Legitimasi politik Prabowo bisa semakin tergerus dan habis. Kritik keras dari kalangan nasionalis sudah dimulai antara lain diwakili oleh Prof. Saiful Mujani dan Feri Amsari. Saiful Mujani bahkan meminta Prabowo turun.
Sementara dari kelompok islamis juga mulai melancarkan gugatan, antara lain dilakukan oleh Prof. Amin Rais dan Sri Bintang Pamungkas. Sri Bintang Pamungkas juga bicara soal lengsernya rezim. Sayang kelompok kedua ini masuk dengan isu yang sangat problematik, yakni orientasi seksual presiden dan pembantu dekatnya.
Jika dua kelompok ini semakin menguat resistensinya, cepat atau lambat akan muncul suara dari elit-elit partai yang mewadahi kelompok-kelompok sosiologis itu. Apalagi pemilihan umum 2029 semakin dekat. Suara kritis ini potensial muncul dari partai seperti PDI Perjuangan yang memang selama ini tidak secara resmi ada di pemerintahan Prabowo.
Dengan kondisi ekonomi yang carut marut, iklim investasi yang buruk, perilaku pemerintah yang tidak bersahabat dengan dunia usaha, dukungan kalangan bisnis sebetulnya juga sangat rentan. Para pengusaha yang selama satu setengah tahun ini ditindas dan dirugikan oleh kebijakan penguasa itu tinggal menunggu moment untuk ikut bergerak dengan caranya untuk melawan.
Bagaimana dengan birokrasi? Kebijakan Prabowo yang cenderung sentralistik dengan memangkas anggaran daerah membuat pemerintahan di daerah tidak bisa berjalan maksimal. Inisiatif untuk menambah pemasukan melalui peningkatan pajak ditentang habis-habisan oleh warga daerah. Keresahan kepala daerah dan jaringan birokrasi pemerintahan daerah sebenarnya sudah menyala. Tinggal menunggu momentum nyala api itu meledak dan menjalar ke mana-mana. Keresahan yang sama juga dirasakan para birokrat di kementerian dan lembaga di tingkat pusat.
Dengan demikian, satu-satunya kelompok yang mungkin menjadi bantalan dukungan presiden hanya tentara. Tapi apakah tentara akan solid di tengah gempuran dari pelbagai sisi itu? Jika perlawanan dari mana-mana ini terjadi dan semakin menguat, saya tidak yakin para elit militer akan tetap solid di belakang presiden.
Sri Bintang Pamungkas menyatakan rezim harus jatuh. Dia memberi target sebelum ayam berkokok di 1 Januari 2027. Tanda-tanda ke arah sana semakin banyak.
Depok, 5 Mei 2026
SAIDIMAN AHMAD

Komentar