Kolom
Beranda » Filsafat Pendewasa Umat

Filsafat Pendewasa Umat

Sebuah kejadian menarik perhatian.  Seorang MC pada sebuah acara berikan tantangan spontan. Hapal salah satu surat Al-Quran, hadiahnya “Sebotol Miras”.  Kabar beredar viral di media sosial. Heboh, tentu saja. Amarah, tentu meledak juga. Banyak orang berbondong-bondong. Entah tokoh ormas, pejabat, advokat sampai personal yang banyak jumlahnya. Mengecam dan begitu bersemangat memberi pelajaran sampai penjarakan.

Begitulah sepintas wajah. Gambaran umat Islam dewasa ini. Orang bisa cepat marah kalau “agamanya” dihina. Saya tentu tak akan menghakimi. Marah memang wajar, bahkan mungkin harus. Tapi setelahnya, lalu apa? Hal ini sebenarnya momentum melihat diri. Misalnya ketika Al-Quran dihina, sebagai bahan candaan, kita begitu marahnya. Tetapi, apakah setiap hari kita membaca Al-Quran, membaca terjemahnya, mengamalkan ayat yang dibacanya? Mungkin ada yang bilang, “Ah itu soal lain.” Baiklah.

Kisah nyata ini, sengaja saya haturkan sebagai pembuka. Mengawali konteks sebuah pertanyaan sederhana, apakah umat ini sudah dewasa? Apakah ada perangkat yang cocok sebagai jalan pendewasaan umat? Agar tidak marah-marah melulu. Tapi, lebih dewasa dalam memandang setiap kejadian. Tentu banyak jawabannya. Hanya saja, kalau boleh sodorkan jalan, jawaban itu tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat.

Konon, ini boleh diperdebatkan. Hanya, kalau kita bicara umat. Tentu yang  maksud di sini tentu umat Islam, kita masih mengalami apa yang disebut dengan “Masa Kanak-Kanak”.  Beragam tanda yang bisa tampak, diantaranya pemahaman keagamaan yang cenderung “superfisial”. Dalam kehidupan sosial  diartikan melulu berkutat pada hal yang hanya ada di permukaan, bersifat dangkal, tidak mendalam, atau tidak mempunyai bobot yang serius.

Tanda lain, “Skripturalistik”, pandangan yang memahami ajaran agama secara kaku berdasarkan teks atau secara harfiah (apa adanya) dari kitab suci, tanpa melihat konteks sejarah atau situasi saat ayat itu diturunkan. Begitu juga, enggan mencoba mengkontekskan dalam situasi kekinian.

Selanjutnya, antipati terhadap perkembangan pemikiran keagamaan baru. Lebih suka menutup diri pada pikiran-pikiran baru, pengetahuan-pengetahuan baru. Merasa cukup dengan slogan kembali kepada “Al-Quran dan Sunnah” samblil berikan label atau cap sesat, berbahaya, bidah kepa kelompok, orang lain, suara yang berseberangan dengan gegabah. Merasa cukup dengan pengetahuan yang ada. Hasilnya, bisa lihat dalam ceramah atau khutbah Jumat yang nyaris jarang hadirkan pemikiran baru. Akibatnya, ketika khotib naik mimbar, jamaah langsung mengantuk dan tertidur.

Di titik ini, filsafat bisa mengisi kekosongan itu. Misalnya, para penceramah sering bicara tentang “Peradaban” atau tentang “Khilafah”.  Tapi, kerapkali masih mengawang-awang, masih sebatas harapan-harapan. Kenapa hal ini terjadi? Salah satunya karena miskin elaborasi, kurang mampu menjelaskannya dengan lebih detail. Nah, di sini filsafat memainkan perannya. Proses elaborasi selalu membutuhkan kajian epistemologi. Di mana, dalam proses elaborasi, kajian epistemologi  ini dipakai untuk memperdalam gagasan secara kritis agar argumen atau teori memiliki dasar kebenaran yang jelas dan valid. Dan ini merupakan salah satu tema sentral dalam filsafat. Begitulah kemudian filsafat punya peran penting dalam pendewasaan umat.

Di sinilah filsafat bisa membuka wawasan berpikir umat yang lebih terbuka, tidak kaku dan relevan terhadap perkembangan zaman. Meninggalkan kejumudan berpikir sebagai penyebab ketertinggalan. Ia bisa mentransformasikan umat menjadi warga yang lebih dewasa dalam berpikir dan menyelesaikan beragam problem yang muncul. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *