Nasional
Beranda » Sukses Jihad Ramadhan Menuju Peradaban Mulia (Khutbah Idul Fithri 1447 H Ketum DDII)

Sukses Jihad Ramadhan Menuju Peradaban Mulia (Khutbah Idul Fithri 1447 H Ketum DDII)

Sukses Jihad Ramadhan Menuju Peradaban Mulia*

Oleh: Dr. H. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

ا لله اكبر ا لله اكبر ا لله اكبر

ا لله اكبر ا لله اكبر ا لله اكبر

ا لله اكبر ا لله اكبر ا لله اكبر

ا لله اكبر كبيرا  والحمد للله كثيرا و سبحان الله بكرة واصيلا

لا اله الا الله  وحده  صدق وعده  و نصر عبده  و اعز جنده 

وهزم الاحزاب وحده

لا اله الا الله  والله اكبر الله اكبر ولله الحمد 

الحمد لله الذي جعل هذا اليوم عيدا للمسلمين   

والصلاة والسلام على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم وعلى اله

وصحبه اجمعين

فياءيهاالمسلمون اوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون

o0o

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah. Mudah-mudahan kita semua termasuk manusia-manusia yang mampu mensyukuri semua nikmat Allah SWT. Alhamdulillah, kita diberi nikmat oleh Allah untuk bisa menjalani ibadah di bulan Ramadhan 1447 Hijriah.

Inilah bulan yang sangat mulia, dan sekaligus bulan pendidikan terbaik yang kita jalani sepanjang tahun ini. Ibadah Ramadhan inilah sejatinya merupakan puncak pendidikan nasional. Inilah bulan yang paling kondusif untuk mencapai tujuan pendidikan kita, yaitu terwujudnya manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.

Betapa tidak! Konstitusi kita (UUD 1945 pasal 31 (3))sudah mengamanahkan bahwa pemerintah harus menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. Ini sejalan dengan tujuan puasa Ramadhan agar kita menjadi manusia yang bertaqwa (QS al-Baqarah: 183)

Dan ingatlah, saat menjalani ibadah Ramadhan, sejatinya kita sedang melaksanakan tiga tugas kenabian yang diemban oleh Rasulullah saw, yaitu: tilawah, tazkiyah, dan ta’lim (Lihat: QS Al-Baqarah: 151, al-Jumuah: 2).

Di bulan yang mulia ini kita sedang menjalani proses jihad fi-sabilillah, berupa “mujahadah ‘alan nafs”.Pensucian jiwa adalah dasar manusia meraih keunggulan dan kesuksesan.  “Sungguh telah meraih kemenangan, orang yang mensucikan (jiwa)nya, dan merugikan orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams:9-10).

Bahkan, di bulan Ramadhan ini, kita juga dilatih untuk melaksanakan pensucian jiwa dan raga sekaligus. Saat ini, banyak sekali penelitian yang menunjukkan manfaat puasa bagi kesehatan tubuh manusia. Jika puasa kita berhasil, maka jiwa dan raga kita akan menjadi sehat. InsyaAllah!

Nabi saw bersabda: “al-mujaahidu man jaahada nafsahu” (HR Tirmidzi). Seorang mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan nafsunya. Menundukkan nafsu adalah jihad yang besar, sehingga perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Dengan segala macam latihan ibadah yang sungguh-sungguh (mujahadah), kita berharap menjadi mukmin yang bahagia, memiliki nafsu yang tenang (nafsul-muthmainnah). “Wahai nafsul-muthmainnah (wahai jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh ridha dan diridhai.” (QS al-Fajr:27-28). 

Karena itu, sepatutnya, kita dan pemerintah sangat serius dalam menjadikan bulan Ramadhan sebagai puncak pendidikan diri dan pendidikan bangsa kita. Alokasikanlah usaha dan juga anggaran seoptimal mungkin untuk proses pendidikan manusia-manusia Indonesia agar sukses menjalani pendidikan Ramadhan.

Allahu Akbar 3X, walillaahilhamd.

Ma’asyiral muslimin rahikamumullah,

Hasil sukses ibadah Ramadhan adalah lahirnya manusia-manusia mulia. Itulah manusia taqwa. Manusia-manusia unggul inilah yang akan berjuang mewujudkan masyarakat dan peradaban mulia pula. 

Orang yang bertaqwa dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan perlakuan khusus, dan berbagai keistimewaan. Dia akan diberikan kemudahan hidup:

ومن يتق الله بجعل له من امره بسرى (الطلاق:4)

Orang yang bertaqwa juga akan diberikan jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya dan diberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka:

ومن يتق الله بجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب (الطلاق:2-3)

Sebagai satu bangsa, jika mau beriman dan bertaqwa, maka pasti Allah akan menurunkan barokah dari langit dan dari bumi.

ولو ان اهل القرى أمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركت من السماء والارض ولكن كذبوا فاخذنهم

بما كانوا بكذبون (الاعراف:96)

“Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al A’raf:96)

Allahu Akbar 3X, walillaahilhamdu.

Itulah janji Allah untuk umat Rasulullah saw. Kita akan unggul, kita akan berjaya, kita akan menjadi umat yang terbaik, jika kita menjadi manusia-manusia yang bertaqwa.

Masalahnya, tantangan yang kita hadapi di saman ini sungguh teramat berat. Kita sedang dipimpin oleh peradaban yang memuja materi secara berlebihan. Orang dianggap mulia jika dia kuasa, kaya raya, atau banyak pengikutnya!

Mengikuti petunjuk al-Quran, kita memahami, bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang bertaqwa kepada Allah. Orang dikatakan sukses jika menjadi orang taqwa. Sekaya apa pun dia, setinggi apa pun jabatannya, jika ia tidak beriman dan durhaka kepada Tuhannya, maka ia sejatinya manusia hina.

Begitu juga dalam memahami lembaga pendidikan. Jangan sampai memuji-muji dan berbangga ria dengan sekolah atau universitas yang tidak mendidik mahasiswanya menjadi manusia yang bertaqwa. Sebab, al-Quran sudah menggariskan, bahwa manusia yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Negara yang paling maju dan paling sukses adalah negara yang penduduknya beriman dan bertaqwa (QS al-A’raf: 96).

Karena itulah, untuk menilai kemajuan suatu daerah atau suatu negara, sepatutnya indikator ketaqwaan dijadikan sebagai acuan utama. Kota Surabaya ini kita katakan maju jika jumlah orang yang shalat lima waktu terus meningkat dari tahun ke tahun; jika angka buta huruf al-Quran semakin menurun; jumlah yang melaksanakan shalat tahajud semakin bertambah; jumlah yang membayar zakat makin banyak, dan sebagainya.

Jadi, pemimpin terbaik adalah pemimpin yang memiliki program pembangunan ketaqwaan bagi rakyatnya. Jika pemimpin dan rakyatnya bertaqwa, pastilah daerah atau negara itu akan menjadi makmur.

Sebab, buah dari ketaqwaan adalah akhlak mulia. Jika pemimpin dan rakyat memiliki sifat-sifat jujur, pekerja keras, tidak malas, tidak lemah, pemberani, tidak sombong, tidak bakhil, tidak pendengki, adil, dan sifat-sifat mulia lainnya, maka mereka akan menjadi manusia-manusia terbaik.

Itulah sifat generasi terbaik yang pernah dilahirkan oleh Rasulullah saw, yang beliau sebut: ”khairun naas, qarniy…”. Manusia-manusia terbaik adalah zamanku ini. Begitu kata Rasulullah saw.

Allahu Akbar 3X, walillaahilhamdu.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,…

Kita sedang hidup di bawah kepemimpinan peradaban Barat (al-hadharah al-gharbiyyah). Selama ratusan tahun, peradaban ini telah memimpin dunia dan menghasilkan kemajuan-kemajuan hebat di bidang ekonomi, sains, dan teknologi. Tetapi, pada saat yang sama, peradaban ini juga gagal mewujudkan janji-janjinya.

Mereka dulu menjanjikan perdamaian, kemakmuran, kemanusiaan, keadilan, dan kebahagiaan.  Mereka bangun universitas-universitas yang secara akademik berkualitas tinggi dan menghasilkan manusia-manusia pintar. Tapi, sayangnya mereka gagal membangun manusia-manusia yang berakhlak mulia dan berguna bagi sesama.

Puncak pencapaian teknologi mereka kini telah menghasilkan mesin-mesin pembunuh manusia yang paling canggih. Mereka gagal melahirkan keadilan dan meninggikan martabat kemanusiaan. Perang demi perangterus mereka kobarkan. Bahkan, sengaja dilakukan untuk melancarkan produksi senjata mereka.

Peradaban sekular-liberal-materialis ini pun gagal mewujudkan tatanan hidup yang damai dan bahagia. Gaya hidup bebas memuja syahwat telah gagal melahirkan kebahagiaan. Masyarakat mereka tidak bisa lepas alkoholdan obat-obat penenang. Bahkan, angka bunuh diri pun terus meningkat. Sementara angka pertumbuhan penduduk mereka juga semakin menurun.

Karena itu, sudah sepatutnya kita tidak mengikuti pandangan dan gaya hidup mereka. Anak-anak kita jangan sampai dididik dengan sistem dan kurikulum pendidikan yang menjadikan mereka semakin serakah dunia, tidak cinta ilmu, tidak cinta ibadah, dan tidak berakhlakul karimah.

Rasulullah saw telah memperingatkan kita semua: “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikan mereka (memiliki sifat) seperti kaum Yahudi, Nasrani, dan Majuzi.”

“Kamu akan mengikuti sunnah-sunnah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak sekali pun, kamu akan mengikuti mereka.”  Sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Jawab Nabi SAW: “Siapa lagi, kalau bukan mereka!” 

(HR Muslim).

Allaahu Akbar 3X walillaahilhamdu

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,…

Jika kita cermati, sejak 7 Oktober 2023, telah terjadi berbagai perubahan besar di dunia internasional. Zionisme sudah sekarat; sedang dalam tahap akhirnya! Negara Zionis Israel dimusuhi hampir semua negara di dunia. Dominasi kaum Yahudi di AS dan negara-negara Eropa sudah berakhir. Bahkan kini banyak kepala daerah di AS dan Eropa yang muslim.

Kita menyaksikan semakin banyak manusia-manusia di Barat yang tertarik belajar dan memeluk agama Islam, karena melihat ketangguhan dan ketinggian masyarakat Gaza. Di tengah penderitaan yang luar biasa, mereka tidak berputus asa; tidak stress apalagi bunuh diri. Keimanan dan akhlak mulia yang mengagumkan, telah menarik minat banyak orang Barat untuk memeluk agama Islam.

Sementara itu, dengan segala kekurangannya, masyarakat Indonesia masih dikenal sebagai masyarakat yang religius, yang mengakui peran penting agama dalam kehidupan! Semoga dengan ibadah Ramadhan, kita dapat meningkatkan mengaktualisasikan religiusitas masyarakat kita menjadi akhlak mulia, sesuai dengan tujuan diutusnya Nabi kita, Muhammad saw.

Sekali lagi, ibadah Ramadhan adalah model pendidikan terbaik yang diharapkan melahirkan manusia-manusia terbaik di dunia. Hanya umat yang unggul itulah yang akan mampu mewujudkan masyarakat dan peradaban yang mulia, sebagaimana telah dilakukan oleh beberapa generasi gemilang, seperti Generasi Sahabat Nabi, Generasi Shalahuddin al-Ayyubi, Generasi Muhammad al-Fatih, dan Generasi 1945 di negeri kita sendiri.

Semua generasi mulia itu lahir dari satu model pendidikan terbaik yang bersifat abadi yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw, yaitu pendidikan yang berpola penanaman adab atau akhlak mulia dan pencapaian ilmu-ilmu yang bermanfaat (‘ilman nafi’an). Karena itu, jangan sampai kita tinggalkan model pendidikan Nabi tersebut dan kita justru mengambil model pendidikan dari kaum yang tidak pernah ridha dengan kemajuan dan kebangkitan umat kita.

Allahu akbar 3X, walillahilhamdu

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,…

Kita telah berusaha mengisi bulan Ramadhan tahun ini dengan berbagai ibadah terbaik. Tetapi, setiap habis Ramadhan, kita senantiasa merasakan ada begitu banyak kekurangan dalam ibadah Ramadhan kita, karena itu kita berdoa kepada Allah, semoga kita diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan baik, selepas bulan Ramadhan dan kita diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan lagi.

Dalam kesempatan yang baik ini, marilah kita manfaatkan kesempatan ini, untuk bersilaturrahmi diantara kita, saling memaafkan, dengan hati yang lapang dan tulus.

Dan marilah kita tutup khutbah Iedul Fithri kali ini dengan berdoa bersama:

Ya Allah, berikanlah ampunan kepada kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik mereka yang masih hidup, maupun yang telah Engkau panggil menghadap-Mu.

Ya Allah berikanlah kemenangan dan kejayaan kepada Islam dan kaum Muslimin. Dan hancurkanlah segala macam kekufuran, pembuat bid’ah, musyrikin, dan para pelaku kezaliman.

Ya Allah, berikanlah pertolongan kepada para pejuang Islam, di mana pun dan kapan pun mereka berada.

Ya Allah, terimalah shalat kami, puasa kami, dan seluruh amal ibadah kami.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami, bahwa yang benar adalah benar, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami, bahwa yang salah itu salah, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk meninggalkannya.

Ya Allah, berikanlah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhihat, dan selamatkanlah kami dari siksa api neraka. Amin, Ya Rabbal ‘alaamiin.

Allahu Akbar- Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillaahilhamd.

Taqabballahu minnaa wa minkum.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

*disampaikan di Masjid Al Falah, Surabaya

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *