Nasional
Beranda » Amien Rais Ingin Prabowo Sampai 2029

Amien Rais Ingin Prabowo Sampai 2029

Meski Amien Rais sering mengritik keras Prabowo, tetapi ia menginginkan Prabowo menyelesaikan pemerintahannya pada 2029. Amien menyatakan,” Saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudara bahwa ritme pergantian kekuasaan setiap lima tahun sekali sesuai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 harus kita pertahankan supaya tidak ada pemerintahan pusat yang diturunkan di tengah jalan. Ini prinsip penting yang harus kita pegang,” kata Amien.
Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini menyatakan bahwa pergantian presiden/wakil presiden di tengah jalan itu bisa dilakukan, kalau ada alasan yang bersifat luar biasa, sangat istimewa. “Misalnya sang presiden atau wakil presiden terbukti melakukan tindakan pidana berat seperti membocorkan rahasia negara kepada pihak asing demi mendapatkan imbalan materi atau keuangan, sehingga hakikatnya presiden atau wakil presiden telah menjual negara kepada pihak asing. Atau misalnya presiden dan wakil presiden tersangkut skandal moral yang menodai kebersihan kursi presiden atau kursi wakil presiden,“ terang mantan Ketua MPR ini.
Amien menjelaskan bahwa pasal-pasal Undang-Undang Dasar yang berkaitan dengan pemakzulan atau impeachment terdiri dari Pasal 7B yang terdiri dari tujuh ayat. Bisa diringkas bahwa proses panjang pemakzulan presiden dan/atau wakil presiden adalah sebagai berikut. Langkah pertama, DPR mengusulkan kepada MPR rencana pemakzulan. Usul itu bersyarat, yaitu harus disetujui oleh dua pertiga dari dua pertiga jumlah anggota DPR. Saya ulangi, dua pertiga dari dua pertiga jumlah anggota DPR harus setuju adanya pemakzulan. Setelah itu Mahkamah Konstitusi harus menyetujui usulan DPR tersebut dan Mahkamah Konstitusi memiliki waktu 90 hari.
Kalau MK setuju, maka diperlukan tiga perempat anggota MPR hadir dan dua pertiga dari tiga perempat anggota MPR itu harus menyetujui pemakzulan atas presiden dan/atau wakil presiden. Jadi memang tidak mudah.
Amien melanjutkan,“Mengharapkan para anggota DPR dan MPR berani memakzulkan Presiden Prabowo rasanya mustahil. Semarah apa pun kita kepada Gibran Rakabuming Raka, dengan konstelasi pimpinan DPR dan MPR yang sekarang ini, kiranya melakukan impeachment terhadap Gibran juga amat sangat sulit. Saya juga ingin mengingatkan bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami situasi politik yang ganjil. Dari awal Mei 1998 sampai 20 Oktober 2004 kita menyaksikan lima presiden secara berurutan.
Dari Januari sampai 21 Mei 1998 kita masih menyaksikan Pak Harto sebagai presiden kedua. Lalu digantikan Pak Habibie antara Mei 1998 sampai Oktober 1999. Gus Dur menjabat dari 20 Oktober 1999 sampai 23 Juli 2001. Kemudian Megawati dari 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004 sebagai presiden kelima. Pak SBY menjabat sejak 20 Oktober 2004 dan seterusnya. Bang Yos atau Bang Sutiyoso pernah berkata kepada saya kurang lebih, “Wah Mas Amin, saya ini jadi Gubernur DKI yang bekerja di bawah tiga presiden, yakni Gus Dur, Bu Megawati, dan Pak SBY.”
Selanjutnya cendekiawan Islam ini mengingatkan bahwa pengalaman politik kita di masa lalu, enam tahun terdapat lima presiden yang berganti-ganti dan semuanya menguras energi nasional kita. “Maka Presiden Prabowo kita beri fair chance, kesempatan yang wajar. Biarlah beliau bekerja sekeras-kerasnya untuk mewujudkan cita-citanya sampai 20 Oktober 2029. Kita bermain secara fair dan masuk akal saja,“ tegas Amien dalam video terbarunya.
Amien menjelaskan bahwa delapan cita atau Asta Cita yang digaungkan oleh Pak Prabowo, menurutnya sangat bagus sebagai cita-cita, keinginan, atau gagasan. Antara lain penguatan demokrasi Pancasila dan hak asasi manusia, penguatan pertahanan dan keamanan nasional, penciptaan lapangan kerja dan pengembangan kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia, kesetaraan gender, dan lain-lain.
Amien mengakui bahwa kondisi bangsa kita saat ini bukan hanya tidak baik-baik saja, tetapi bergerak makin eksklusif secara sosial-politik. “Saya tidak tahu persis berapa besar angka pengangguran terbuka yang diderita masyarakat sekarang. Demikian juga sejauh mana terjadi PHK yang semakin sering. Angka-angkanya saya tidak mencari, mohon maaf. Tetapi saya sering mendatangi pengajian-pengajian di berbagai kota, terutama di Yogyakarta dan beberapa kabupaten di DIY serta Jawa Tengah. Saya sempat melihat suasana lesu, apalagi di pasar-pasar tradisional. Banyak pasar yang setelah pukul sembilan pagi sudah sepi pembeli, padahal masih banyak pedagang yang bengong atau hanya mengisi waktu dengan memencet ponsel mereka. Wajah riang dan ceria ibu-ibu pedagang pasar itu seperti sudah hilang entah ke mana,” terangnya.
Pakar ilmu politik ini pernah menganjurkan pernah menganjurkan agar suasana pesta pora para menteri dikurangi semaksimal mungkin, terutama oleh Pak Prabowo. Jangan lagi berjoget-joget lalu difoto. Begitu adegan-adegan bermewah-mewah disiarkan ke publik, reaksi masyarakat seragam, yaitu marah dan mengumpat.
“Sementara itu, kita semua berharap dan berdoa supaya peristiwa people power yang terjadi pada 21 Mei 1998 di Jakarta, juga di Yogyakarta, Bandung, dan kota-kota lain, tidak terulang lagi. Mengapa? Karena kesadaran rakyat kita terhadap hak-hak asasi manusia dewasa ini sudah sangat mendalam. Sehingga apabila sampai terjadi people power lagi, maka skala dan magnitudonya bisa berkali-kali lebih besar dibandingkan yang terjadi tiga puluh tahun lalu. Karena itu kita semua harus mengimbau agar rakyat tidak sampai turun ke jalan. Namun apabila nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus merosot drastis, PHK menjadi fenomena massal, banyak investor cabut dari Indonesia, lalu terjadi rush domestik sehingga para penyimpan uang di bank-bank Indonesia menarik simpanannya, maka kita semua perlu khawatir.
Bisa jadi ekonomi kita keteteran, terus memburuk, dan memancing keresahan serta kerusuhan yang lepas kendali. Ini keprihatinan saya,“ terang Amien.
Tokoh reformasi ini memprediksi people power yang terjadi lebih beringas dan lebih masif tidak tertutup kemungkinan akan memunculkan ribuan orang melakukan penjarahan toko-toko dan sebagainya. Ini tentu harus kita perhatikan. “Saya ingat waktu people power dulu ada fase di mana rakyat benar-benar marah. Sasaran mereka adalah toko-toko swalayan dan lain-lain yang isinya digotong.
Ada televisi dan berbagai barang lainnya yang dibawa. Polisi juga tidak bisa berbuat banyak karena massa benar-benar marah dan bersatu padu dalam meruntuhkan rezim pada waktu itu,” jelasnya.
Lebih lanjut Amien menyatakan,”Nah sekarang masalahnya, menurut saya—mudah-mudahan saya keliru—politik pimpinan Wong Solo yang satu itu bisa menjala ikan di air keruh. Besar kemungkinan Kapolri sedikit lebih mendengarkan pengarahan Pak Jokowi daripada Pak Prabowo. Maaf, Pak Jokowi bisa gelap mata jika semakin dekat ke tahun 2029 nilai jual Gibran semakin merosot. Di samping itu politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tampaknya tidak mudah dijual kepada masyarakat Indonesia yang semakin cerdas membaca peta politik Indonesia,” jelasnya.
Menurut Amien, tidak ada satu pun partai yang rela bila massa pendukungnya berpindah ke PSI. Pak Jokowi tidak cukup bodoh untuk tidak memahami bahwa masa depan PSI memang tetap suram. “Agaknya Pak Jokowi sudah sadar bahwa jika nekat melaksanakan rencana safari nasional yang semula akan dilakukan mulai awal Juni, hal itu justru kontraproduktif sehingga kemungkinan ditunda entah sampai kapan. Kemungkinan besar Pak Jokowi yakin bahwa bila reaksi negatif berupa penolakan dari masyarakat yang dikunjungi cukup meluas, maka beliau bukan lagi objek kekaguman, tetapi objek celotehan, objek umpatan, dan objek penghinaan,” jelas mantan Ketua Dewan Pakar ICMI ini.
Amien mengakui bahwa Ini hanya berandai-andai. “Misalnya ada sekelompok pemuda berteriak, “Mulyono, kami tidak rela provinsi kami atau kota kami datangi. Please go home, go back to Solo,” dan lain-lain. Ini tentu makin repot. Jadi aib yang sudah ditimpakan kepada Pak Jokowi dan keluarganya sudah begitu berat. Misalnya disebut sebagai seorang nepotis, keluarganya korup, PSI hanya berkonsentrasi memikirkan keluarga Pak Jokowi, mengidap islamofobia, dan lain-lain.
Maka dalam kekalutan pikirannya, termasuk ketika tidak diundang pada peringatan Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni yang lalu di Jakarta, Pak Jokowi mungkin menjadi semakin sadar bahwa daya tariknya sudah meleleh. Beliau mungkin baru sadar bahwa kini bukan siapa-siapa lagi. Walaupun di mata pendukung fanatiknya masih dikagumi, tetapi jumlah masyarakat yang tidak menyukai beliau tentu tidak sebanding. Ibarat kambing congek tanpa tanduk berhadapan dengan banteng yang besarnya belasan kali lipat dibandingkan kambing kurus, kering, dan sakit-sakitan,“ jelasnya.
Menurut Ketua Majelis Syura Partai Ummat ini, Pak Jokowi sudah terlalu lama hidup dalam angan-angan. TNI dan Polri oleh sebagian pihak dianggap akan tetap loyal secara buta kepada bapaknya Gibran. “Menurut saya tidak demikian. Saya yakin teman-teman TNI dan Polri tentu tidak mau dicap publik sebagai alat kekuasaan yang tercela. Karena itu bisa saja nanti Jokowi tidak lagi diartikan sebagai Joko Widodo. Saya pernah mengatakan beberapa waktu lalu, Jokowi bisa diartikan sebagai “Joko Wirang”.
Wirang artinya malu besar. Bagaimanapun, silakan jika Pak Jokowi ingin mengatur Indonesia sesuai seleranya. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa sekarang saatnya melakukan introspeksi diri yang lebih mendalam, terutama pada waktu-waktu yang tenang. Berdialoglah dengan ego sendiri. Apakah selama ini yang dilakukan sudah benar atau justru jauh dari kebenaran? Yang bisa menjawab sesungguhnya hanyalah Pak Jokowi sendiri,“ papar Amien.
Nuim Hidayat

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *