Nasional
Beranda » Prof. Sami: Tidak Ada Kebenaran yang Disembunyikan dalam Islam

Prof. Sami: Tidak Ada Kebenaran yang Disembunyikan dalam Islam

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), tantangan kebebasan pers, hingga tanggung jawab moral jurnalis menjadi sejumlah isu yang disoroti Prof. Sami al Sharif, dosen ilmu media dari Universitas Kairo, dalam dialog bersama para wartawan di AQL Islamic Center di Tebet, Ahad (14/6).
Dalam paparannya, Prof. Sami menegaskan bahwa Islam pada dasarnya merupakan agama yang jelas dan tidak menyimpan kebenaran dalam ruang-ruang rahasia. Yang diperlukan adalah pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan Sunnah agar ajaran Islam dapat diterapkan sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat.
“Dalam Islam dan syariat Islam tidak ada perkara yang samar atau tersembunyi. Semua perkara pada dasarnya jelas, tetapi memerlukan pemahaman yang benar terhadap ajaran Allah dan ajaran Rasulullah ﷺ sehingga dapat diterapkan sesuai dengan setiap zaman dan setiap tempat,” ujarnya.
Menurutnya, setiap Muslim memikul tanggung jawab atas ilmu yang dipelajari dan setiap perkataan yang diucapkan. Karena itu, kehati-hatian dalam berbicara maupun menyampaikan informasi menjadi prinsip yang sangat penting.
“Engkau bertanggung jawab atas apa yang engkau pelajari dan bertanggung jawab atas apa yang engkau ucapkan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa yang menyebabkan manusia tersungkur ke dalam neraka pada hari kiamat adalah hasil dari ucapan mereka,” katanya.
AI Hanya Mengolah Informasi yang Dimasukkan Manusia
Menanggapi maraknya penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Prof. Sami mengingatkan bahwa teknologi tersebut bukan sumber kebenaran mutlak. Menurutnya, AI bekerja dengan memanfaatkan data dan informasi yang sebelumnya telah dimasukkan oleh manusia.
Ia mengilustrasikan fenomena tersebut dengan kisah seorang suami yang membuat puisi untuk istrinya menggunakan aplikasi AI, lalu menyajikannya seolah-olah lahir dari perasaannya sendiri.
“Perkembangan aplikasi seperti GPT dan yang sejenisnya bekerja berdasarkan informasi yang kita ambil dari sana. Kita harus menyadari bahwa tempat itu juga berisi informasi yang dimasukkan oleh manusia lain,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta tetap kritis terhadap informasi yang dihasilkan teknologi dan tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber rujukan.
Media Tidak Pernah Sepenuhnya Bebas
Sebagai akademisi yang mengajar ilmu media, Prof. Sami juga menyoroti realitas dunia pers modern. Menurutnya, tidak ada media yang sepenuhnya bebas, sepenuhnya objektif, maupun sepenuhnya netral.
“Sampai hari ini tidak ada media yang benar-benar bebas di dunia, tidak ada media yang sepenuhnya jujur di dunia, dan tidak ada media yang sepenuhnya objektif di dunia,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa media pada umumnya dipengaruhi oleh kepentingan pihak yang membiayainya. Namun demikian, hal tersebut tidak berarti kebebasan pers harus dihapuskan.
Sebaliknya, kebebasan harus dijalankan secara bertanggung jawab. Presiden Donald Trump sendiri tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepada wartawan untuk bertanya.
Prof. Sami mengutip sebuah ilustrasi yang populer di kalangan filsuf tentang batas kebebasan individu.
“Anda bebas menggerakkan tangan Anda sesuka hati, tetapi kebebasan tangan Anda berakhir ketika kebebasan orang lain dimulai. Jika tangan Anda mengenai hidung orang lain, di situlah batas kebebasan itu,” jelasnya.
Kemaslahatan Umum Menjadi Pertimbangan Utama
Dalam pembahasan mengenai media dan kebijakan publik, Prof. Sami menekankan pentingnya konsep mashlahah ‘ammah atau kemaslahatan umum.
Menurutnya, keamanan, keadilan, dan keselamatan masyarakat merupakan tujuan yang harus dijaga dalam setiap kebijakan maupun aktivitas media.
“Kepentingan umum dan kemaslahatan masyarakat; keamanan dan keadilan adalah bagian dari kemaslahatan,” katanya.
Karena itu, kebebasan tidak boleh digunakan untuk menciptakan kerusakan sosial atau mengancam stabilitas masyarakat.
Fakta Harus Didahulukan
Salah satu penekanan utama yang disampaikan Prof. Sami adalah pentingnya verifikasi fakta dalam dunia jurnalistik.
Ia menegaskan bahwa berita tidak boleh berubah menjadi propaganda, isu, atau rumor yang tidak jelas sumbernya.
“Yang paling penting adalah bahwa berita itu benar terlebih dahulu. Berita bukanlah propaganda, bukan sekadar isu atau rumor, melainkan fakta,” ujarnya.
Menurutnya, setelah fakta dipastikan benar, barulah media dapat menghadirkan analisis, penafsiran, maupun sudut pandang tertentu.
“Fakta harus tetap menjadi dasar. Adapun pendapat, analisis, dan penilaian boleh berbeda-beda, tetapi semuanya harus dibangun di atas fakta yang benar, bukan di atas kebohongan atau informasi yang direkayasa,” tegasnya.
Hakim, Jurnalis, dan Dai Memikul Amanah Besar
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sami menyebut ada tiga profesi yang sangat membutuhkan tingkat kepercayaan tinggi dari masyarakat, yakni hakim, jurnalis, dan dai.
Ketiganya, menurut dia, memegang peran strategis dalam membentuk kehidupan publik sehingga kesalahan yang dilakukan dapat berdampak luas.
“Ada tiga profesi yang sangat besar tanggung jawabnya dan sangat membutuhkan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat: hakim, jurnalis, dan dai,” katanya.
Seorang hakim bertanggung jawab menegakkan keadilan, seorang dai menyampaikan ajaran agama, sedangkan jurnalis bertugas menyampaikan informasi kepada publik.
Karena itu, ketiganya dituntut menjaga integritas, kejujuran, dan amanah dalam menjalankan tugasnya.
Menutup paparannya, Prof. Sami mengingatkan bahwa kebebasan berbicara dan kebebasan pers merupakan bagian penting dari kehidupan modern, namun keduanya harus berjalan bersama tanggung jawab moral, komitmen terhadap kebenaran, dan orientasi pada kemaslahatan masyarakat.
“Kebebasan memang ada, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab dan terikat oleh aturan,” pungkasnya.
Tokoh media dan pendidikan tinggi terkemuka dari Mesir, Prof. Dr. Sami Muhammad Rabie Al-Sharif ini telah tiba di Indonesia sejak Sabtu (13/6) sore melalui Bandara Soekarno-Hatta. Kehadiran Sekretaris Jenderal Association of Islamic Universities ini merupakan bagian dari rangkaian agenda penting, salah satunya menjadi pembicara utama dalam forum internasional di Jakarta.
Prof. Sami dijadwalkan menghadiri dan mengisi materi pada acara “World Qur’anic Civilization Forum 1448 H: Hijrah Arah Keluarga Indonesia” yang akan digelar di Jakarta pada Selasa, 16 Juni 2026. Selama kunjungannya di tanah air, pakar komunikasi internasional ini berkomitmen untuk berbagi ilmu dan pengalamannya mengenai Al-Qur’an dan peradaban Islam.
Mengawali rangkaian kegiatannya, pada Ahad (14/6/2026) pagi, Prof. Sami langsung bertolak ke Jonggol, Jawa Barat. Di sana, dia memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ar-Rahman. Kemudian mantan Plt. Menteri Informasi Mesir ini kembali ke Jakarta untuk menghadiri agenda strategis bersama para awak media di AQL Islamic Center.
Ia memberikan ceramah tentang Islam dan dunia jurnalis. Bersamaan dengan itu, juga diluncurkan pembentukan organisasi baru Serikat Jurnalis Islam Indonesia oleh KH Bachtiar Nasir.
Nuim Hidayat

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *