Oase
Beranda » Tak Jera Dipalak, Jejak Sunyi Dakwah Ustadz Hamdan di Pesisir Alor

Tak Jera Dipalak, Jejak Sunyi Dakwah Ustadz Hamdan di Pesisir Alor

Kabupaten Alor, Erabaru.id–Ombak panjang perjalanan laut dari Kupang akhirnya berhenti di Pelabuhan Alor. Hampir 20 jam Ustadz Abdussalam Hamdan Hafidz menempuh perjalanan dengan kapal feri, menembus angin dan gelombang. Begitu menjejak daratan, aroma laut menyambutnya—asing, tetapi sekaligus memanggil.

Di pelabuhan, seorang warga Desa Fanating telah menunggu. Kabar kedatangan seorang dai rupanya lebih dulu tiba dibanding dirinya.

Di Desa Fanating, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, kehadiran Ustadz Hamdan bukan sekadar tamu. Ia adalah harapan. Warga bahkan menggelar rapat desa khusus untuk menyambutnya. Hidangan sederhana disiapkan, wajah-wajah penuh antusias menyertainya.

Di wilayah dengan Muslim sebagai minoritas, Ustadz Hamdan memulai langkahnya dari tempat yang sangat sederhana: sebuah ruangan di TPA. Ruangan itu ia sekat seadanya—sebagian menjadi ruang belajar, sebagian lagi menjadi tempat beristirahat. Di sanalah ia hidup, di antara buku-buku dan papan tulis, ditemani sunyi pesisir yang panjang.

Namun, tantangan dakwah di Fanating bukan sekadar keterbatasan fasilitas. Pemahaman keagamaan masyarakat masih sangat dasar. Tradisi leluhur yang kuat kerap bercampur dengan praktik keagamaan.

“Banyak yang mengira toleransi itu berarti ikut dalam ritual yang sama,” ujar Hamdan suatu waktu. Baginya, ini bukan sekadar kekeliruan, melainkan amanah besar yang harus diluruskan dengan kesabaran dan kelembutan.

Perjalanan dakwahnya pun tak selalu mulus. Menuju kota bukan perkara mudah. Ia harus melewati wilayah-wilayah yang dikenal rawan konflik. Ada aturan tak tertulis yang dipegang warga: jangan berada di jalan setelah Maghrib.

Suatu malam, aturan itu terpaksa ia langgar. Sepulang dari kota, ojek yang ditumpanginya dihentikan sekelompok pria yang dipengaruhi minuman keras. Dalam gelap malam, ketegangan tak terhindarkan. Ia diminta turun. Situasi mencekam.

Namun, pertolongan datang dari arah yang tak disangka. Pengemudi ojeknya ternyata warga asli Fanating—seorang mantan narapidana yang disegani. Percakapan berlangsung dalam dialek yang belum sepenuhnya dipahami Hamdan. Ia hanya bisa menenangkan diri, mencoba membaca keadaan.

Beberapa saat yang terasa panjang itu akhirnya berlalu. Ketegangan mencair. Ia diizinkan melanjutkan perjalanan tanpa insiden.Pengalaman itu membekas. Ia belajar bahwa berdakwah di tempat seperti ini tak cukup hanya dengan ilmu, tetapi juga keberanian dan pendekatan hati.

Hari-harinya kini diisi dengan suara anak-anak. Setiap Senin hingga Sabtu, sekitar 20 anak datang ke Masjid Hisbullah Fanating. Dari yang belum mengenal huruf hijaiyah hingga remaja SMA, semuanya duduk melingkar. Di tangan Hamdan, mereka belajar mengeja Al-Qur’an, memperbaiki gerakan salat, hingga mengenal kisah para nabi.

Di sela aktivitas itu, ia juga mengolah sebidang tanah kosong di samping masjid. Jagung-jagung ia tanam, dirawat dengan sabar. Hasilnya bukan sekadar untuk kebutuhan, tetapi menjadi jembatan hubungan dengan warga.Dari ladang kecil itu, percakapan terjalin. Dari pasar, kedekatan tumbuh. Dakwah perlahan menemukan jalannya.

Enam bulan berlalu. Masjid yang dulu lengang kini mulai hidup. Saf-saf mulai terisi. Anak-anak tak lagi sekadar membaca, tetapi mulai memahami tajwid.Meski rasa waswas masih sesekali datang, terutama saat harus bepergian ke kota, langkah Hamdan tak goyah.

Ia menyimpan harapan besar: hadirnya kekuatan dakwah yang lebih kokoh di Alor. Agar tak ada lagi masjid yang sepi. Agar tak ada lagi mualaf yang berjalan sendiri tanpa bimbingan.

Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, di pesisir yang sunyi, cahaya itu sedang dinyalakan—perlahan, tetapi pasti.Dan dari sana, perubahan dimulai.*

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *