Usulan terbaru, yang dicemooh Teheran sebagai “daftar keinginan”, mungkin bisa menjadi jalan keluar – tetapi dengan 5.000 korban tewas, harganya sangat mahal.
Satu hari lagi, satu lagi belokan tajam dalam kebijakan luar negeri Donald Trump.
Akhir pekan dipenuhi retorika perang, dengan Trump bersikeras Iran belum “membayar harga yang cukup besar”. Selasa diisi dengan “Project Freedom”, yang digambarkan sebagai langkah “kemanusiaan” besar untuk memungkinkan kapal-kapal dan awaknya keluar dari Teluk, tetapi juga bertujuan melemahkan cengkeraman Iran atas Selat Hormuz.
Namun, pada Rabu dini hari, narasi kembali berubah ke arah perdamaian. Presiden mengumumkan bahwa “kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final”, sehingga Project Freedom akan dihentikan sementara untuk memberi kesempatan pada negosiasi.
Ketiga pendekatan dalam tiga hari berturut-turut ini memiliki satu kesamaan: semuanya merupakan upaya menghadapi kenyataan keras yang sama. Rezim Iran tidak mungkin runtuh atau menyerah pada hak pengayaan uranium, berapa pun bom yang dijatuhkan. Teheran juga telah menunjukkan kemampuannya menutup Selat Hormuz, dan blokade total Teluk justru merugikan ekonomi AS selain Iran.
Fakta-fakta ini membentuk semacam “kotak baja” yang menjebak pemerintahan Trump—sebagian besar akibat tindakannya sendiri. Perubahan kebijakan yang berulang menunjukkan ia seperti tersesat di dalam perangkap itu, mencari jalan keluar selain penghinaan atau perang tanpa akhir.
Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah Trump telah menemukan jalan keluar. Ancaman tambahan untuk meningkatkan pemboman “dengan tingkat dan intensitas lebih tinggi” jika Iran menolak kesepakatan menunjukkan keraguannya sendiri.
Proposal damai yang rapuh
Rincian proposal mulai jelas pada Rabu. Dilaporkan bahwa AS, Iran, dan mediator Pakistan hampir menyepakati sebuah “nota kesepahaman” satu halaman untuk mengakhiri perang dan memulai negosiasi 30 hari terkait program nuklir Iran, sanksi AS, dan aset Iran yang dibekukan.
Kedua pihak juga akan mencabut blokade di Selat Hormuz selama periode tersebut.
Pengumuman Trump sempat menurunkan harga minyak dan mengangkat pasar saham, tetapi situasinya tetap rapuh.
Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz mungkin terjadi, tetapi belum memberikan jawaban tegas. Teheran menegaskan blokade harus diakhiri terlebih dahulu sebelum negosiasi dimulai.
Seorang pejabat parlemen Iran bahkan menyebut proposal itu sebagai “daftar keinginan Amerika, bukan kenyataan”.
Tantangan besar
Bahkan jika negosiasi dimulai, 30 hari adalah waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan konflik kompleks seperti program nuklir Iran dan sanksi internasional.
Sebelum perang, Iran menawarkan moratorium pengayaan uranium selama lima tahun, sementara AS menuntut 20 tahun. Proposal baru mengarah pada kompromi sekitar 12–15 tahun.
Iran juga sebelumnya bersedia mengurangi atau mengekspor stok uranium yang diperkaya tinggi. Proposal baru mengarah pada ekspor, bahkan mungkin ke AS.
Sebagai imbalan, aset Iran yang dibekukan akan dicairkan bertahap dan sanksi dicabut secara bertahap.
Namun agenda ini sangat ambisius dan rentan gagal. Kedua pihak tampaknya masih percaya bahwa pertempuran lebih lanjut bisa memperkuat posisi mereka dalam negosiasi—situasi yang tidak stabil untuk mencapai perdamaian.
Israel juga diperkirakan akan menolak kesepakatan yang tidak mencakup rudal Iran atau peran proksi regionalnya.
Harga yang sangat mahal
Jika berhasil, kesepakatan ini mungkin sedikit lebih baik dibanding yang dibahas sebelum perang pada Februari. Namun, peningkatan tersebut datang dengan harga yang mengerikan.
Lebih dari 5.000 orang telah tewas, termasuk 120 anak sekolah dasar pada hari pertama serangan di Minab, serta korban di Lebanon.
Dampak global juga besar: PBB memperkirakan 32 juta orang bisa jatuh ke dalam kemiskinan akibat perang, terutama karena gangguan pasokan energi dan pupuk.
Kepala kemanusiaan PBB menyatakan bahwa dana perang sebesar 2 miliar dolar per hari sebenarnya bisa menyelamatkan sekitar 87 juta nyawa jika digunakan untuk bantuan kemanusiaan.
Kesimpulan
Sulit memastikan apakah perang ini memperkuat atau justru melemahkan rezim Iran. Untuk saat ini, tampaknya justru memperkuat kelompok militer dan garis keras.
Masih banyak ketidakpastian seputar kemungkinan terobosan ini, dan setiap kemajuan akan sangat rapuh.
Namun, bahkan jika perang berakhir dan kesepakatan tercapai, konflik ini tampaknya akan dikenang sebagai salah satu perang paling sia-sia dalam sejarah.
Oleh : Julian Borger, di Yerusalem The Guardian)

Komentar