Dalam rangka memperingati Hari Internasional Memerangi Islamophobia, sejumlah tokoh masyarakat, ulama, akademisi, dan aktivis kemanusiaan dari Indonesia menyelenggarakan agenda refleksi dan seruan moral global dengan tema “Ramadhan Spirit for Global Justice: Dari Indonesia untuk Perdamaian Dunia.”
Momentum ini dipilih karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, sebuah waktu ketika umat Islam di seluruh dunia memperkuat nilai-nilai spiritual, empati, keadilan, dan solidaritas kemanusiaan.
“Dari Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, seruan ini diharapkan menjadi pesan moral bagi masyarakat internasional untuk menegakkan keadilan dan menghentikan berbagai bentuk diskriminasi terhadap umat Muslim di berbagai belahan dunia,” ujar Bachtiar Nasir, dai sekaligus aktivis pembebasan Palestina (15 Maret 2026).
Dikatakan lebih lanjut, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena Islamophobia terus menunjukkan peningkatan yang memprihatinkan. Bentuknya beragam, mulai dari stereotip negatif terhadap Islam, diskriminasi terhadap simbol dan praktik keagamaan, hingga tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim.
Perhatian dunia saat ini juga tertuju pada tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza, di mana jutaan warga sipil menghadapi situasi kemanusiaan yang sangat berat. Banyak pengamat internasional menilai bahwa penderitaan masyarakat Gaza tidak hanya merupakan krisis kemanusiaan, tetapi juga mencerminkan bagaimana kehidupan masyarakat Muslim sering kali tidak mendapatkan perhatian dan perlindungan yang setara dalam percakapan global tentang hak asasi manusia.
Selain itu, kekhawatiran juga meningkat terkait pembatasan akses ibadah di kawasan suci Baitul Maqdis, salah satu situs paling penting bagi umat Islam. Pembatasan terhadap jamaah yang ingin beribadah di tempat suci tersebut sering memicu kecaman dari berbagai organisasi keagamaan dan kemanusiaan di dunia.
Di saat yang sama, berbagai laporan juga menunjukkan bahwa komunitas Muslim sebagai kelompok minoritas di sejumlah negara masih menghadapi tantangan serius, seperti diskriminasi dalam pekerjaan, pendidikan, kebebasan beribadah, serta meningkatnya ujaran kebencian terhadap Islam di ruang publik maupun media sosial.
Agenda peringatan ini juga mengangkat refleksi moral yang lebih luas tentang krisis kepercayaan publik terhadap elite global, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin dipertanyakan setelah terungkapnya berbagai skandal internasional, termasuk jaringan islamophobia yang pernah dikaitkan dengan figur seperti Jeffrey Epstein. Kasus tersebut menjadi simbol kritik terhadap standar moral global yang sering dipersepsikan tidak konsisten dalam menegakkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Melalui kegiatan ini, para tokoh dari Indonesia menegaskan bahwa semangat Ramadhan seharusnya menjadi inspirasi universal bagi dunia untuk menguatkan komitmen terhadap keadilan dan perdamaian. Nilai-nilai yang terkandung dalam Ramadhan—seperti pengendalian diri, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap kaum tertindas—merupakan pesan universal yang relevan bagi seluruh umat manusia.
Beberapa pesan utama yang disampaikan dalam agenda ini antara lain:
- Mengajak masyarakat dunia untuk menolak segala bentuk Islamophobia, diskriminasi agama, dan ujaran kebencian.
- Menyerukan penghormatan terhadap kebebasan beragama dan perlindungan terhadap tempat-tempat suci.
- Mendorong solidaritas global terhadap masyarakat sipil yang terdampak konflik dan
- Menguatkan peran Indonesia sebagai jembatan dialog peradaban dan promotor perdamaian dunia.
Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam membangun kehidupan masyarakat yang plural dan damai. Oleh karena itu, pesan yang ingin disampaikan dari kegiatan ini adalah bahwa nilai- nilai spiritual Islam, khususnya yang dipraktikkan selama Ramadhan, dapat menjadi sumber inspirasi bagi upaya menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi.
Acara ini juga dihadiri oleh Founder Baitul Maqdis Institute Fahmi Salim yang memberikan pesan menarik.
“Kepedulian terhadap negara Islam yang masih tertindas seperti Palestina, harus dimulai dari kurikulum pendidikan, begitu juga para dai juga mesti aktif berikan pencerahan lewat ceramah-ceramah mereka, “katanya.
Peringatan Hari Internasional Memerangi Islamophobia ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kesadaran global bahwa keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta perdamaian merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.
(Yons Achmad/Erabaru.id).

Komentar