“KITA berada dalam semesta yang begitu melimpah informasi, tetapi begitu hampa makna”
(Jean Baudrillard)
Istilah profetik (berbasis kenabian), dalam gerakan sosial pernah dirumuskan secara matang oleh (Alm) Prof. Kuntowijoyo. Salah satu buku menarik yang menyoal topik itu bisa dibaca dalam buku karangannya berjudul “Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi” (1991). Kuntowijoyo menyebut gagasan Islam profetik sebagai jawaban atas kebuntuan misalnya gagasan Islam Transformatif ala Moeslim Abdurrahman. Dalam Islam transformatif, memang menjelaskan fenomena sosial dan berupaya mentransformasikannya. Tapi timbul persoalan, ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa? Sampai di sini, ilmu-ilmu sosial transformatif tidak memberi jawaban jelas.
Saya sendiri, dalam pencarian basis gerakan sempat tertarik dengan gagasan Islam progresif ala Islam bergerak atau Indoprogres. Saya tertarik dengan keberpihakannya kepada orang-orang marjinal dan terpinggirkan. Tapi, tidak memberikan jawaban atas dimensi spiritual sebagai basis gerakan. Kenapa? Belakangan saya berkesimpulan, gerakan ini lebih banyak membebek marxisme daripada berkiblat kepada khazanah pemikiran Islam itu sendiri sebagai basis gerakan, maka wajar dimensi spiritual gerakan tidak akan pernah kita dapatkan.
Sampai akhirnya, saya lebih percaya dengan gagasan profetik ala Kuntowijoyo. Di sinilah, peran seorang muslim profetik menemukan peran dan maknanya. Lantas, apa dimensi wahyu yang mendasarinya?
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, mengajak kepada yang makruf, mencegah kepada yang mungkar dan beriman kepada Allah”. (QS Ali-Imran ayat 110).
Dalam dimensi wahyu itu, setidaknya berisi tigal hal yaitu amar makruf (Menyuruh kebaikan/humanisasi), Nahi Munkar (Mencegah kemungkaran/liberasi) dan Tukminunabillah (Beriman kepada Allah/Transendensi). Dalam wacana gerakan, kita sering temukan, liberalisme akan memilih humanisas sedangkan Marxisme memilih liberasi dan kebanyakan agama transendensi, tapi seorang muslim profetik berkepentingan atas ketiganya.
Dalam pemahaman singkat di atas, saya mencoba mengurai sedikit bagaimana peran seorang muslim profetik bisa ikut ambil bagian, termasuk di zaman media sosial dan AI yang saat ini masih menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Mari kita telisik,
Pertama, Humanisasi. Seorang muslim profetik tentu saja akan menolak segala bentuk dehumanisasi. Hidup harus berdasar akal sehat, nilai dan norma. Dengan demikian menolak misalnya penggusuran atas nama pembangunan, menolak laku gerak, termasuk pilihan politik dengan mengabaikan nilai dan norma agama yang dianutnya. Menolak abnormalitas, termasuk korupsi. Untuk kemudian kembali menjadi muslim profetik rasional yang memanusiakan manusia seutuhnya. Pesan-pesan kemanusian mesti kita gelorakan diranah ini.
Kedua, Liberasi. Pembebasan (liberasi) seperti apa yang perlu digelorakan oleh seorang muslim profetik? Dalam politik, kesewenang-wenangan penguasa atas warganya yang lemah, termasuk menolak pemiskinan sistematis yang dilakukan penguasa (negara). Pembebasan dari penindasan umat secara politik, penindasan ekonomi, semuanya itu untuk mendorong keadilan di segala bidang. Pesan perlawanan terhadap segala bentuk kezaliman dan penindasan serta penolakan atas kemungkaran yang terang benderang di depan mata perlu terus disuarakan.
Ketiga, Transendensi. Dalam arti punya kesadaran keTuhanan. Apa yang dilakukan, proses amar makruf (humanisasi) dan nahi munkar (Liberasi) itu bukan hanya didasari oleh dimensi kemanusiaan semata, tetapi kesadaran untuk menggapai ridhoNya, semakin mendekatkan diri padaNya. Dengan demikian, bukan soal menang atau kalah dalam pertempuran amar makruf nahi munkar, tapi sebuah kesadaran telah menunaikan laku kebaikan di jalan kebenaran yang diyakininya.
Memang, setiap muslim profetik berkepentingan atas ketiganya. Tapi, manusia tentu punya keterbatasan. Sehingga, yang sering muncul di tubuh umat, masing-masing menonjol dalam satu seginya. Contoh Aa Gym lebih bercorak amar makruf, Habieb Rizieq lebih bercorak nahi munkar. Semua melengkapi. Sedangkan muslim yang kurang berdaya dan tidak punya kompetensi apapun sehingga hanya bisa berdoa saja, itupun juga berguna. Itu sebabnya diperlukan sebuah komunitas atau jamaah yang solid untuk menjadikannya semuanya itu utuh. Tidak berjalan dan berjuang sendirian.
Inilah basis konsep pergerakannya. Dalam praktiknya, terutama di media sosial, tentu saya kira kreativitas bermedia dan bersosial media perlu dimainkan. Setidaknya, tidak diam ketika ada netizen yang jelas-jelas menyuarakan kemungkaran. Juga, perlu terus memberikan pencerahan wacana yang benar dalam setiap persoalan (isu) yang muncul. Sambil tak lupa terus mengevaluasi pergerakan apakah selaras dengan doktrin Islam. Begitulah. Jadi, selamat berperan dan beerproses menjadi seorang muslim profetik. Selamat berjuang karena tanpa perjuangan, hidup pastilah hampa. []
(Yons Achmad. Kolumnis & Pendiri Brandstory.id)

Komentar