“Aku tidak senang.” Demikian pernyataan singkat namun bermakna dari Presiden Donald Trump kepada pembawa acara Fox News, Brian Kilmeade, pada 9 Maret 2026, menanggapi terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Kutipan dari New York Times tersebut menegaskan bahwa Trump merasa terusik dengan suksesi kepemimpinan di Tehran yang berlangsung di tengah gempuran militer AS-Israel.
Ketidaksenangan Trump sebenarnya sudah terlihat sebelumnya. Dalam wawancara dengan Axios pada 6 Maret, ia menyebut Mojtaba sebagai “lightweight” atau orang tanpa pengaruh, dan menyatakan bahwa kehadirannya sebagai pemimpin adalah hal yang “tidak dapat diterima.” Bahkan dengan nada provokatif, Trump menuntut keterlibatan AS dalam proses suksesi kepemimpinan Iran, sebagaimana ia klaim pernah dilakukan di Venezuela ketika AS menangkap Nicolás Maduro.
Satu hal menarik, adanya dorongan lebih jauh dari Trump. Dia mengajak Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk secara bersama-sama “mengakhiri Khamenei kecil ini.” Seruan kepada Erdogan untuk membuktikan loyalitas dengan melibatkan diri dalam eliminasi tokoh politik Iran ini menunjukkan bahwa ketidaksenangan Trump bukan sekadar retorika, tetapi telah memasuki ranah operasional. Ini adalah eskalasi berbahaya yang dapat menyeret Turki lebih jauh ke dalam pusaran konflik.
Ketika berbicara kepada ABC News pada 8 Maret, sehari sebelum Mojtaba resmi diumumkan, Trump dengan tegas menyatakan bahwa pemimpin baru Iran “harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama.” Ancaman ini semakin memperjelas bahwa AS di bawah Trump tidak hanya ingin melumpuhkan kemampuan militer Iran, tetapi juga menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh memimpin negara itu. Sebuah klaim yang mengabaikan prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional.
Namun realitas di lapangan tidak selalu sama dengan retorika. Al Jazeera (10 Maret 2026) melaporkan bahwa ratusan ribu warga Iran justru turun ke jalan di Teheran untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Mojtaba. Di tengah bombardir yang menurut laporan ISNA telah menewaskan warga sipil di Arak dan Teheran timur, solidaritas ini dibaca sebagai pesan perlawanan terhadap agresi asing. Rakyat Iran, terlepas dari pro dan kontra terhadap rezim, tetap menunjukkan nasionalisme di saat negara mereka diserang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran bahkan menuduh AS berniat “mempartisi [memecah] negara” dan “mengambil minyak.” Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi meragukan klaim Trump bahwa perang akan segera berakhir, dengan pernyataan bahwa Iran akan terus berperang selama diperlukan. Sikap ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan militer, Tehran tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah.
Ketidaksenangan Trump di atas mencerminkan kegagalannya membaca realitas. Di satu sisi, ia menganggap Mojtaba sebagai figur tanpa pengaruh. Di sisi lain, ia menawarkan imbalan kepada Erdogan untuk menyingkirkannya. Kontradiksi ini memperlihatkan kebingungan di tengah ambisi. Jika Mojtaba benar-benar tidak berpengaruh, mengapa perlu repot-repot mengajak pemimpin negara lain untuk mengeliminasinya? Jika ia adalah “lightweight,” mengapa ancaman dan operasi militer terus digencarkan?
Sementara itu, di lapangan, roket dan drone terus berjatuhan, dan rakyat biasa menjadi korban. Laporan menyebut lebih dari 1.255 orang tewas dan 10.000 terluka sejak perang dimulai. Di balik angka-angka ini ada cerita tentang keluarga yang kehilangan anggota, anak-anak yang menjadi yatim, dan masa depan yang suram. Ketika para pemimpin berbicara tentang strategi dan kepentingan nasional, rakyat jelatalah yang membayar harga tertinggi.
Pada akhirnya, pernyataan “tidak senang” dari Trump tidak akan mengubah fakta bahwa Iran telah memilih pemimpinnya melalui mekanisme Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama senior. Seperti disampaikan analis Mehdi Rahmati, Mojtaba dipilih karena dianggap paling memahami aparat keamanan dan militer di saat krisis. Apakah dunia menyukai pilihan itu atau tidak, proses tersebut tetaplah realitas internal Iran yang sedang dalam ‘mode survival’ menghadapi kekuatan asing yang hendak menaklukkannya.
Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Universitas Khairun

Komentar