Tim nasional sepak bola Iran mendarat di perbatasan Meksiko dari California pada Ahad dini hari, mengakhiri berbulan-bulan keraguan mengenai apakah mereka akan dapat tampil di Piala Dunia FIFA 2026. Para pemain turun dari pesawat mengenakan pin emas bertuliskan angka “168”, merujuk kepada jumlah korban tewas sebagian besar anak-anak dalam serangan rudal pada 28 Februari terhadap sebuah sekolah putri di Iran selatan pada hari pertama perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Beberapa hari menjelang pembukaan turnamen pada 11 Juni, Iran menjadi satu-satunya tim yang datang dari negara yang secara efektif sedang berperang dengan salah satu dari tiga tuan rumah Piala Dunia Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Keikutsertaannya memicu berbagai perselisihan di luar lapangan terkait visa, tiket, dan pertandingan fase grup yang berubah menjadi titik panas dalam perang budaya, menjadikan ajang olahraga terbesar dunia itu sebagai panggung konflik antara Teheran dan Washington.
Iran akan memulai pertandingan melawan Selandia Baru di Inglewood, dekat Los Angeles, pada 15 Juni; kemudian menghadapi Belgia di kota yang sama pada 21 Juni; dan menutup fase grup melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni. Tim ini bermarkas di Tijuana, Meksiko, di antara jadwal pertandingan dan akan menyeberang ke Amerika Serikat setiap kali bertanding.
Bayang-Bayang Perang Iran-AS atas Piala Dunia 2026
Perselisihan mengenai posisi Iran di turnamen ini tidak dapat dipisahkan dari perang yang membayanginya sejak Februari.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran yang, menurut pernyataan AS dan Israel, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah tokoh militer dan pemerintahan senior. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara sekutu AS di kawasan, dan juga bergerak untuk menutup Selat Hormuz.
Gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April. Namun pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan, dan gencatan senjata tersebut berulang kali mengalami ketegangan.
Pada 7 dan 8 Juni, Israel dan Iran kembali saling melancarkan serangan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Ledakan dilaporkan terjadi di Teheran, Tabriz, Karaj, dan Isfahan setelah Iran menembakkan rudal ke wilayah utara Israel. Serangan itu merupakan serangan rudal langsung pertama Iran terhadap Israel sejak diumumkannya gencatan senjata.
“Israel dan Iran harus segera berhenti saling menembak,” tulis Presiden Donald Trump di platform Truth Social pada Senin.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel telah menghentikan serangannya, meskipun tidak secara eksplisit mengakui adanya gencatan senjata resmi. Iran menyatakan telah menangguhkan operasinya, tetapi memperingatkan bahwa serangan akan dilanjutkan jika Israel terus menyerang Lebanon selatan.
Mengapa Pemain Iran Memakai Pin “168”?
Serangan yang menjadi sumber penghormatan melalui pin tersebut menghantam Sekolah Putri Shajareh Tayyebeh di Minab, dekat kompleks Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pejabat Iran menyatakan sedikitnya 168 orang tewas, sebagian besar anak-anak. Penyelidik militer Amerika meyakini bahwa pasukan AS kemungkinan bertanggung jawab, dengan laporan yang menyebutkan rudal jelajah Tomahawk menghantam sekolah itu akibat kesalahan penargetan.
Baik Amerika Serikat maupun Israel belum mengakui tanggung jawab atas serangan tersebut. Militer AS menyatakan bahwa mereka tidak pernah menargetkan warga sipil. Kepala HAM PBB mendesak Washington untuk menyelesaikan dan mempublikasikan hasil penyelidikannya.
Para pemain Iran pertama kali mengenang para korban dalam laga pemanasan di Antalya, Turki, pada bulan Maret. Saat lagu kebangsaan diputar, mereka memegang tas sekolah berwarna merah muda dan ungu. Kedutaan Iran di Hungaria juga menyoroti penggunaan pin tersebut dalam unggahan media sosial pada Senin.
Pada Maret, Donald Trump sempat menyatakan bahwa ia tidak menganggap kehadiran tim Iran di Piala Dunia sebagai sesuatu yang “tepat”, dengan alasan keselamatan para pemain. Federasi Sepak Bola Iran menanggapi sehari kemudian dengan menyatakan bahwa “tidak seorang pun dapat mengecualikan” Iran dari turnamen.
FIFA tetap bersikeras bahwa Piala Dunia akan berlangsung sesuai jadwal.
“Sudah tentu Iran akan berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA,” kata Presiden FIFA, Gianni Infantino. “Alasannya sangat sederhana: kita harus bersatu.”
Penolakan Visa Menghantam Delegasi Iran
Perselisihan mengenai siapa yang dapat memasuki Amerika Serikat berlangsung berbulan-bulan seiring perang.
Iran memboikot undian grup Piala Dunia di Washington pada 5 Desember setelah Amerika Serikat hanya memberikan empat visa kepada delegasi Iran dan menolak visa Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj.
Juru bicara federasi, Amir-Mahdi Alavi, menyatakan bahwa para pejabat menghadapi “hambatan visa yang melampaui pertimbangan olahraga”.
Para pemain akhirnya memperoleh visa AS pada Jumat, sekitar sepuluh hari sebelum laga perdana mereka, setelah mengajukan permohonan di Kedutaan Besar AS di Ankara ketika menjalani pemusatan latihan di Turki.
Namun beberapa staf pendukung tidak mendapatkan izin masuk. Federasi Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat menolak visa bagi “anggota manajerial dan administratif kunci”. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa 14 staf dan pejabat tidak memperoleh visa, termasuk Sekretaris Jenderal federasi Hedayat Mombeini dan Wakil Presiden Mehdi Mohammad Nabi. Taj juga disebut termasuk yang ditolak.
“Campur tangan politik dalam olahraga dalam bentuk terburuknya,” kata federasi Iran, yang menuduh Washington melakukan “perilaku penuh dendam”.
Pemerintahan Trump sebelumnya mengumumkan larangan perjalanan yang mencakup warga dari 12 negara, termasuk Iran. Namun dijanjikan adanya pengecualian bagi atlet, pelatih, dan staf pendukung yang diperlukan untuk menghadiri ajang besar seperti Piala Dunia.
Ketidakpastian itu mendorong Iran memindahkan markas latihan mereka dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko.
Jatah Tiket Piala Dunia Iran Dicabut
Perselisihan terbaru muncul pada Selasa, dua hari sebelum turnamen dimulai.
Federasi Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat mencabut jatah tiket untuk ketiga pertandingan fase grup mereka. Berdasarkan aturan FIFA, setiap federasi peserta memperoleh 8 persen alokasi tiket tiap pertandingan untuk didistribusikan kepada para pendukungnya melalui jalur resmi.
“Kurang dari tiga hari menjelang dimulainya Piala Dunia 2026, Amerika Serikat sekali lagi bertindak menghalangi kehadiran pendukung Iran di stadion tempat tiga pertandingan fase grup tim nasional berlangsung,” kata federasi dalam pernyataannya.
Federasi menyebutkan bahwa mereka telah mulai menjual tiket pertandingan melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir setelah menerima kuota tersebut, dan sebagian suporter sudah membuat rencana perjalanan.
Kini, menurut federasi, mereka “tidak dapat menyediakan satu pun tiket” bagi pendukung tim nasional.
Federasi menilai tindakan itu bertentangan dengan semangat kompetisi internasional dan prinsip kesetaraan di antara negara peserta. Mereka mendesak FIFA dan penyelenggara turnamen untuk menjunjung prinsip netralitas, keadilan, dan aturan yang berlaku.
Baik FIFA maupun penyelenggara di Amerika Serikat belum memberikan komentar publik mengenai tuduhan tersebut.
Pertandingan “Pride Match” Iran vs Mesir di Seattle
Pertandingan terakhir Iran di fase grup, melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni, bertepatan dengan akhir pekan perayaan Pride di kota tersebut.
Panitia penyelenggara Seattle telah menetapkannya sebagai “Pride Match”, lengkap dengan program komunitas dan karya seni dari seniman LGBTQ lokal, bahkan sebelum diketahui tim mana yang akan bertanding.
Iran dan Mesir menyampaikan keberatan setelah hasil undian mempertemukan kedua tim.
Di antara tuntutan yang diajukan federasi Iran kepada FIFA adalah jaminan bahwa hanya bendera nasional yang boleh ditampilkan di dalam stadion. Permintaan ini dinilai bertentangan dengan kerangka hak asasi manusia FIFA untuk Piala Dunia 2026.
Mehdi Taj menyebut penetapan laga itu sebagai “langkah yang tidak rasional”.
Namun penyelenggara Seattle menyatakan tidak akan mengubah rencana.
Juru bicara panitia, Hana Tadesse, mengatakan bahwa program komunitas selama akhir pekan Pride akan tetap berlangsung sebagaimana direncanakan. Ia juga menegaskan bahwa wilayah Seattle merupakan rumah bagi salah satu komunitas warga keturunan Iran terbesar di Amerika Serikat, serta memiliki diaspora Mesir yang cukup besar.
Hubungan Iran dengan diasporanya sendiri memang penuh ketegangan. Sebagian warga Iran-Amerika berencana menghadiri pertandingan sebagai bentuk protes karena memandang tim nasional sebagai simbol pemerintah Iran. Sebagian lainnya memilih mengesampingkan politik dan mendukung Team Melli (julukan tim nasional Iran).
Skuad Iran mencakup 17 pemain yang bermain di liga domestik, yang klub-klubnya tidak bertanding sejak Februari akibat perang. Penyerang Sardar Azmoun, pencetak gol aktif terbanyak Iran, dicoret dari tim setelah mengunggah foto pertemuan dengan penguasa Dubai.
Apabila Iran dan Amerika Serikat sama-sama finis sebagai runner-up grup masing-masing, keduanya berpotensi bertemu pada babak 32 besar pada 3 Juli di Arlington, Texas. (Newsweek)

Komentar