Nasional
Beranda » Amien Rais: Jokowi Akan “Klipuk” Sebelum 2029, Prabowo Harus Berani Lepas dari Bayang-Bayangnya

Amien Rais: Jokowi Akan “Klipuk” Sebelum 2029, Prabowo Harus Berani Lepas dari Bayang-Bayangnya

Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, kembali melontarkan kritik keras terhadap dinamika politik nasional. Dalam ceramah terbarunya, Amien menggunakan istilah Jawa “klipuk” untuk menggambarkan kondisi politik mantan Presiden Joko Widodo (yang ia sebut dengan nama “Mukidi”), yang menurutnya pada akhirnya akan mengalami kejatuhan politik.
Di awal ceramahnya, Amien menjelaskan bahwa kata klipuk dalam bahasa Jawa berarti kehabisan tenaga, tidak berdaya, bahkan dapat dimaknai sebagai “mati”. Namun dalam konteks politik, istilah itu ia gunakan untuk menggambarkan seseorang yang kehilangan seluruh kekuatan dan pengaruh politiknya.
“Dalam konten video ini, klipuk saya artikan sebagai kepayahan total, kehabisan tenaga sehingga tidak berdaya lagi.”
Ambisi Kekuasaan Dinilai Belum Berakhir
Amien menilai upaya Joko Widodo untuk tetap mempertahankan pengaruh politik setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden merupakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Menurutnya, setelah sepuluh tahun memimpin Indonesia, Jokowi masih berupaya mengendalikan arah kekuasaan nasional melalui putranya yang kini menjadi Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka.
Dalam ceramah tersebut Amien kembali mengulang kritiknya terhadap proses pencalonan Gibran sebagai calon wakil presiden yang sejak awal dinilainya bermasalah secara konstitusional.
Ia juga menyinggung rencana safari politik Jokowi ke berbagai daerah yang disebut-sebut untuk menemui masyarakat yang masih merindukannya.
Menurut Amien, kegiatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari praktik politik populis yang selama ini identik dengan pembagian kaos, bantuan beras, hingga amplop kepada masyarakat.
Prabowo Dinilai Semakin Lemah
Dalam analisisnya, Amien mengatakan Jokowi justru terlihat semakin kuat karena Presiden Prabowo Subianto dinilai semakin melemah akibat berbagai kebijakan pemerintahannya sendiri.
Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya rawan menjadi lahan korupsi para pengelola.
Selain itu, ia juga menyoroti program Koperasi Merah Putih yang menurutnya tidak memperoleh dukungan luas dari masyarakat desa.
Menurut Amien, berbagai persoalan tersebut membuat perhatian publik bergeser sehingga posisi politik Jokowi tampak tetap dominan.
Mengutip Kajian YLBHI
Amien juga mengutip kajian singkat Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang diterbitkan pada 7 Juli 2026 mengenai Koperasi Merah Putih.
Ia menyebut kajian tersebut menyimpulkan bahwa pemerintah telah mengkhianati prinsip-prinsip koperasi, menggerus ekonomi warga, menyeret TNI ke dalam urusan sipil, serta mengancam ruang hidup masyarakat.
Bagi Amien, kritik dari YLBHI memperlihatkan bahwa berbagai kebijakan pemerintah tidak sepenuhnya memperoleh legitimasi sosial.
Kritik terhadap Kapolri dan Panglima TNI
Dalam ceramahnya, Amien juga menyampaikan pandangannya mengenai konfigurasi kekuasaan nasional.
Ia berpendapat bahwa secara teori Jokowi seharusnya telah kehilangan pengaruh politik. Namun menurutnya, hal itu tidak terjadi karena Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo masih tetap menjabat dan Presiden Prabowo dinilai enggan mengambil sikap yang berbeda.
Amien bahkan mengatakan Prabowo juga terlihat tidak memiliki keberanian politik untuk berbeda dengan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
“Dukungan politik dalam negeri masih dinikmati Jokowi dari Kapolri dan Panglima TNI,” ujarnya.
Menyinggung Dukungan dari China
Tidak hanya berbicara mengenai faktor domestik, Amien juga menilai terdapat dukungan politik, ekonomi, dan diplomatik dari Republik Rakyat China terhadap Jokowi.
Ia menyebut Presiden China Xi Jinping sebagai sosok yang sangat dekat secara politik dengan Jokowi, bahkan mengibaratkannya sebagai “bapak” atau “paman” Jokowi.
Lebih jauh, Amien menduga terdapat dukungan dana dalam jumlah sangat besar yang digunakan untuk menjaga citra politik Jokowi sekaligus membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Menurutnya, langkah tersebut diarahkan untuk mempersiapkan Gibran sebagai calon presiden pada Pemilu 2029.
Analogi Bangsa Kambing dan Bangsa Kodok
Dalam bagian lain ceramahnya, Amien menggunakan dua analogi yang menurutnya menggambarkan perilaku masyarakat terhadap kekuasaan.
Ia mengutip seorang penulis Amerika bernama William J. Leader yang menggambarkan masyarakat Amerika seperti “bangsa kambing”, yakni masyarakat yang mengikuti saja arah kebijakan para penguasanya.
Salah satu bagian ceramah yang cukup menarik adalah ketika Amien Rais menggunakan analogi “bangsa kodok” untuk menggambarkan masyarakat yang perlahan kehilangan kepekaan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Ia mengutip pandangan seorang penulis Amerika, William A. Borst, yang menggunakan ilustrasi seekor kodok yang dimasukkan ke dalam panci berisi air dingin. Pada awalnya, kata Amien, kodok tersebut merasa nyaman karena air tidak membahayakan.
Ketika panci mulai dipanaskan secara perlahan dan suhu air dinaikkan sedikit demi sedikit, sang kodok terus menyesuaikan diri. Kehangatan air bahkan dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Namun, karena kenaikan suhu berlangsung perlahan, kodok tersebut tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam situasi yang semakin berbahaya. Ia tetap bertahan di dalam panci hingga air mencapai titik didih. Ketika bahaya itu benar-benar datang, semuanya sudah terlambat. Kodok tidak lagi memiliki tenaga untuk menyelamatkan diri dan akhirnya mati.
Bagi Amien Rais, terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut secara ilmiah, pesan moral yang terkandung di dalamnya jauh lebih penting daripada perdebatan mengenai fakta biologisnya.
“Saya kira perlu sebuah eksperimen apakah cerita kodok itu benar atau tidak. Akan tetapi, pelajaran moral dari bangsa kambing dan bangsa kodok itu perlu kita renungkan,” ujarnya.
Menurut Amien, masyarakat dapat mengalami kondisi serupa apabila terlalu lama membiarkan berbagai penyimpangan berlangsung tanpa perlawanan. Ketika pelanggaran hukum, penyalahgunaan kekuasaan, praktik korupsi, manipulasi politik, atau pelemahan demokrasi terjadi secara bertahap, masyarakat berisiko menganggap semuanya sebagai sesuatu yang biasa.
Keadaan yang semula dianggap sebagai penyimpangan lambat laun berubah menjadi kebiasaan. Akibatnya, daya kritis masyarakat semakin melemah. Mereka tidak lagi merasa terganggu oleh persoalan-persoalan yang sebelumnya dinilai berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Amien menilai, kondisi seperti itulah yang harus diwaspadai oleh bangsa Indonesia. Ia mengingatkan agar rakyat tidak larut dalam kenyamanan semu yang diciptakan oleh kekuasaan sehingga kehilangan keberanian untuk mengoreksi pemerintah ketika kebijakan dinilai menyimpang dari kepentingan rakyat.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus memelihara sikap kritis dan tidak bersikap pasif menghadapi perkembangan politik nasional. Menurutnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya mengikuti arus, tetapi bangsa yang mampu menggunakan akal sehat, keberanian moral, dan kesadaran politik untuk menjaga demokrasi tetap berjalan di atas rel konstitusi.
“Bila bangsa Indonesia ingin menjadi bangsa besar yang cerdas, berdaulat, dan bermartabat, jadilah manusia dalam arti kata sebenarnya, terutama mereka yang tergolong pemimpin dalam arti luas,” tegas Amien menutup uraian mengenai analogi tersebut.
“Tidak Ada Penguasa Zalim yang Tidak Klipuk”
Menjelang akhir ceramahnya, Amien menegaskan bahwa dirinya tidak sedang meramal masa depan.
Ia mengatakan apa yang disampaikannya hanyalah sebuah perkiraan berdasarkan pola yang menurutnya berulang dalam sejarah umat manusia.
Menurut Amien, sepanjang sejarah tidak pernah ada penguasa yang zalim yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk selamanya.
Dalam pandangannya, Jokowi merupakan sosok yang zalim karena dianggap gemar menipu, mengadu domba rakyat, serta bersikap hipokrit.
Atas dasar itulah Amien memperkirakan Jokowi akan mengalami “klipuk” sebelum tahun 2029.
Ia juga menyebut berbagai narasi yang menyatakan masyarakat masih merindukan Jokowi sebagai sebuah rekayasa politik.
Amien mengingatkan publik agar tidak mudah mempercayai berbagai survei maupun pencitraan politik sebagaimana, menurutnya, pernah terjadi ketika Jokowi disebut sebagai salah satu wali kota terbaik di dunia berdasarkan penghargaan dari The City Mayors Foundation.
Berdasarkan pengalamannya mengunjungi berbagai negara, Amien menilai banyak kota di dunia yang jauh lebih tertata, bersih, dan nyaman dibandingkan Jakarta maupun kota-kota besar di Indonesia.
Masa Depan Ditentukan Allah
Meski menyampaikan prediksi politik yang keras, Amien tetap menutup ceramahnya dengan menegaskan bahwa masa depan pada akhirnya berada di tangan Allah SWT.
Ia mengatakan cepat atau lambatnya kejatuhan politik Jokowi juga bergantung pada keberanian Presiden Prabowo untuk melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan lama.
“Kalau masih saja menolerir Pak Mukidi atau Jokowi, kita belum tahu secara persis nanti. Hanya Allah yang akan menentukan masa depan,” ujarnya sebelum menutup ceramah dengan ucapan, Wallahu a’lam bish-shawab.
Nuim Hidayat

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *