Internasional
Beranda » Iran Luncurkan Rudal ke Israel sebagai Balasan Atas Serangan di Beirut

Iran Luncurkan Rudal ke Israel sebagai Balasan Atas Serangan di Beirut

Pejabat Teheran sebelumnya menjanjikan respons yang “tegas dan menyakitkan” terhadap pemboman Israel terhadap gedung-gedung apartemen di pinggiran selatan Beirut.
Oleh : Lorenzo Tondo di Yerusalem dan William Christou di Beirut
Iran meluncurkan rudal ke Israel pada hari Minggu (7/6) sebagai tanggapan atas serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut. Tindakan ini menghancurkan gencatan senjata yang rapuh dan menandai eskalasi paling serius sejak April, setelah 100 hari perang.
Seorang pejabat senior Iran telah menjanjikan respons yang “tegas dan menyakitkan” terhadap serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut. Beberapa jam kemudian, sirene peringatan berbunyi di seluruh wilayah utara Israel.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa mereka telah mencegat seluruh rudal balistik Iran yang ditembakkan sejauh ini. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan memintanya untuk “tidak membalas serangan”, seraya mengatakan bahwa ia “tidak senang” dengan situasi tersebut dan bahwa hal itu “tidak akan membantu” proses negosiasi dengan Teheran.
Setelah serangan Israel di kawasan Dahieh, Beirut, juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menulis di X:
“Kami akan memberikan respons yang tegas dan menyakitkan terhadap serangan rezim Zionis di pinggiran kota … Saksikan langit wilayah pendudukan malam ini.”
Iran menganggap Israel sebagai wilayah Palestina yang diduduki.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa pangkalan dan aset Amerika Serikat di kawasan kini telah menjadi “target yang sah” setelah serangan Israel tersebut.
Ia menulis di X:
“Mereka tidak berkomitmen pada gencatan senjata maupun percaya pada dialog. Melalui blokade laut dan pelanggaran terhadap kesepakatan mengenai Lebanon, mereka menunjukkan bahwa mereka hanya memahami bahasa kekuatan.”
Pada Minggu malam, IDF mengatakan bahwa rudal telah diluncurkan dari Iran menuju Israel dan mereka juga bersiap menghadapi serangan lanjutan setelah operasi mereka di Beirut.
Iran menembakkan sekitar 10 rudal balistik ke wilayah utara Israel.
Menurut militer Israel, seluruh rudal tersebut berhasil dicegat atau jatuh di area terbuka.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan:
“Operasi ini bukanlah peristiwa sesaat, melainkan awal dari satu minggu penuh serangan berkelanjutan.”
Dalam pernyataan lain, IRGC menambahkan:
“Gelombang rudal dan drone akan terus diluncurkan siang dan malam selama tujuh hari ke depan hingga musuh jera dan menghentikan kejahatannya.
Setiap serangan terhadap wilayah Iran akan dibalas dengan respons yang menghancurkan dan melampaui segala perkiraan.”
Pekan lalu, Teheran telah memperingatkan bahwa setiap serangan Israel terhadap Beirut akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata AS-Iran dan akan dibalas dengan serangan ke Israel. Media Israel pada Minggu melaporkan bahwa serangan terbatas terhadap wilayah Israel oleh Iran dan Hezbollah telah diperkirakan setelah serangan di Beirut.
Serangan terhadap pinggiran selatan Beirut, yang merupakan basis kuat Hezbollah, menghantam dua apartemen di dua gedung berbeda. Menurut kantor berita negara Lebanon, dua orang tewas dan sebelas lainnya terluka berdasarkan data awal.
Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa militer Israel menyerang “markas teroris” di pinggiran selatan Beirut sebagai respons atas tembakan Hezbollah ke wilayah Israel. Israel mengatakan telah mencegat roket yang ditembakkan ke wilayah utara negara itu pada Minggu pagi, meskipun Hezbollah tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Serangan-serangan itu menimbulkan kerusakan besar dan memicu eksodus warga dari pinggiran selatan Beirut karena khawatir akan adanya serangan lanjutan.
Setelah serangan rudal Iran ke Israel utara, Trump mendesak Teheran kembali ke meja perundingan.
Ia mengatakan kepada Fox News:
“Saran saya kepada Iran: kalian sudah menembakkan rudal, itu sudah cukup. Kembali ke meja perundingan dan buatlah kesepakatan.”
Trump menambahkan bahwa ia tidak senang dengan serangan Israel terhadap Beirut selatan.
“Ini jelas tidak akan membantu negosiasi. Kita sudah sangat dekat. Saya kira kesepakatan bisa ditandatangani Senin, Selasa, atau Rabu minggu depan. Lalu sekarang ini terjadi.”
Kepada Axios, Trump juga mengatakan:
“Jika Netanyahu membalas Iran, maka ini hanya akan terus berlanjut seperti 47 tahun terakhir, atau bahkan 3.000 tahun terakhir.”
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat “sangat dekat” dengan kesepakatan damai dengan Iran dan tidak ingin upaya tersebut gagal akibat perkembangan terbaru.
Serangan terhadap Beirut terjadi hanya beberapa hari setelah Hezbollah menolak proposal gencatan senjata yang telah disetujui pemerintah Lebanon dan Israel. Sebelumnya Washington telah meminta Israel untuk tidak menyerang Beirut, meskipun media Israel melaporkan bahwa AS telah diberi tahu sebelum serangan Minggu tersebut.
Pertempuran di Lebanon dimulai pada 2 Maret ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang kemudian memicu invasi Israel ke Lebanon.
Serangan-serangan Israel telah menewaskan lebih dari 3.613 orang di Lebanon, sementara Hezbollah telah menewaskan sedikitnya 30 tentara Israel di Lebanon dan tiga warga sipil Israel.
Bentrokan di Lebanon menjadi hambatan bagi negosiasi Iran-AS karena Teheran bersikeras agar Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata yang lebih luas.
Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengatakan bahwa ia tidak menuntut agar Lebanon menjadi bagian dari kesepakatan damai dengan Iran.
“Saya rasa mereka ingin melihat itu, tetapi saya tidak menuntutnya.”
Namun ia kembali mengancam:
“Kami sangat dekat dengan sebuah kesepakatan, atau saya akan menghancurkan mereka (Iran).”
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menulis di X:
“Kembalinya konflik antara Iran dan Israel tidak menguntungkan siapa pun. Kedua pihak harus menahan diri dan segera melakukan de-eskalasi.
Negosiasi harus terus berlanjut menuju penyelesaian jangka panjang yang kita semua perlukan demi perdamaian, stabilitas kawasan, dan pemulihan penuh perdagangan global.”
Sebelum serangan hari Minggu, Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi sebagian besar kota Tyre, salah satu kota terbesar di Lebanon selatan yang menampung ribuan pengungsi dari desa-desa sekitarnya.
Israel juga melancarkan serangan udara di berbagai wilayah Lebanon selatan, sementara Hezbollah mengaku bertanggung jawab atas rentetan serangan roket dan artileri terhadap pasukan Israel di wilayah Nabatieh.
Pada Sabtu, militer Israel menewaskan dua tentara Lebanon dan seorang kapten tentara dalam serangan terhadap kendaraan mereka. Tentara Lebanon bukan pihak yang terlibat dalam perang antara Hezbollah dan Israel.
Pemerintah Lebanon dan Israel saat ini sedang bernegosiasi langsung di Washington untuk mencapai gencatan senjata menyeluruh. Namun Hezbollah, yang menjadi pihak utama dalam pertempuran melawan Israel, tidak ikut serta dalam perundingan tersebut dan menegaskan bahwa mereka tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun yang tidak mencakup penarikan pasukan Israel dari Lebanon serta penghentian seluruh serangan Israel di negara itu.
Sementara itu, warga Israel bersiap menghadapi kemungkinan serangan lanjutan dari Iran, yang membangkitkan kembali kekhawatiran akan konflik yang sempat mereda setelah gencatan senjata sementara pada April.
Di saat yang sama, pasukan Israel terus melakukan serangan di Gaza. Pada Minggu, serangan terhadap kantor polisi yang dikelola Hamas dan sebuah kendaraan di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai 20 lainnya, menurut pejabat kesehatan setempat.
Selain itu, seorang warga Arab-Israel melepaskan tembakan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar dekat kota Kokhav Yair, menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya sebelum akhirnya ditembak mati oleh polisi. Polisi kemudian mengidentifikasi pelaku sebagai penduduk kota Taybeh, sementara motif serangan tersebut belum diketahui secara pasti. (The Guardian)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *