Oase
Beranda » Transformasi Kesadaran Lebaran

Transformasi Kesadaran Lebaran

Dalam hidup, terutama belakangan ini, saya selalu berusaha dan mencoba menaruh perhatian pada momentum. Sekecil apapun. Berusaha memberikan ruang agar momentum itu tidak lewat begitu saja. Tak selalu berhasil memang. Tapi kesadaran demikian coba selalu dihadirkan. Hasilnya, setidaknya, hidup tidak mengalir begitu saja. Berlalu bersama angin. Tapi, ada bekas-bekas kenangan tindakan dalam setiap momentum yang datang. Harapannya, tentu kemudian ada perubahan hidup, sekecil apapun.
Termasuk, dalam momentum lebaran kali ini. Saya akan coba dekati dengan sesuatu yang baru. Saya mendekatinya dengan konsep “Tranformasi Kesadaran” yang sudah dikembangkan oleh beberapa pemikir filsafat baik dalam maupun luar negeri. Salah satunya, sebuah buku yang ditulis oleh Reza A.A Wattimena yang berjudul “Teori Transformasi Kesadaran”. Buku yang lahir dari sebuah riset yang lumayan panjang, sekira 25 tahun lebih.
Dengan teori ini, dia ingin memetakan keadaan batin dasar manusia (basic human state of mind) dalam kaitan dengan seluruh alam semesta. Baginya, transformasi kesadaran penting dilakukan untuk dua hal. Pertama, ia mengubah hidup manusia dari dalam. Kejernihan dan kedamaian batin akan dirasakan secara pribadi. Hidupnya menjadi bermutu tinggi, dan jauh dari rasa hampa tanpa makna. Dua, kejernihan dan kedamaian tersebut akan tampil dalam keseharian, terutama dalam keputusan, tindakan dan perilaku keseharian.
Usaha yang saya lakukan, dimulai dengan apa yang disebut “Pengalaman Sadar” (conscious experience). Bagaimana menjalani hidup dengan benar-benar sadar dengan apa yang dilakukan. Termasuk bagaimana pengalaman hidup (living experience) baik yang direncanakan sebelumnya, maupun yang datang dengan begitu saja benar-benar menjadi pengalaman sadar.
Inilah kebaruan momentum lebaran kali ini. Manusia kembali menjadi suci (fitrah) kembali. Manusia kembali menjadi dirinya yang asli (autentik), sebagai manusia yang bertauhid. Dalam agama, ajaran demikian sudah dipahami semua. Hanya, transformasi kesadaran lebaran, membantu menjadikan manusia kembali menemukan kesadaran baru. Di dalamnya, ada pikiran baru, begitu juga usaha laku baru yang bakal diejawantahkan dalam setahun ke depan, dimulai dari hari ini, bukan esok.
Saya kira, lebaran menjadi momentum tepat. Masa yang telah lewat biarlah menjadi kenangan. Sesekali menjadi sebuah tragedi, tapi semuanya anggaplah menjadu nostalgia. Kejadian masa lagi, tak peduli paling getir sekalipun, pada akhirnya menjadi periode ingatan yang kita kenang sebagai sebuah kebahagiaan.
Pasca lebaran, kita berharap banyak manusia yang punya perspektif baru dalam memandang hidup dengan lebih positif, lebih progresif (berkemajuan). Setidaknya, di ruang publik tidak melulu yang marak hoaks dan kabar kebencian. Tapi, sebuah pencerahan kehidupan. Itulah transformasi kesadaran lebaran yang (tentu saja) sama-sama kita inginkan.
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *