Saat ada info kedatangan Anies Baswedan ke Riyadh, berharap bisa bertemu untuk mendengar dan diskusi dengan beliau.
Alhamdulillah, harapan itu terwujud. Pada Kamis, 14 Mei 2026, Pak Anies menjadi pemateri di ruang International Student King Saud University (KSU), dihadiri oleh mahasiswa dan perwakilan WNI.
Acara berlangsung hangat dan diskusi mengalir begitu terasa cepat.
Mengawali pembahasan, Pak Anies memantik dengan kalimat: “Mahasiswa di tanah asing lebih memiliki keterikatan dengan Indonesia.”
Masih kata beliau tentang mahasiswa di perantauan: “Pesawat terbang membawa badan, tapi tidak membawa pikiran.”
Kepada para mahasiswa yang hadir, eks rektor Universitas Paramadina ini menyarankan agar dapat mengembangkan ilmu yang bermanfaat untuk kemajuan Indonesia.
Untuk pertemanan, mantan Capres 2024 ini menyampaikan agar mahasiswa banyak berteman dengan orang asing, dengan tujuan untuk membuat jejaring internasional.
“Berteman dengan orang Indonesia itu baik, sedangkan berteman dengan orang non Indonesia itu lebih baik,” ujar Anies.
Pendiri gerakan “Indonesia Mengajar” ini kemudian bercerita tentang harapannya mewujudkan Indonesia yang lebih maju, yaitu meritrokasi.
“Sebuah pendekatan dimana prestasi dan kompetensi dihargai lebih tinggi dari koneksi atau faktor lain,” ujar Anies.
Pak Anies menilai bahwa meritrokasi ini akan membuat orang-orang mendapat keuntungan karena prestasinya, bukan kedekatan dengan tokoh tertentu.
Kalau sekarang, lanjut Anies, yang di atas itu sudah mencontohkan dengan adanya kedekatan, bukan berdasarkan kompetensi.
“Yang di atasnya begitu, maka kita harus ubah,” terang beliau.
Selanjutnya beliau sampaikan tentang teknokrasi. Yaitu sistem penerintahan dengan pengambilan keputusan berdasarkan keahlian teknis dan kemampuan profesional.
Anies menceritakan dulu saat menjabat menjadi gubernur DKI Jakarta, banyak partai yang menitipkan orang-orangnya agar menjabat pada posisi tertentu.
Pak Anies menerima permintaan tersebut, dengan syarat memenuhi kriteria yang ada.
“Dia harus punya kompetensi,” ujar Anies.
Selanjutnya, materi berlanjut dengan diskusi, yang disambut hangat oleh peserta.
Pembahasan menarik tentang mahasiswa Indonesia di Riyadh yang mesti memasang pera di kamarnya, agar ia tidak lupa dengan bangsanya sendiri.
Anak-anak WNI yang Sekolah di Indonesia Riyadh (SIR) agar di kelas pasang peta, untuk mengenalkan negaranya.
Juga anak-anak sekolah ini dibiasakan dengan mengenal Indonesia melalui berbagai media.
“Meskipun sekarang sudah era digital, tapi perlu untuk menyediakan majalah-majalah berbahasa Indonesia,” tegasnya.
Selain itu, ajarkan juga bahasa Indonesia, karena itu adalah identitas dari sebuah bangsa.
Ada nasehat untuk mahasiswa agar tidak terlalu menghiraukan stigma-stigma negatif yang diarahkan kepada alumni Saudi.
“Balas stigma negatif dengan sikap baik dan prestasi yang bagus,” terang Anies.
Beliau menyampaikan juga tentang masalah kurikulum yang ada di Indonesia.
Menurutnya, pendidikan mestinya berfokus pada kompetensi guru, bukan kepada kurikulum.
Menurutnya, kurikulum boleh gonta ganti, tapi kalau gurunya bagus, maka itu tidak menjadi masalah.
“Seperti orang belajar memanah. Yang gonta ganti itu busur panahnya saja,” papar Anies.
Maka, lanjut beliau, PR terbesar adalah meningkatkan kompetensi guru.
“Peserta yang hadir disini, dulu saat sekolah itu suka pelajaran karena bukunya atau karena gurunya?,” tanya Anies kepada hadirin.
Hampir semua peserta mengatakan bahwa alasan utama suka pelajaran adalah karena gurunya yang bagus dalam menyampaikan.
“Nah itu. Kenapa malah sekarang yang diutak-atik adalah bukunya?,” ujar Anies.
Menurutnya, kompetensi guru ini selaras dengan kesejahteraan yang didapat. Maka harapannya guru ke depan lebih baik lagi.
Beliau bercerita juga tentang studi banding ke luar negeri, saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dulu.
Menurutnya, Indonesia tidak apple to apple jika dibandingkan dengan Finlandia, Jepang, dan Korea, karena masalah yang dihadapi Indonesia tidak serumit mereka.
Pak Anies pun akhirnya memilih studi banding ke India. Sebuah negara yang memiliki permasalahan kompleks dan rumit lebih dari Indonesia.
Saat rombongan datang ke sebuah kampus berkelas dunia di India, didapati gedungnya tidak bagus, kursinya buatan tahun 80an, dan papan tulisnya hitam yang masih menggunakan kapur tulis.
“Tapi mereka ini adalah kampus bisnis terbesar di dunia, dan mahasiswanya bisa mengakses buku-buku dan jurnal terbaik dunia,” tandas Anies.
Mendapati hal ini, dapat disimpulkan bahwa pendidikan di India lebih mementingkan kualitas daripada fasilitas.
“Mereka akses ke substantik, bukan kosmetik,” tegas Anies.
Mendapati pendidikan di India yang dinilai bagus, Anies menyekolahkan anaknya disana selama 2 tahun.
“Anak saya akhirnya saya sekolahkan di India selama 2 tahun,” terangnya.
Sambil senyum, beliau juga mengatakan: “Sengaja anak saya sekolah di India, agar pulang nanti dia merasa sangat bersyukur jadi orng Indonesia. Hehe.”
—
Saat ada kesempatan, saya maju ke depan memberikan 3 buku saya yang tersedia di Riyadh: “Oase di Tengah Gurun”, “Pesona Haramain”, dan “Secangkir Kopi”.
Pak Anies senyum manis sambil bilang: “Saya minta bukunya ditanda tangani ya. Agar beda seperti buku-buku lainnya.”
Saat saya sedang menandatangani buku, seorang stafnya berbisik: “Mas, sekalian tulis pesan buat Pak Anies”
“Ok. Siap,” kata saya.
Akhirnya buku diserahkan dan beliau ucapkan terima kasih.
Ketika akan pulang, saya dipanggil. “Mana Budi tadi?.”
Saya mendekat padanya, dan beliau berpesan: “Teruslah menulis, dan berikan manfaat untuk orang lain.”
Saya juga diberi hadiah 1 buku karya beliau berjudul “Leadership”.
Masya Allah. Hari yang sangat berkesan. Banyak ilmu, informasi, dan faedah bermanfaat.
1 jam menjadi anak abah. Begini ya rasanya.
Budi Marta Saudin

Komentar