Nasional
Beranda » Merdeka dari Penyakit Muncul dari Sinergi One Health

Merdeka dari Penyakit Muncul dari Sinergi One Health

JAKARTA — Upaya membebaskan masyarakat dari ancaman penyakit tidak cukup dilakukan dengan mengobati orang yang sakit. Sumber penyakit, kondisi lingkungan, kesehatan hewan, hingga perilaku manusia perlu dilihat sebagai satu kesatuan. Inilah pesan utama “Merdeka dari Penyakit: Sinergi One Health untuk Indonesia Sehat” yang digelar Yayasan Pusaka Hati Indonesia dan Kolegium Epidemiologi Indonesia, Minggu (23/8/2026).

Webinar yang menghadirkan Dr.dr. Then Suyanti, MM, selaku direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Beben Saiful Bahri, SKM., MKM. Dari HAKLI , Dr. Rizky Fajar Meirawan, SKHM., M.Vet. ahli zoonosis dan Dr. Suphia Rahmawati, S.T., M.T Ahli lingkungan dari UII membahas ancaman zoonosis, kesehatan lingkungan, perubahan iklim, serta resistensi antimikroba dari perspektif One Health.

Dr. Rizky Fajar Meirawan, SKHM., M.Vet., menyoroti zoonosis sebagai salah satu tantangan penting epidemiologi penyakit menular. Materi webinar menyebutkan, sekitar 60 persen penyakit infeksi pada manusia merupakan zoonosis, sedangkan sekitar 75 persen penyakit infeksi emerging atau emerging infectious diseases (EID) bersifat zoonotik.

Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan hewan bukan sekadar persoalan kesehatan hewan. Perubahan lingkungan, perpindahan manusia dan hewan, perubahan penggunaan lahan, serta meningkatnya interaksi dengan satwa dapat menciptakan peluang baru bagi patogen untuk berpindah dan berkembang.

Di Indonesia, sejumlah zoonosis menjadi perhatian, antara lain avian influenza, rabies, antraks, leptospirosis dan brucellosis. Materi webinar juga mengangkat COVID-19, tuberkulosis zoonotik dan toksoplasmosis dalam konteks tantangan zoonosis nasional.

Karena itu, epidemiologi zoonosis tidak cukup hanya mencatat jumlah kasus pada manusia. Reservoir, vektor, hewan, lingkungan dan perilaku manusia harus dibaca sebagai satu rantai penularan.

Dr.dr. Then Suyanti, MM, menekankan pentingnya pendekatan One Health untuk mencegah, mendeteksi dan merespons ancaman penyakit secara lintas sektor.

Indonesia telah memiliki sejumlah landasan kebijakan, antara lain Inpres Nomor 4 Tahun 2019, Permenko PMK Nomor 7 Tahun 2022, UU Nomor 17 Tahun 2023 dan PP Nomor 28 Tahun 2024. Implementasinya mencakup surveilans, deteksi dini, penyelidikan epidemiologi, pelacakan kontak, pengendalian faktor risiko serta koordinasi lintas sektor.
Pendekatan ini penting karena ketika sebuah penyakit sudah menjadi wabah, ruang untuk mencegah dampaknya menjadi jauh lebih kecil.

Persoalan lingkungan dibahas Beben Saiful Bahri, SKM., MKM. Air, tanah, udara, limbah dan lingkungan permukiman dapat menjadi media bertahannya patogen sekaligus jalur paparan manusia. Kondisi lingkungan yang kotor, lembap, penuh genangan dan memiliki saluran air tersumbat juga dapat menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit.

Dengan demikian, pengendalian penyakit tidak berhenti di puskesmas atau rumah sakit. Rumah, lingkungan permukiman dan ekosistem tempat manusia beraktivitas juga merupakan bagian dari upaya pencegahan.

Menurut Dr. Suphia Rahmawati, S.T., M.T., perubahan iklim merupakan konsekuensi dari berbagai aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, perubahan penggunaan lahan, pertanian, peternakan dan aktivitas industri. Perubahan tersebut kemudian memengaruhi suhu, curah hujan, habitat dan ekosistem. PPT One Health Suphia .pptx

Dampaknya terhadap kesehatan dapat terjadi melalui perubahan distribusi vektor dan reservoir. Suhu dan kelembapan yang berubah dapat memperluas habitat nyamuk dan memperpanjang siklus hidupnya. Risiko penularan dengue, malaria, chikungunya dan sejumlah penyakit zoonotik pun dapat meningkat.Dengan kata lain, perubahan iklim dapat mengubah peta epidemiologi penyakit.

Persoalan lain yang disoroti Dr. Suphia adalah resistensi antimikroba (AMR). Penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan dapat menghasilkan bakteri resisten dan residu obat yang keluar melalui urin dan feses. Jika limbah tidak diolah dengan baik, material tersebut dapat masuk ke sungai, tanah dan air tanah.

Gen resistensi bahkan dapat berpindah antarspesies bakteri. Lingkungan akhirnya menjadi reservoir sekaligus jalur penyebaran resistensi.

Masalah ini menunjukkan bahwa resistensi antibiotik bukan hanya persoalan dokter dan pasien. Penggunaan obat, peternakan, pengelolaan limbah dan kualitas lingkungan turut menentukan bagaimana resistensi berkembang dan menyebar.

Manusia tidak boleh semena-mena

Direktur Pusaka Hati Dr.dr. Ika Dewi Subandiyah,M.Epid mengatakan kesehatan manusia sangat bergantung pada lingkungan dan hewan lain.

“Untuk kesehatan manusia, sangat bergantung pada lingkungan dan hewan lain juga. Manusia tidak boleh semena-mena. Terbukti bahwa penyakit yang mengancam, yakni COVID-19, adalah zoonosis.”

Menurut Ika, pengendalian vektor dan hewan pembawa penyakit tidak semestinya hanya mengandalkan pestisida atau pemusnahan.

“Bukan pestisida atau pemusnahan, tetapi menjaga kebersihan lingkungan dan juga tidak melakukan eksploitasi yang berlebihan yang akan merusak ekosistem.”

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Harmonisasi Alam yang disampaikan Dr. Suphia: manusia tetap dapat memanfaatkan alam, tetapi harus berada dalam batas daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Sebagai penutup, webinar Pusaka Hati mengingatkan bahwa Merdeka dari penyakit bukan berarti menaklukkan alam. Merdeka dari penyakit berarti menjaga keseimbangan alam beserta makhluk hidup didalamnya.

(Yons Achmad/EDITOR/ERABARU.ID)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *