Nasional
Beranda » Tokoh Islam Pecah, Itulah Kenapa 2024 Lalu Anies Tidak Terpilih. 2029?

Tokoh Islam Pecah, Itulah Kenapa 2024 Lalu Anies Tidak Terpilih. 2029?

Bila menggunakan kacamata Islam, maka Anies Baswedan harusnya menjadi pilihan bersama tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Anies adalah pemimpin yang lebih shalih, lebih cerdas dan lebih kreatif dari Prabowo dan Ganjar.
Tapi ya begitulah seseorang memilih presiden, kadang-kadang bukan melihat secara obyektif siapa yang paling baik dan mumpuni untuk memimpin tanah air. Ada seseorang milih presiden, karena ia ingin mendapat jatah menteri. Ada seseorang milih presiden, karena ia ingin mendapat jatah komisaris. Ada seseorang milih presiden, karena sang calon presiden memberinya uang ratusan atau puluhan milyar kepada dirinya dan seterusnya.
Motif-motif duniawi itulah yang menyebabkan seseorang tidak obyektif lagi menilai kapabilitas sang calon presiden. Nafsu jabatan dan tamak harta menghinggapi dirinya. Dan sayangnya ini juga menghinggapi beberapa tokoh Islam. Saya tidak usah sebut namanya dan anda harusnya tahu siapa-siapa mereka.
Di sepanjang sejarah Islam dan sejarah Indonesia, ada tokoh-tokoh Islam yang benar-benar ikhlash memperjuangkan Islam, ada ‘tokoh-tokoh Islam’ yang terjerat nafsu duniawi.
Orang-orang awam -dan kebanyakan di Indonesia orang awam terhadap Islam- tidak bisa membedakan antara tokoh Islam yang ikhlash dan tokoh Islam yang terjerat nafsu duniawi. Antara ulama yang ikhlash (shalih) dan ulama yang buruk (su’).
Yang bisa melihat perbedaan tingkah laku ulama itu, hanya ulama atau orang-orang yang berilmu. Karena orang-orang berilmu, melihat bukan hanya omongan atau tulisan seseorang, tapi juga melihat perilaku orang itu sehari-hari. Orang-orang berilmu jatuh lebih teliti mengamati seseorang daripada orang-orang awam.
Kadang ada orang yang bicaranya hebat, tulisannya hebat, tapi perilakunya memuakkan. Sering ia berbuat tidak sesuai antara omongan dan perilakunya. Akhlaknya tidak bisa dicontoh. Ia, karena sudah mendapat jabatan profesor atau kyai, sudah merasa paling hebat dalam segalanya.
Sayangnya di tanah air, sekali lagi kebanyakan orang awam terhadap Islam. Banyak orang -karena tingkat pendidikan yang rendah- mudah tertipu oleh pidato seseorang. Tertipu oleh ekspos media massa dan media sosial. Tertipu oleh spanduk dan billboard di jalan-jalan. Tertipu oleh gelar yang menempel pada seseorang. Tertipu oleh guyuran sembako di rumahnya.
Bagi sebagian orang Soekarno adalah pemimpin yang hebat. Kata-katanya menggelegar. Pidatonya menggema. Tapi bagi ulama besar Buya Hamka, Soekarno bukan tokoh yang hebat. Menurut Hamka, Soekarno hanya seneng pidato. Ketika rakyat banyak yang kelaparan antri beras, Soekarno menghiburnya dengan pidato. Soekarno hebat dalam omongan, tapi tidak hebat dalam pelaksanaan (action).
Para sejarawan mencatat, setelah 1959 Soekarno mengubah demokrasi di Indonesia menjadi demokrasi terpimpin. Dan itulah awal kediktatoran. Sehingga jangan heran akhirnya banyak tokoh Islam –ada juga tokoh sosialis- yang dipenjara oleh Soekarno. Misalnya Hamka, Mohammad Roem, Prawoto Mangkusmito, Mohammad Natsir dan lain-lain.
Pemimpin perlu ahli dalam pidato, ahli dalam menulis. Tapi itu tidak cukup. Pemimpin juga perlu ahli dalam tindakan (action). Pemimpin perlu ahli dalam manajemen. Pemimpin perlu ahli dalam psikologi (psikologi individu dan psikologi massa). Di atas segalanya, pemimpin harus menjadi teladan bagi masyarakatnya.
Ketika pemimpin pecah rumah tangganya, pemimpin sering menggebrak-gebrak meja, dan sering emosional menghadapi para pengritiknya, maka pemimpin seperti ini tidak bisa menjadi teladan.
Masyarakat Indonesia yang jumlahnya 285 juta ini perlu keteladanan. Keteladanan dari presiden, akan menular kepada menteri. Menular kepada dirjen, menular kepada gubernur, walikota, camat, kepala desa dan seterusnya. Ketika presidennya sering emosional dan tidak bisa menjadi teladan, maka bawahannya pun juga menjadi bingung. Mereka akhirnya mencari selamat masing-masing. Yang penting partai saya tetap besar, yang penting jamaah saya makan, yang penting keluarga saya sejahtera dan seterusnya.
Kepentingan masyarakat luas akhirnya menjadi korban.
Jumlah umat Islam yang 83 persen (251 juta) di negeri ini, sebenarnya sangat menentukan dalam pemilihan presiden. Bila tokoh-tokoh Islam bersatu, maka akan terpilih presiden yang ideal di negeri ini. Presiden yang bisa membawa Indonesia menuju adil dan makmur yang diridhai Allah SWT. Presiden yang tidak menzalimi kaum mayoritas maupun minoritas.
Sayangnya tokoh-tokoh Islam, ‘selalu’ berpecah dalam setiap pemilihan presiden. Kita jangan menyalahkan oligarki atau orang luar. Kita perlu bercermin dan membenahi diri kita sendiri, bahwa (yang sering dikatakan) tokoh-tokoh Islam ternyata tidak semua bisa menjadi teladan. Dan itulah tragedi bangsa ini.
Allah Maha Mengetahui dan Allah Maha Bijaksana. Wallahu alimun hakim.
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *