JAKARTA — Momentum khidmat dan penuh haru mewarnai gelaran wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Dalam wisuda kali ini, sebanyak 132 wisudawan dan wisudawati secara resmi diserahkan kepada Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia untuk mengemban amanah penugasan dakwah di berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara.
Acara ini menegaskan komitmen panjang Dewan Dakwah yang telah menjalankan proses pengkaderan dai selama 56 tahun, sebuah tradisi panjang yang ditarik dari sejarah berdirinya Akademi Bahasa Arab (Aqabah) pada 1972/1973, dilanjutkan Lembaga Pendidikan Dakwah Islam (LPDI), hingga bertransformasi menjadi STID Mohammad Natsir pada tahun 1999.
Dalam pemaparannya, Ustaz Imam Zamroji memaparkan latar belakang historis yang mendasari spirit lahirnya akademi pengkaderan ini. Ditarik dari peristiwa akhir tahun 1972 di Sumatera Barat, saat shalat Jumat di sebuah daerah terpaksa diganti shalat Zuhur karena ketiadaan khatib. Peristiwa tersebut menjadi perbincangan para ulama hingga ke Mohammad Natsir dan Buya Hamka di Jakarta.
“Peristiwa itu menjadi tanda-tanda zaman akan kelangkaan ulama. Dari sinilah lahir Akademi Agama dan Bahasa Arab (Aqabah) pada tahun 1973,” jelas Ustaz Imam Zamroji.
Penyematan nama Bapak Mohammad Natsir pada perguruan tinggi ini membawa misi mendalam. Berpegang pada prinsip keteladanan Rasulullah SAW, kampus ini dirancang untuk mencetak “Natsir-Natsir kecil” yang berani berkorban, mengutamakan kepentingan umat, dan gigih membimbing masyarakat di pedalaman.
Dalam pilar pendidikan dan kaderisasi, kampus menetapkan visi unggul tahun 2035 untuk membangun ilmu dakwah dan ketahanan umat. Ketua STID Mohammad Natsir, Ustaz Dwi Budiman Assiroji menjelaskan bahwa proses pengkaderan mahasiswa ditempuh melalui tiga tahapan utama:
1. Pengkaderan Berbasis Asrama (Semester 1–4): Mahasiswa dikarantina di asrama untuk pembentukan karakter kedaian serta penguatan ilmu-ilmu dasar keislaman.
2. Pengkaderan Berbasis Masjid & Majelis Taklim:
Mahasiswa (Ikhwan): Wajib tinggal di masjid selama dua tahun untuk berbaur dengan masyarakat dan memahami problematika umat secara langsung.
Mahasiswi (Akhwat): Membina majelis-majelis taklim di kawasan Jakarta, Bekasi dan lain-lain.
3. Pengkaderan Berbasis Masyarakat: Penugasan lapangan secara langsung di bawah naungan Dewan Dakwah.
Tahun ini, Dewan Dakwah memberangkatkan 132 dai dan daiyah ke berbagai titik pengabdian.
Ustaz Dwi Budiman Assiroji mengungkapkan bahwa kurangnya ketersediaan dai saat ini menghadapi tingginya permintaan dari daerah.
“Permintaan yang masuk ke bidang penempatan dai sudah lebih dari 300 titik, sementara ketersediaan dai ada 13 orang. Rasio permintaan 1 banding 2, sehingga seluruh lulusan dipastikan langsung mengemban amanah di lapangan, tidak ada yang nganggur,” ujar Ustaz Dwi Budiman.
Selain penugasan di dalam negeri, dari kawasan pesisir hingga pegunungan tahun ini Dewan Dakwah juga melanjutkan pengiriman dai ke luar negeri, yaitu ke Timor Leste. Langkah ini merawat rantai perjuangan era 1980-an yang dahulu dirintis oleh Mohammad Natsir, di mana alumni-alumni pembinaan masa lalu kini memegang peran strategis di pemerintahan maupun lembaga dakwah Timor Leste.
Sementara itu, KH Fathurrohman dalam orasi ilmiahnya menceritakan tentang pengalamannya dididik dai-dai senior Dewan Dakwah Jawa Timur, seperti KH Misbah, KH Imam Bukhari dan lain-lain.
Kiyai Fathur cerita, bahwa tahun 1990-an ia mendapat tugas dakwah dari KH Imam Bukhari untuk dakwah di Banyuwangi. Ia hanya dibekali uang 6000 rupiah saat itu. Ia disuruh menemui Bapak Nasrul Ilmi di daerah Genteng, Banyuwangi.
Ia pun berangkat dengan tekad membara, meski tidak diberikan alamat yang jelas oleh seniornya. Tapi dengan ikhlash niyat dakwah, akhirnya ia bertemu dengan Bapak Nasrul Ilmu, Ketua Dewan Dakwah Banyuwangi.
Di sana ia mengalami dinamika dakwah yang tidak ringan. Kadang lebih dari dua bulan ia tidak mendapat jamaah dan hanya berputar-putar silaturahmi ke masyarakat.
Kiyai Fathur yang kini sukses mendirikan Pesantren Elkisi di Mojokerto Jawa Timur menyatakan bahwa dalam dakwah harus yakin adanya pertolongan dari Allah. Jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kamu, kata Kiyai Fatur. Ia juga berterus terang bahwa tekadnya mendirikan pesantren Elkisi ini sebenarnya menjawab tantangan dari Pak Tamat Anshori, Ketua Dewan Dakwah Jawa Timur waktu itu.
Pak Tamat cerita kepadanya bahwa pada tahun 1996 Pak Tamat keliling pesantren di Jawa Timur untuk meminta bantuan dai, tapi pesantren-pesantren tidak ada yang menyanggupinya. Mendengar cerita Pak Tamat itu akhirnya Kiyai Fathur bertekad mendirikan pesantren (elkisi) dan kini sukses membangun pesantren itu.
Pesantren Elkisi kini mempunyai santri mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Dan murid-muridnya dididik serius hingga siap menjadi dai dimanapun berada. Murid-murid SMP/SMA Elkisi tiap tahun diberangkatkan ke berbagai pelosok di Indonesia, untuk berangkat dakwah sebulan hingga dua bulan.
Sementara itu Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustadz Adian Husaini menyatakan bahwa kampus STID Mohammad Natsir ini adalah kampus terbaik. Kampus di mana mahasiswa-mahasiswa siap menjadi dai yang mengajak pada jalan Allah. Sementara al Quran menyatakan bahwa orang yang terbaik adalah orang yang mengajak pada jalan Allah (Fushilat 33).
Ustadz Adian juga menyatakan bahwa lulusan STID Mohammad Natsir ini tidak ada yang nganggur. Dari lulusan 132 orang, permintaan dai dari pemerintah daerah ke dewan dakwah lebih dari 300 orang.
Cendekiawan Islam ini juga menyatakan bahwa pendidikan tinggi di STID Mohammad Natsir adalah pendidikan yang ideal. Di mana mahasiswa digembleng bukan hanya di kampus, tapi juga di masjid dan di lapangan. Wisudawan STID saat ini akan dididik kembali selama dua tahun dengan terjun langsung melakukan dakwah ke pelosok-pelosok daerah.
(Nuim Hidayat)

Komentar