada kemampuan meluncurkan, melainkan pada daya tahan.

Perang telah berlangsung lebih dari seminggu. Apakah Iran mampu mempertahankan serangan tersebut? Jika ya, maka prediksi Trump tentang ‘perang singkat’ (hanya beberapa minggu, tidak sampai 2 bulan) akan meleset. Jika mulai melambat, tanda-tanda penurunan yang disebut NYT akan semakin nyata.

Satu hal yang patut diapresiasi dari laporan NYT di atas adalah metodologinya yang berbasis pada laporan resmi militer negara-negara sasaran. Di tengah banjir propaganda dari kedua belah pihak, data semacam ini menjadi oase kejernihan. Ia tidak terjebak dalam klaim sepihak, tetapi merujuk pada sumber yang dapat diverifikasi.

Eskalasi AS-Israel versus Iran ini menjadi pengingat buat kita semua bahwa stabilitas kawasan Teluk adalah kepentingan bersama yang harus kita perhatikan. Lebih dari 2.000 drone dan 500 rudal yang diluncurkan dalam hitungan hari menunjukkan betapa cepatnya konflik bisa meluas. Dampaknya sudah terasa. Harga minyak mulai bergejolak, inflasi global tertekan, dan pada ekonomi domestik mulai ikut menanggung beban.

Terkait apakah Iran melemah atau menguat, sebenarnya tidak akan terjawab dengan klaim Naeini atau Trump, melainkan oleh data dan fakta di lapangan. Jika telah ada ‘kejenuhan serangan’, bisa jadi tanda-tanda gencatan senjata telah dimulai. Begitu umumnya ‘logika perang’ dalam tradisi manusia. Sejauh ini, 2.500 serangan telah berbicara. Tapi ‘kejenuhan perang’ sepertinya belum terlihat.

Yanuardi Syukur. Dosen Antropologi Universitas Khairun, Alumni Short Course “Foreign Policy: Strategic Equilibrium in the Indo-Pacific” Griffith University, Australia

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *