Kolom
Beranda » Filsafat Sebagai Rehat

Filsafat Sebagai Rehat

Hidup selalu perlu rehat. Sengaja meluangkan waktu sejenak dari aktivitas guna memulihkan tenaga, pikiran, dan menenangkan diri. Lazimnya orang kebanyakan, menamakan ini dengan liburan. Saya sendiri, tentu tak menolak liburan. Hanya saja, yang paling kerap saya lakukan, mungkin agak beda, menyapa filsafat. Ya, saya jadikan filsafat sebagai semacam rehat.

Kenapa saya memilih filsafat? Setiap hari aktivitas dan pekerjaan saya lebih banyak aktivitas otak daripada fisik. Saya lebih banyak duduk, menulis, membaca naskah “Storytelling” video yang saya tulis sebelumnya, bertanya pada acara podcast sebagai host dan menjadi pembicara beberapa forum (FGD, workshop, seminar, acara media).

Maka, “Membaca” filsafat menjadi jeda, liburan sekaligus hiburan tersendiri bagi saya. Agak aneh kelihatanya. Bukannya membaca filsafat malah bikin pikiran semakin kusut? Bagi saya tidak. Memang, selain itu bisa dengan mendengarkan musik. Hanya kemudian, jeda pada filsafat saya pilih karena inilah yang memberikan kesegaran pemikiran setelahnya.

Saya menekuni filsafat secara mandiri. Konon, banyak pintu untuk mengenal filsafat. Entah itu lewat pintu definisi, sistematika akademis, sejarah maupun pemikiran tokoh. Saya kurang begitu mendalami pintu definisi maupun sistematika filsafat dalam dunia akademis.

Hanya saja, sedikit banyak saya geluti, bagaimana filsafat bisa dilihat dari sejarah. Umpamanya, filsafat ada yang berpendapat dirintis oleh Nabi Idris yang dalam Bahasa Yunani dikenal sebagai Hermes. Dengan demikian, saya sampai saat ini yakin, sebenarnya filsafat muncul dari ceruk kenabian juga. Lantas, dari sejarah pula kita menjadi tahu bagaimana hadir filsafat Barat (Yunani) dan Filsafat Timur (Persia, India, China). Kemudian, sejarah juga memunculkan para filsuf muslim klasik (abad 8-15 M) dan filsuf muslim kontemporer (abad 17-sekarang).

Sementara, pintu paling terbuka dalam mengenal filsafat tentu lewat pemikiran para tokohnya. Dari Socrates, Plato, Aristoteles kemudian Al-Farabi, Ibn Sina, begitu juga Descartes, Nietzche, Heidegger sampai Arkoun, Derrida, Habermas dan seterusnya. Bagi penghayat filsafat Jawa, sangat mungkin mengenal, semisal Ki Ageng Suryomentaram yang diigelari sebagai “Plato dari Jawa”. Ia seorang pangeran Mataram yang menanggalkan gelar kebangsawanannya untuk membaur dengan rakyat. Ia menggagas Kawruh Jiwa (ilmu kebahagiaan dan pengenalan diri) yang rasional.

Begitulah saya melihat filsafat dari pintu “Sejarah” dan “Tokoh”.

Memang, saya tak membaca filsafat secara mengawang-awang. Tidak pula sebagai semacam pamer wacana yang melangit dan hanya dipahami oleh orang-orang tertentu. Saya berusaha menarik filsafat dalam kehidupan keseharian. Hal ini saya lakukan dengan kesadaran, karena awalnya filsafat toh sebenarnya lahir dari kondisi demikian.

Kita paham bagaimana misalnya keprihatinan moral Plato terhadap masyarakat Yunani waktu itu mencetuskan gagasan ‘Dunia Idea”. Begitu juga semisal renungan Einstein tentang konsep ruang waktu, materi energi melahirkan “Teori Relativitas” dan seterusnya.

Kemudian, dari hasil membaca juga, saya kemudian bisa membedakan filsafat sebagai produk pemikiran dan filsafat sebagai metode berpikir. Yang pertama, sebagai hasil akhir dari pemikiran para tokoh atau aliran tertentu (seperti gagasan Plato, Aristoteles, atau Marxisme). Di sini, kita bisa setuju atau menolak. Orang boleh tidak sepakat dengan isi atau kesimpulan dari sebuah teori filsafat.

Yang kedua, filsafat sebagai alat, cara, atau proses mental yang rasional, kritis, mendalam, dan konseptual untuk memandang suatu masalah. Di sini, bisa membantu manusia menjernihkan cara berpikir, bersikap hati-hati, dan mencari kebijaksanaan dalam hidup sehari-hari.

Sejauh ini sebenarnya saya sangat tertarik pada yang kedua. Tapi, yang demikian ini begitu banyak ragamnya. Sampai saya mencoba memilih satu saja. Ya, bagaimana menerapkan “Metode Berpikir Kritis” dalam kehidupan keseharian. Yang ternyata, tak mudah juga.

Sampai, saya berbalik arah, Satu yang kemudian saya ambil adalah mencoba kembali ke pertama. Bagaimana terus mencoba membaca pemikiran-pemikiran para filsuf itu. Mencoba menariknya dalam kehidupan keseharian. Dalam hal ini, saya tidak begitu memaksakan diri untuk selalu harus paham atas pemikiran tokoh filsut tertentu. Sekadarnya saja.

Satu hal yang saya lakukan dengan kesadaran, kini saya coba menjadikan filsafat sebagai rehat. Saya tentu berangkat dari sebuah penghargaan. Para filsuf itu sangat mungkin dan pasti menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk menelurkan pemikirannya.

Sementara, saya tinggal meresapi hasil akhirnya. Saya pilah pilih. Untuk selanjutnya saya gunakan untuk membantu memandang dunia dengan lebih saksama, lebih bijak, juga harapannya, menjadikan hidup lebih bermutu. Begitulah cara saya memandang filsafat sebagai rehat. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *