Kolom
Beranda » “Hantu” itu Bernama Budiman Sudjatmiko

“Hantu” itu Bernama Budiman Sudjatmiko

Zaman berputar, dan manusia pun ikut berputar. Baru kemarin Budiman kembali berdebat dengan mahasiswa. Tuduhan lama diulang lagi: “Kau tak seperti dulu.” Ah, seakan-akan manusia boleh berhenti di satu titik, seperti patung yang dipaku di trotoar sejarah.
Ingatanku melompat ke Purwokerto, beberapa tahun silam. Aula kampus yang pengap. Budiman hendak melangkah ke gedung parlemen. Idealismenya dibedah, dikuliti, dipaksa telanjang di depan umum. Ia tak lari. Ia duduk, tenang.
Jawabnya sederhana, tapi menampar: “Yang penting bukan di mana kita berdiri hari ini, Bung. Yang penting, cita-cita itu masih kita gendong, masih kita perjuangkan.”
Ya, kami berbeda. Aku dan kawan-kawan dibesarkan oleh jalanan. Kami diajarkan curiga pada kuasa, alergi pada singgasana. Merapat pada yang berkuasa dianggap noda. Bahkan selera bola pun jadi penanda: ia memuja Real Madrid, lambang kemegahan dan dominasi. Aku setia pada Barcelona, yang katanya suara kaum pinggiran.
“ Aku bukan aktivis yang hanya bisa berteriak dari luar pagar,” katanya suatu kali. Suaranya datar, tapi berat. “Kekuasaan itu bukan untuk dimaki dari jauh. Ia harus direbut. Jika kita haramkan aktivis masuk ke dalamnya, maka yang tertawa adalah mereka yang tak pernah merasakan dinginnya sel penjara, tak pernah merasakan lapar di tengah demonstrasi.”
Baginya, memboikot kekuasaan sama saja menyerahkan kemudi pada nahkoda yang tak pernah merasakan badai. Masuk ke sistem, katanya, adalah siasat. Oposisi hari ini bukan lagi dari rahim sosialisme, melainkan dari perut neoliberalisme itu sendiri. Logika yang pahit, tapi jujur.
Dalam suatu waktu, ia menyebut nama-nama besar: Soekarno, Hatta, Sjahrir. Mereka tidak berhenti jadi orator di alun-alun. Mereka masuk, berunding, berkuasa, lalu menuliskan Indonesia dengan tinta kebijakan. Sejarah tidak ditulis oleh mereka yang hanya berteriak dari luar.
Tentu, banyak yang meludah. Banyak yang menuduh ia menjual keyakinan. Dalam kesempatan lain, Aku bertanya langsung kepadanya, menatap matanya: “Benarkah kau sungguh mengagumi Megawati?” Rautnya tak berbohong.
Seorang anak jalanan mengakui kekagumannya pada pusat kekuasaan itu aneh, tapi manusia memang penuh paradoks.
Begitu pula saat ia membela Gus Dur. Aku tetap di barisan oposisi. Begitu pula ketika ia kemudian berjalan ke arah Prabowo. Katanya, di sana ada ideologi yang kuat, ada napas sosialisme yang bisa melawan arus neoliberal yang mencekik. “Prabowonomics,” ujarnya.
Sebuah jihad baru untuk menumbangkan kemiskinan dan kebodohan. Penjelasannya panjang, berlapis, meyakinkan. Aku mendengar, dan mencatat.
Kami memang sering berbeda dalam merumuskan langkah. Di meja BP Taskin, kami bertikai soal analisis, soal kata, soal strategi. Tapi ruang itu tak pernah kami kunci. Sebab perdebatan, katanya, adalah napas berpikir. Diam adalah kematian gagasan.
​Pada akhirnya, nama Budiman Sudjatmiko tampaknya akan selalu menjadi “hantu” yang membayangi setiap momentum transisi sejarah bangsa ini. Entah itu dimaknai secara negatif maupun positif, hal tersebut sudah cukup membuktikan bahwa ia telah menjelma menjadi seorang tokoh sentral.
​Kita mungkin akan melihatnya dari kacamata negatif jika kita terjebak pada asumsi bahwa ia terlahir dan harus mati semata-mata sebagai seorang pemberontak berdandan lusuh dengan pikiran tajam, semacam Tan Malaka atau Che Guevara yang romantis-revolusioner, sembari kita sendiri sekadar duduk manis menikmati kenyamanan kebebasan yang turut ia perjuangkan di masa lalu.
​Sebaliknya, kita akan memandangnya secara positif jika kita menyadari bahwa waktu selalu bergerak maju, dan seiring dengan itu, manusia pun berevolusi. Budiman memang berubah, tetapi perubahannya bukanlah pada hilangnya keberpihakan, pengkhianatan terhadap nilai-nilai sosialisme demokratis, atau menumpusnya ketajaman analisis. Ia sekadar bergeser posisi sebuah posisi yang nyatanya tak pernah ia jadikan sebagai lahan untuk mencari kenyamanan hidup pribadi.
​Dalam hal ini, kiprahnya lebih relevan disandingkan dengan sosok pembangun bangsa seperti Soekarno, Sutan Sjahrir, Lula da Silva, atau Kim Dae Jung. Menuntutnya untuk terus mematung sebagai “the rebel without a cause” seperti James Dean di masa lalu adalah sebuah kesalahan cara pandang, bahkan sebuah hasutan yang menyesatkan.
​Budiman adalah Budiman. Ia telah menjadi penanda bagi sejarah. Kini, tinggal bagaimana kita mengamati apakah arah panah sejarah yang ia isyaratkan tentang konstelasi dunia dan Indonesia kali ini akan tepat sasaran atau meleset. Barulah setelah itu, kita bisa kembali menuliskan komentar panjang tentangnya. Ia adalah sosok yang bisa saja tidak disukai sebagian dari kita, tetapi mustahil untuk dilupakan.
​Lalu, bagaimana dengan saya? Saya lebih memilih untuk beradu argumentasi secara langsung dengannya atas tiap-tiap tanda yang ia kirimkan. Sebab, Budiman tentu tidak selalu benar—itu pasti—tetapi sejarah juga mencatat bahwa ia tak melakukan kesalahan yang besar. Ia mungkin berbeda dengan saya tapi ia punya cita-cita yang diperjuangkannya untuk kemajuan Indonesia. Tanpa mencuri kenikmatan ragawi untuk dirinya.
Barid Hardiyanto (Pegiat Pergerakan Sosial). Tinggal di Purwokerto.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *