“Ilmu yang tidak melahirkan kerendahan hati hanya akan menjadikan manusia merasa paling benar, sekalipun kebenaran berdiri tepat di hadapannya”.
Di sebuah panggung lomba yang seharusnya menjadi ruang pendidikan nilai, publik justru menyaksikan ironi yang menyakitkan: kebenaran diperdebatkan bukan berdasarkan substansi, melainkan berdasarkan otoritas.
Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang melibatkan siswi SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra, bukan lagi sekadar persoalan benar atau salah dalam sebuah perlombaan. Peristiwa itu telah berkembang menjadi cermin tentang bagaimana kesombongan intelektual masih hidup di dunia pendidikan kita.
Kasus tersebut viral setelah jawaban Josepha dan timnya dinyatakan salah bahkan dikurangi minus lima poin. Ironisnya, jawaban berikutnya dari peserta lain dengan substansi yang sama justru dianggap benar dan diberi nilai sepuluh.
Ketika Josepha mencoba menginterupsi dengan sopan bahwa jawabannya memiliki makna serupa, dewan juri tetap bersikeras bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan mereka.
Di titik itulah publik tersentak.
Sebab yang terlihat bukan lagi sekadar kesalahan teknis penilaian, melainkan ketidakbersediaan menerima kemungkinan bahwa otoritas bisa keliru.
Padahal acara tersebut disiarkan secara langsung melalui live streaming. Rekaman dapat diputar ulang kapan saja. Dalam dunia olahraga modern, bahkan pertandingan sepak bola menyediakan VAR demi memastikan keadilan. Ketika wasit ragu, pertandingan bisa dihentikan sejenak untuk melihat ulang fakta di lapangan.
Lalu mengapa dalam ruang pendidikan, jeda beberapa menit untuk melakukan verifikasi terasa begitu sulit dilakukan?
Apakah mengoreksi keputusan dianggap menjatuhkan wibawa?
Ataukah kita memang masih hidup dalam budaya yang menganggap gelar, jabatan, dan posisi sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan?
Di sinilah masalah sesungguhnya bermula: kesombongan intelektual.
Kesombongan intelektual bukan hanya tentang merasa pintar. Ia muncul ketika seseorang merasa otoritas ilmunya membuat dirinya kebal dari koreksi. Ketika jabatan lebih dijaga daripada kebenaran, dan gengsi lebih dipertahankan daripada kejujuran akademik.
Ironisnya, penyakit ini justru sering tumbuh di lingkungan pendidikan.
Padahal semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kerendahan hatinya. Sebab ilmu sejati akan menyadarkan manusia bahwa pengetahuannya tetap terbatas. Orang berilmu yang matang tidak takut diperiksa ulang. Ia tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak merasa runtuh martabatnya hanya karena mengakui kemungkinan salah.
Dalam tradisi keilmuan, koreksi adalah bagian dari kemajuan. Tidak ada ilmu pengetahuan yang tumbuh tanpa keberanian menguji ulang keputusan dan pendapat.
Karena itu, sikap Josepha justru memperlihatkan semangat pendidikan yang sesungguhnya. Ia menyampaikan keberatan dengan keberanian, namun tetap dalam kesantunan. Bukan dengan emosi, melainkan dengan argumentasi.
Dan bukankah itu yang selama ini ingin dibentuk oleh pendidikan?
Kita selalu berbicara tentang pentingnya membangun generasi kritis, generasi yang berani menyampaikan kebenaran, generasi yang memiliki integritas. Namun ketika keberanian itu benar-benar muncul di depan publik, justru ia dianggap mengganggu kewibawaan.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari polemik ini.
Barangkali dunia pendidikan kita hari ini tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka justru orang-orang berilmu yang rendah hati.
Josepha mungkin kehilangan poin dalam perlombaan. Namun di mata publik, ia memperoleh sesuatu yang jauh lebih bernilai: penghormatan moral. Sebab keberanian menjaga nurani sering kali lebih mahal daripada sekadar kemenangan.
Irwan Hernanda

Komentar