Kolom
Beranda » Bangun Bisnis Bangun Peradaban

Bangun Bisnis Bangun Peradaban

Seorang Ulama besar 600 tahun yang lalu, Abdurrahman Bin Khaldun, telah menemukan strategi membangun sebuah Bisnis sama dengan strategi membangun Peradaban, temuan yang ia dapatkan dari sebuah penelitian intens selama 4 tahun lamanya itu, menjelaskan bahwa, kemakmuran sebuah peradapan itu dapat diciptakan.

Ibnu Khaldun mengistilahkan kemakmuran itu dengan sebutan Umran, yang bermakna Kemakmuran atau peradaban yang hidup. Kemakmuran itu tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh bertahap: mulai dari sekelompok orang yang saling percaya dan bekerjasama, lalu membesar menjadi masyarakat yang makmur dan jika tidak dijaga maka akan melemah dan runtuh.

Jika kita hubungkan hal ini dengan Bisnis, ternyata pola itu juga berlaku juga dalam proses membangun bisnis, tentang seseorang yang sedang membangun rizkinya, kemakmuran atau kekayaan juga tumbuh secara bertahap.

Dimulai dari lingkungan kecil yang saling percaya, membesar lewat kerjasama dan nilai yang kita ciptakan, lalu perlu di jaga agar tidak terjadi kebocoran dan akhirnya bangkrut.

Membangun rizki atau bisnis dengan cara meniru sebuah peradaban jadi makmur. Bukan melompat ingin langsung kaya, tapi dengan menapaki tahap demi tahap secara berurutan.

Seperti panduan teknis, ia punya urutan yang sebaiknya tidak di bolak balik. Tentunya kita tidak bisa menjaga kekayaan yang belum kita bangun. Dan siapapun tidak bisa membangun kekayaan tanpa pondasi yang benar.

Sebagaimana yang disebutkan Ibnu Khaldun didalam karyanya bahwa membangun Peradaban/Kekayaan, dilakukan dalam tiga tahap yaitu, Tahap pertama membangun pondasi, yakni kekuatan tak terlihat berupa jaringan, kepercayaan dan kerjasama, tanpa pondasi ini semua usaha terasa berat karena dikerjakan sendirian.

Inilah hal yang sering dilupakan orang yang ingin cepat kaya. Mereka langsung berfikir tentang barang dan uang, padahal sunnatullahnya kemakmuran selalu bermula dari hubungan antar manusia.

Tahap Kedua: Menumbuhkan, menciptakan nilai yang sungguh dibutuhkan orang, lalu membawanya ke pasar yang tepat tempat banyak orang berkumpul. Di tahap inilah rezeki mulai mengalir deras, karena di tahap ini anda tidak  hanya sekedar mencari uang, tapi sudah mulai memberi manfaat dan orang rela bayar krn nya.

Tahap ketiga, Menjaga: memastikan kekayaan yang sudah datang tidak bocor karena beban berlebihan, gaya hidup boros, atau akhlak yang merosot.

Pemikiran yang ditemukan Ibnu Khaldun dari penelitian intensifnya ini yang kemudian dituangkan beliau didalam kitabnya ini menunjukkan, ia menggambarkan bahwa membangun kekayaan menjadi masuk akal dan bisa dikejar.

Anda tak perlu menanti warisan, tak perlu menunggu keberuntungan besar, dan tak perlu menjadi orang lain. Cukup menapaki tahapnya dengan sabar dan benar. Sama seperti membangun kampung kecil menjadi kota yang ramai kalau penghuninya saling bekerjasama dan menciptakan manfaat, hidup anda pun bisa tumbuh dari pas-pasan jadi berkecukupan, lalu berlimpah.

Jadi Saudara-saudari sekalian dari pemikiran Ibnu Khaldun ini, bisa kita katakan bahwa rezeki itu berhukum, Allah memberinya lewat sebab. Tugas kita bukan menebak nasib, tapi mengenali sebab-sebab yang benar, lalu mengerjakannya dengan benar dan jujur. Sisanya kita titipkan.

Hal ini juga menjadi sesuatu yang menjelaskan kepada kita bahwa ada satu pemandangan yang sampai hari ini masih terlihat, mengapa kekayaan itu belum dimiliki oleh ummat muslim bahkan yang paham syari’at, Alhafiz, bahkan seorang tokoh, tapi masih kita lihat kehidupannya masih memprihatinkan, yang berlawanan kontras dengan pengetahuannya, status agamanya dll.

Hal ini tentunya menjadi pertanyaan besar, ilmu agamanya melimpah tapi kehidupannya pas-pasan. Dan sepertinya hal ini dianggap wajar, seakan miskin dan soleh harus jalan bareng. Muncul Pertanyaan, apakah kekayaan hanya milik orang yang tidak peduli akhirat?

Hal inilah yang ternyata 600 tahun yang lalu sudah diungkapkan oleh Ibnu Khaldun didalam karyanya, bahwa rezeki dan kemakmuran sebuah masyarakat itu punya hukum yang dapat dipelajari. Bukan sihir, bukan untung-untungan. Tapi pola yang berulang dan masuk akal, artinya semua orang bisa memiliki kekayaan dan kemakmuran, asalkan polanya kita jalani dan bangun dengan baik.

Khairur Rasyid
Direktur Ummu Kuliner Nusantara

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *