Saya pernah berpikir bahwa menjadi seorang murabbi berarti harus pandai berbicara, memiliki banyak ilmu, dan mampu menyampaikan materi dengan sempurna.
Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa pembinaan tidak hanya tentang materi, tetapi tentang bagaimana menghadirkan hati untuk orang-orang yang dibina.
Awal pertama kali membina, saya begitu bersemangat menyiapkan materi. Saya membuat catatan panjang, mencari referensi terbaik, bahkan menyusun target-target perubahan untuk mutarabbi yang saya dampingi.
Dalam bayangan saya, jika materi yang disampaikan bagus, maka pembinaan akan berjalan mudah.
Tetapi ternyata tidak sesederhana itu.
Ada masa ketika halaqah terasa sepi. Ada yang datang terlambat, ada yang izin berulang kali, bahkan ada yang perlahan menghilang tanpa kabar. Saat itu saya mulai bertanya dalam hati, “Apa yang salah dengan cara saya membina?”
Hingga suatu hari, saya berbincang cukup lama dengan salah satu mutarabbi. Bukan tentang materi kajian, melainkan tentang kehidupannya. Tentang keluarganya, tentang kesulitannya menjaga semangat belajar, dan tentang rasa lelah yang selama ini ia pendam sendiri.
Saat itu saya memahami satu hal penting: Terkadang seseorang tidak langsung membutuhkan nasihat. Mereka hanya ingin didengarkan.
Sejak saat itu, saya mulai belajar menjadi murabbi yang lebih banyak mendengar daripada berbicara. Saya mencoba menyapa mereka lebih dulu, menanyakan kabar mereka, mengingat hal-hal kecil yang mereka ceritakan, dan berusaha hadir bukan hanya ketika halaqah berlangsung.
Saya belajar bahwa pembinaan dimulai dari kedekatan hati. Perlahan saya melihat perubahan.
Halaqah yang dulu terasa kaku mulai menjadi lebih hangat. Obrolan setelah kajian menjadi lebih panjang. Mereka mulai terbuka menceritakan masalahnya, meminta nasihat, bahkan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Di situlah saya memahami bahwa daya tarik seorang murabbi bukan terletak pada hebatnya kata-kata, tetapi pada ketulusan sikapnya.
Saya juga menyadari bahwa membina manusia membutuhkan kesabaran yang panjang. Ada mutarabbi yang cepat berubah, ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bertumbuh.
Ada yang semangatnya naik turun. Ada yang harus dirangkul berkali-kali ketika mulai menjauh.
Namun bukankah begitulah dakwah bekerja? Sedikit demi sedikit, tetapi terus dilakukan dengan cinta.
Sebagai murabbi, saya akhirnya mengerti bahwa tugas kami *bukan sekadar menyampaikan ilmu atau materi KKP*. Kami harus mampu menjadi tempat yang aman untuk pulang, tempat untuk didengar, dan tempat untuk kembali menguatkan iman.
Karena sering kali, seseorang bertahan di jalan dakwah bukan karena bagusnya materi, *tetapi karena ia menemukan keluarga yang menguatkannya*.
Kini saya percaya, pembinaan yang menyentuh hati akan melahirkan komitmen yang kuat. Orang mungkin datang karena ajakan, tetapi mereka akan bertahan karena merasakan kasih sayang dan ketulusan dalam proses pembinaan.
Maka saya terus belajar:
– Mengajak dengan hikmah.
– Merangkul tanpa menghakimi.
– Membina dengan kesabaran.
– Dan mengawal dengan doa yang tidak pernah putus.
Sebab bisa jadi, satu hati yang hari ini dibina dengan ikhlas, kelak akan menjadi penerang bagi banyak hati lainnya
Ermiati Hanum

Komentar