Dunia Islam
Beranda » Kisah Syech Qardhawi dan Sayid Sabiq

Kisah Syech Qardhawi dan Sayid Sabiq

Madrasah Hasan al-Bana melahirkan banyak ulama hebat, baik ulama harakah seperti Syeikh Ahmad Yasin di Palestina, maupun ulama penulis produktif seperti al-Qardhawi.
Beberapa Hari muncul diskusi, bermula dari video KH Muhibul Aman Aly, yang menyatakan fikih sunah, karya Sayid Sabiq dan Syeikh Yusuf Qardhawi tidak muktabar. Begitu dua nama itu disebut saya teringat madrasah Imam Hasan Bana.
Seyikh Muhammad Gazali juga murid Hasan Bana, tapi bedanya beliau lebih fokus fikih dakwah ketimbang fikih ibadah dan fikih muamalah seperti dua murid al-Bana diatas. Ada satu nama lagi, dari madrasahnya Imam Bana, yaitu Syeikh Abdul Qadir Audah, beliau menulis sebuah buku, yang fokus dalam subjek yang relatif langka peminatnya, yaitu fıkıh Pidana, التشريع الجنائي الإسلامي مقارناً بالقانون الوضعي (At-Tasyri’ Al-Jina’i Al-Islami Muqaranan bil Qanun Al-Wadh’i).
Sebuah buku tentang fikih jinayat yang komprasikan dengan hukum positif kontemporer. Saat di HM Putra, Lirboyo, bersama Kiyai Rafiq Azhuri saya kerap membaca dan mendiskuiskan kitab ini dan kitab ini kerap di kutip dalam Bahsul Masail.
Dari ketiga murid Imam Bana ini yang menulis kitab fikih, paling diterima dalam diskusi pesantren adalah At-Tasyri’ Al-Jina’i-nya, Abdul Qadir Audah, Kedua Fikih Zakatnya al-Qardhawi, dan fikih sunah Sayid Sabiq sama sekali tidak diterima di kalangan pesantren. Untuk Fikih Zakat, dalam videonya KH Muhib Aman Aly memberi catatan, yaitu dalam bab zakat profesi, juga dianggap tidak bisa dirujuk.
Menurut kalangan pesantren, hanya ulama selevel mujtahidlah yang ditoleransi menulis fikih dengan cara menulisnya Sayid Sabiq dalam fikih sunan; tanpa pakem madzhab dan talfiq; mencapur adukan manhaj, konsep dan praktek fikih, tanpa merujuk kitab ulama mdzhab sebelumnya baik mutaqidimin maupun mutaakhirin (turats), dan ketiga tanpa notasi dan atribusi kepada kitab-kitab otoritatif yang seharusnya dijadikan rujukan.
Karena Sayid Sabiq bukan mujtahid maka pola pemaparan fikih seperti itu tidak dapat diterima oleh paradigma madzhab fikih.
Itulah mengapa meski sama-sama kontemporer kitab Fiqh Islam wa adilatuhu karya Syeikh Wahbah Zuhaili lebih mendapat tempat istimewa, dan demikian pula beberapa kitabnya Syeikh Ramadhan al-Buthi, dalam fıkıh ضوابط المصلحة في الشريعة الإسلامية, Dhawabit al-Maslahah fi Syariat al-ISlamyah. Kitab kontemporer tapi kedudukannya dalam tradisi pesantren rasanya setara dengan kursi yang diberikan pada Qawaidul Ahkamnya Syeikh Izudin bin Abdi Salam, dan al-Muwafaqatnya Imam Syathibi. Karya al-Buthi dalam tasawuf yang nyaris setara dengan diterimanya kitab-kitab Imam al-Hadad, atau bahkan Risalah al-Qusyariyah, yaitu Syarah Hikam, yang merupakan translit pengajian al-Buthi, karya lain beliau dalam Tarikh, sajarah, yang nyaris setara dengan Sirah Ibn Hisyam, yaitu Fiqh Siraah.
Jadi Persoalannya bagi dunia pesantren, bukan معاصر, kontemporer, atau harus turats (kuno), melainkan pertama, metodologi berfikir penulis yang harus disiplin dalam madzhab tertentu, bukan tidak boleh beberapa madzhab, tapi disiplin berfikir sesuai cara berfikir madzhab(ushul fikih, qawaid fikih, qaul imam, takhrij qaul dan tarjih qaul) di masing-masing madzhab, Kedua, Tidak boleh talfiq mencampur dua atau lebih pendapat ulama antar madzhab dalam satu qadiyah atau satu praktek ibadah yang spesifik, ketiga disiplin dalam mengutip rujukan, jelas bukan mengutip nakna tapi harus mengutip teks, karena hanya mujtahid yang boleh mengambil pemahaman tanpa menyadandrkan pada tekstualitas outentiknya.
Sebenarnya bisa lebih detail dan mendalam, tapi khawatir dijimplak para akademisi yang malas baca dan malas mikir. Iziiiin.
Setiap pagi saya membaca fatihah untuk Imam Hasan Bana, disamping para ulama lain.
Semoga Allah merahmati Imam Hasan Bana meski usianya hanya 42 tahun, seperti Imam Nawawi, atau al-Ghazali yang hanya 55 Tahun, tapi usia kualitatifnya sangat panjang dan melahirkan para raksasa luar biasa yang jasanya tida tiara bagi umat Islam. Wallahu A’lam.
Ahmad Tsauri

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *