Oase
Beranda » Tarwiyah: Berbenah dalam Ruang Refleksi Epistemis

Tarwiyah: Berbenah dalam Ruang Refleksi Epistemis

Secara etimologis, tarwiyah menyimpan paradoks yang indah: ia berarti mengisi perbekalan air, sekaligus merenung. Sebuah titik temu antara laku fisik dan kerja dialektika batin.
Dalam ranah filsafat, refleksi bukanlah sekadar melamun, melainkan sebuah kerja epistemis untuk menguji kebenaran. Kita melihatnya pada kerendahan hati Nabi Ibrahim AS. Ketika diuji dengan perintah yang melampaui batas logika manusiawi, beliau tidak bersikap impulsif. Beliau mengambil jeda seharian untuk berkontemplasi (tarawwa), menguji kesadaran, hingga keraguan luruh menjadi kepatuhan yang otentik dan ikhlas. Di Mina, Rasulullah SAW pun melakukan hal serupa, menciptakan ruang isolasi positif untuk mematangkan kesiapan eksistensial jiwa sebelum memasuki fajar Arafah.
Hari ini, sekat geografis itu runtuh oleh kesamaan esensi. Baik jemaah yang sedang menata mental di Mina, maupun kita yang mendekap sunyi melalui puasa di rumah, kita sedang melakukan reduksi fenomenologis: menunda hiruk-piruk duniawi dan mengosongkan ego.
Kita sadar bahwa diri ini hanyalah bejana kosong. Hari Tarwiyah adalah momentum untuk mengisi kembali logos dan spiritualitas kita dengan air keimanan, agar besok, saat berdiri di hadapan-Nya, kita telah menjadi manusia yang utuh dan pasrah (hanifan musliman).
Selamat merenung, berbenah, dan menghayati Hari Tarwiyah.
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir
Usep S Ahyar

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *