Kolom
Beranda » Sekolah PENDIS: Proyek Besar M. Natsir Lahirkan “Manusia Seimbang”, Manusia Seutuhnya

Sekolah PENDIS: Proyek Besar M. Natsir Lahirkan “Manusia Seimbang”, Manusia Seutuhnya

Usai lulus dari SMA Belanda Algemeene Middelbare School (AMS) dan memutuskan untuk tidak kuliah di perguruan tinggi hukum Belanda, Mohammad Natsir semakin fokus berguru kepada para tokoh Islam khususnya A. Hassan dan sibuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Salah satu langkah besarnya, usai berdiskusi dengan Hassan, adalah mendirikan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung.

Ada tiga alasan Natsir mendirikan Pendis: 1) merangkul para pemuda Muslim yang cenderung sekular, meremehkan Islam dan tidak bangga dengannya akibat pendidikan Barat; 2) merespons pendidikan Belanda yang sekular, yang menurut Natsir, “semata-mata mengisi otak saja, jiwanya kosong”; 3) menyempurnakan pendidikan pesantren dan madrasah yang menurutnya “dapat menghasilkan orang-orang yang beriman dan berakhlak baik, tetapi buta terhadap perkembangan dunia.” Ia meyakini bahwa Islam mendorong umatnya untuk maju secara lahir dan batin, di dunia dan akhirat.

Pada bulan Maret 1932, saat mengadakan perkumpulan di rumahnya di Jalan Ciateul Kulon 53, Bandung, Natsir menegaskan bahwa melalui lembaga Pendidikan Islam, ia bertujuan untuk mendidik pemuda Muslim yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan; memberi mereka pelajaran yang berdasar dan “ber-ruh” Islam sekaligus dengan praktiknya; dan mengajarkan beragam skill supaya mereka bisa mandiri dan fokus pada perjuangan, tidak selalu harus menjadi buruh dan bergantung pada gaji pemerintah kolonial Belanda.

“mereka kalau sudah terjun ke dalam masyarakat menjadi muslim yang tahu harga diri dan kukuh tegak dalam menghadapi kehidupan modern,” ucap Natsir.

Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan utama Natsir mendirikan Pendidikan Islam adalah untuk melahirkan manusia-manusia Muslim yang “seimbang” (wasathan), tidak sekular sehingga kosong jiwanya dan tidak hanya “agamis”, yang tinggi akhlaknya, namun tidak bisa menjawab berbagai problematika kehidupan modern karena miskin kemampuan dan intelektualitasnya.

Dalam buku 70 Tahun Mohammad Natsir, ditegaskan bahwa: “Yang mendorong Natsir terjun ke lapangan pendidikan ialah suatu pemikiran, suatu cita-cita hendak membangun satu sistim pendidikan yang lebih sesuai dengan hakekat ajaran Islam… Pendidikan Islam itu ringkasnya ialah ditujukan kepada manusia yang seimbang. Seimbang kecerdasan otaknya dengan keimanannya kepada Allah dan Rasul. Seimbang ketajaman akalnya dan kemahiran tangannya untuk bekerja. Manusia yang percaya kepada kekuatan sendiri, bisa berdiri sendiri (selfhelp), dan tidak selalu bergantung kepada harga ijazah untuk makan gaji sebagai pegawai… Berkeseimbangan ‘dunia dan akhirat’, ummat yang menjadi pelopor, perintis jalan bagi manusia lainnya, serta menurutkan tuntunan serta langkah-langkah Rasulullah sebagai pelopornya.”

Untuk menyukseskan lembaga barunya itu, Natsir merasa perlu memenuhi tiga hal: ilmu pendidikan, modal, dan kawan seperjuangan. Ilmu pendidikan ia dalami dengan mengkaji banyak buku pendidikan Islam ditambah Barat (termasuk Friedrich Frobel, Maria Montessori dan Rabindranath Tagore) dan psikologi (ilmu jiwa), dan praktik mengajar secara langsung melalui “kursus sore” yang ia buka di sebuah ruangan kecil di Jalan Pangeran Sumedang, Bandung. Meskipun hanya lima murid yang mendaftar, tetap Natsir didik secara serius sekaligus untuk mempertajam kemampuan mengajarnya.

Ia juga terus mengkaji Islam lebih dalam kepada A. Hassan dan menuangkan pemikiran keislamannya di majalah Pembela Islam supaya konsep pendidikan yang dirumuskannya sesuai dengan pandangan alam Islam. Belum puas dengan itu, Natsir sampai menyempatkan waktunya untuk mengikuti sekolah guru Belanda selama satu tahun (1931-1932) hingga memperoleh ijazah Lager Onderwijs (LO).

Terkait modal, Natsir banyak dibantu oleh seorang dermawan bernama Haji Muhammad Yunus. Bantuan finansial Yunus telah mengubah kelas “kursus sore” di ruangan kecil itu menjadi “sekolah” bergedung di Jalan Lengkong Besar nomor 16, gedung berdinding batu di pinggir jalan besar.

Untuk kawan seperjuangan, Natsir dibantu oleh guru-guru yang sangat ikhlas dan cerdas: Ir. Ibrahim, Ir. Inderacaya dan Fakhruddin Al- Khahiri, dan satu perempuan aktivis JIB Dames Afdeling (JIBDA, JIB Bagian Putri) yang kemudian menjadi istrinya, Puti Nur Nahar.

Pamor Pendidikan Islam semakin naik karena diisi oleh guru-guru yang ahli dan “berijazah cukup” (mempunyai otoritas tinggi) itu. Hal itu membuat murid yang mendaftar semakin banyak dan beberapa penerbit buku sekolah mulai berkeinginan menjual bukunya kepada Pendis. Meskipun dengan kredit, Natsir mulai bisa membeli buku-buku itu dan beberapa keperluan belajar dan mengajar (khususnya kursi).

Di situasi yang mulai stabil itu, Muhammad Yunus kembali mendatangi Natsir, menawarkan gedung di Jalan Lengkong Besar nomor 74, gedung yang lebih besar dengan ruangan yang lebih banyak dan halaman yang lebih luas. Di sanalah Natsir mulai menyusun sistem Pendidikan Islam secara lebih teratur dan lengkap. Ia menyempurnakan tingkatannya menjadi empat: Frobel (Taman Kanak-Kanak atau TK), HIS (Sekolah Dasar atau SD), MULO (Sekolah Menengah Pertama atau SMP) dan Kweekschool (Sekolah Guru, setingkat Sekolah Menengah Atas atau SMA).

Pada bulan Juni 1934, Natsir berkesempatan memberikan ceramah dalam Rapat Persatuan Islam (PERSIS) di Bogor tentang konsep pendidikan yang ia rumuskan dan aplikasikan melalui lembaganya, Pendidikan Islam. Temanya adalah “Ideologi Pendidikan Islam” yang kemudian sebagian isinya dimuat dalam majalah Pembela Islam. Dalam ceramah itu, Natsir menyampaikan mengenai tiga hal penting.

Pertama, urgensi pendidikan. Ia mengatakan, maju dan mundurnya suatu peradaban ditentukan oleh kualitas manusia, yang kualitas itu ditentukan oleh pendidikan, baik ruhani maupun jasmaninya. Menjadi manusia terdidik, menurutnya, telah Islam dukung dan umat Islam dahulu contohkan. Mereka mempunyai ketetapan dan ketabahan hati, sifat tawakal, kemerdekaan berpikir, berani mempertahankan hak, menjunjung perintah Allah, dan ikhlas.

Kedua, urgensi pendidikan Islam. Menurutnya, umat Islam perlu merumuskan konsep pendidikannya sendiri yang sejalan dengan Islam dan mengaplikasikannya supaya anak-anak Muslim tidak diserahkan kepada lembaga pendidikan yang tidak sehaluan bahkan bertentangan dengan prinsip Islam. Pendidikan yang sebatas melahirkan pegawai bagi pemerintah kolonial, bukan pejuang bagi Islam dan bangsanya.

Ketiga, cita-cita pendidikan Islam. Natsir menegaskan, bahwa tujuan utama pendidikan Islam selaras dengan tujuan utama manusia diciptakan di dunia, yaitu menjadi hamba Allah. Menjadi hamba Allah, berarti menjadi “manusia seimbang”, yang bisa menang dan bermanfaat di dunia serta menang dan bahagia di akhirat. Ia baik kepada Allah dengan selalu berusaha memenuhi hak-Nya, baik kepada manusia, bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya, tertanam ruh perjuangan dalam jiwanya, serta senantiasa mendahulukan visi akhirat dalam setiap lika-liku kehidupannya.

Untuk melahirkan manusia seperti itu, dibutuhkan pendidikan yang seimbang pula. Pendidikan integral yang memenuhi kebutuhan jasmani dan ruhani sekaligus serta menyeimbangkan aspek intelektual dan spiritual. “Sebab, buat seorang Hamba Allah, jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat, bukanlah dua barang yang bertentangan yang harus dipisahkan, melainkan dua serangkai yang harus lengkap-melengkapi dan dilebur menjadi satu susunan yang harmonis dan seimbang… Derajat Hamba Allah yang beginilah yang bukan sia-sia,” jelas Natsir.

Inilah ideologi pendidikan Islam yang Natsir rumuskan dan ia jadikan pedoman dalam memimpin Pendis.

Kurikulum “manusia seimbang” yang Natsir susun di Pendis, secara umum, adalah sebagai berikut: 1) mata pelajaran agama Islam diwajibkan, diutamakan, diperbanyak dan diluaskan cakupannya sampai pada tahap penanaman nilai di semua tingkat (salah satunya dengan mengadakan shalat Jum’at berjamaah); 2) semua pelajaran umum yang diajarkan di sekolah Belanda juga diberikan di semua tingkat dengan tidak banyak menghafal; 3) dilatih beberapa skill tertentu seperti komunikasi (salah satunya melalui praktik khatib Jum’at, khusus bagi tingkat Kweekschool), kerajinan tangan (di semua tingkat), berkebun (di tingkat MULO dan Kweekschool), sampai menulis lagu, bermain alat musik, sandiwara, dan menari (di semua tingkat).

Manusia seimbang yang Natsir cita-citakan adalah manusia baik, bermanfaat dan pejuang yang tidak rendah diri serta mau dan siap terjun ke masyarakat untuk menjawab berbagai problematika kehidupan melalui beragam profesi yang digeluti.

Dari tiga angkatan pertama Pendis di tingkat MULO dan Kweekschool, ada yang menjadi guru di sekolah Muhammadiyah dan mendirikan cabang Pendis tingkat HIS di beberapa tempat seperti Bogor, Cirebon, Jatinegara, Tanjung Priok, Bangka dan Banjarmasin; ada yang menjadi tentara, direktur sekolah pemerintah, pegawai pemerintah bidang Pendidikan Agama, sampai anggota Konstituante. Semua mengambil beragam peran namun satu tujuan: memberi manfaat, berjuang dan berdakwah demi agama dan negara.

Meskipun diterjang banyak cobaan khususnya krisis finansial yang mengharuskan Natsir berkeliling kota mencari dana (secara terhormat); istrinya menggadaikan gelang emasnya; dan berpindah ke gedung baru yang lebih sederhana karena tidak bisa membayar sewa, sekolah yang telah memiliki sekitar 200 murid itu terus Natsir dan istri perjuangkan; terus berjalan sampai penjajah Jepang datang (1942) dan menutup semua sekolah liar termasuk Pendidikan Islam.

Sejak merintis Pendis melalui program “kursus sore” yang hanya diikuti lima orang pada sekitar tahun 1931 sampai pemerintah kolonial Jepang menutupnya, Natsir telah berjuang melawan arus sekularisasi (khususnya yang dimasifkan oleh sekolah-sekolah Belanda) selama 11 tahun melalui Pendidikan Islam.

K.H. Rusyad Nurdin, salah seorang murid Pendis angkatan pertama, menegaskan bahwa pendirian Pendis merupakan alternatif dari sistem pendidikan kolonial Belanda. “… Sistem pendidikan yang menitikberatkan kepada pembentukan pribadi berdaya fikir berkesinambungan dengan hati nuraninya, seimbang daya cipta dan taat tawakalnya kepada Allah subhanahu wata’ala,” ucapnya.

Menurut Gamal Abdul Nasir Zakaria, melalui Pendis, “Beliau (Natsir) ingin membuktikan kepada Belanda dan masyarakat bahwa pendidikan perguruan Islam mampu bersaing dengan pendidikan konvensional lainnya mencetak output yang berkualitas.”

Lukman Hakiem mengatakan, sekalipun Belanda melabeli Pendis sebagai sekolah liar yang buruk, Natsir justru merasa penamaan itu sebagai suatu kehormatan. “Pendirian Sekolah Liar mengandung kehormatan, karena di sini diajarkan sesuatu yang tidak diberikan di sekolah-sekolah Belanda, yakni keberanian untuk hidup, kata Natsir yang melihat sistem pendidikan Belanda di masa itu bersifat verbalistik, bertujuan untuk mencetak lulusannya menjadi pegawai,” tulisnya.

Sejak awal Pendis dirintis, salah satu guru Natsir, Ahmad Surkati, sudah yakin bahwa lembaga itu akan memberikan dampak positif dan besar di masa depan. Hal itu ia katakan langsung ketika memperkenalkan Natsir yang sedang berkunjung ke rumahnya di Jakarta kepada puluhan orang Arab pengurus Al-Irsyad:

“Tuan-tuan, mari saya perkenalkan Tuan Natsir, seorang yang lebih besar dari Tuan-tuan semua. Semuda ini beliau sekarang menyelenggarakan pelajaran ilmu-ilmu modern, tetapi dengan tetap meneguhkan pendidikan agama Islam yang menjadi dasarnya. Apa yang ditanamnya sekarang akan turut menentukan kedudukan agama Islam dan umatnya di negeri ini di masa depan”.

Fatih Madini (Guru Pesantren At-Taqwa Depok)

Sumber:
1. Yusuf Abdullah Puar, et. al., Muhammad Natsir: 70 Tahun Kenang- Kenangan Kehidupan dan Perjuangan, 1978
2. Ajip Rosidi, M. Natsir: Sebuah Biografi, 1990
3. M. Natsir, Capita Selecta 1, 2008
4. M. Natsir, Politik Melalui Jalur Dakwah, 2019
5. Lukman Hakiem (Ed), 100 Tahun Mohammad Natsir: Berdamai dengan Sejarah, 2008
6. Lukman Hakiem, Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, 2019
7. Majalah Sabili, Edisi II, 2008

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *