Kolom
Beranda » Mukmin, Euforia dan Kedewasaan PKS

Mukmin, Euforia dan Kedewasaan PKS

Saya termasuk yang menjagokan Mukmin sejak awal dia tampil di SUCI 12.
Saya menikmati cara berpikirnya, punch line dan inovasinya, kegelisahan yang dibawa ke panggung, kesederhanaan seorang guru honorer, dan bagaimana ia bisa membawa nuansa Islam tanpa terasa menggurui.
Coba lihat. Namanya Mukmin. Personanya islami. Tapi Islam yang dibawanya ga tegang dan nyambung dengan realitas sehari-hari.
Begitu muncul jokes bahwa ia lebih mirip orang PKS daripada orang Indonesia Timur, begitu Mukmin juara, saya sempat cetuskan ke teman pengelola akun partai yang kolabnya diterima Mukmin: “Dijaga jangan euforia dan lebay.”
Awalnya cerdas dan kreatif. Ada yang men-stitch konten “tampang orang PKS”. Ada yang membuat ucapan selamat.
Tapi lama-lama muncul pertanyaan: Apakah kita masih menikmati momen ini? Atau kita sudah mulai mengejar validasi, yang sesungguhnya tak lagi berarti?
Dalam Social Identity Theory, Henri Tajfel menjelaskan bahwa sebagian harga diri seseorang berasal dari kelompok yang ia rasa menjadi bagian darinya.
Ketika kelompok kita dipandang positif, kita ikut merasa positif. Ketika kelompok kita dipandang negatif, kita ikut merasa tersinggung.
Saya kira banyak kader PKS memahami perasaan ini.
Selama bertahun-tahun PKS lebih sering menghadapi berbagai stereotip. Dianggap terlalu serius. Terlalu eksklusif. Kurang gaul. Terlalu ideologis.
Tak sekali dua bahkan dijadikan bahan roasting. Dan alih-alih ikut menertawakan diri sendiri, responnya ga sebagaimana naturalnya entitas yang jadi obyek komika.
Malah baper.
Lalu tiba-tiba muncul figur nasional yang disukai publik.
Lucu. Cerdas. Religius tanpa menggurui. Rakyat biasa.
Dan publik sendiri yang berkata:
“Ini kayak orang PKS.”
Maka banyak kader ikut senang.
Maka mungkin yang sedang kita rayakan bukan hanya kemenangan Mukmin. Tetapi juga perasaan bahwa kultur yang selama ini sering disalahpahami ternyata bisa diterima publik.
Ada faktor kedua yang dikenal sebagai Scarcity Effect. Manusia cenderung memberi nilai lebih pada sesuatu yang langka.
Kalau setiap tahun ada figur publik nasional yang diasosiasikan positif dengan PKS, mungkin kita santai kayak di pantai.
Masalahnya, momen seperti ini jarang.
Sangat jarang.
Itu mungkin sebabnya reaksinya jadi lebih emosional. Lebih antusias.
Dan di titik itulah kita perlu hati-hati.
Karena euforia selalu punya musuh bernama dosis.
Tanpa sadar, yang awalnya spontan mulai terasa seperti agenda. Asli capedeh.
Bukan karena niatnya buruk, tapi karena dosisnya berlebihan.
Mari renungkan beberapa hal yang perlu dijaga.
Pertama, jangan sampai bikin Mukmin, pun sesiapa figur publik, tidak nyaman.
Saya ga tahu gimana perasaan Mukmin. Dan saya tidak ingin berspekulasi. Tetapi hampir semua figur publik punya batas.
Sekali dua kali lucu.
Kalau puluhan akun mengulang tema yang sama, apalagi mulai menyentuh identitas politik, ngeliatnya aja melelahkan, Akhi.
Kedua, jangan sampai publik melihat PKS sebagai organisasi yang, afwan, lapar validasi.
Ini lebih berbahaya.
Persepsi bahwa “Wah, ada orang terkenal dikit langsung ditempel tanpa ampon.” “Sok asik banget PKS ini.”
Maka publik melihat pola. Saat komedi berubah menjadi agenda, kelucuannya hilang.
Ketiga, jangan sampai kita merusak sesuatu yang justru bernilai karena sifatnya organik.
Yang membuat fenomena ini menarik justru karena tidak direncanakan.
Bukan hasil operasi media.
Publik yang menciptakan asosiasi itu sendiri.
Dan sesuatu yang lahir secara organik jauh lebih kuat daripada sesuatu yang dipaksakan.
Ibarat kupu-kupu. Semakin dikejar, semakin terbang. Semakin santai, semakin mungkin hinggap.
Keempat, jujur saja stand up comedy bukan kultur PKS. Bahkan bisa dibilang selama puluhan tahun kultur dominan PKS menunjukkan sebaliknya.
Serius. Formal. Penuh agenda. Tugas teros.
Banyak dari kita tumbuh dengan nasihat:
“Jangan terlalu banyak bercanda.”
“Jangan terlalu banyak ketawa. Nanti mematikan hati.”
Lumayan sih di PKS ada Bang Narji dan Wawan Saktiawan.
Tapi fenomena Mukmin jadi menarik karena membuat banyak kader merasa terwakili. Notabene bukan ustadz.
Bukan politisi. Tetapi seorang komika.
Mungkin yang sedang dirindukan sebagian kader bukan sekadar figur populer.
Melainkan figur yang mampu membawa nilai-nilai yang mereka yakini dengan cara yang lebih ringan, lebih manusiawi, dan lebih membumi.
Bukankah itu layak direnungkan.
Kelima, jangan sampai kita tersedot pada momentumus Mukminus (@muk_minus adalah nama akun instagram Mukmin), sampai abai pada pesan lain.
Lihat finalis SUCI tahun ini. Ada guru honorer. Ada mantan anak punk. Ada penjual nasi goreng. Ada tukang odong-odong. Sampai dokter spesialis jantung. Atau di season-season sebelumnya ada TNI, mahasiswa, segala kelas rakyat jelata.
Akar alang-alang hingga WNI berpriviledge bisa naik di panggung yang sedemikian cair.
Kalau perhatian kita hanya tertuju pada Mukmin karena dianggap mirip PKS, jangan-jangan kita kehilangan pesan yang lebih besar.
Bahwa yang layak dirayakan sesungguhnya adalah kemenangan orang-orang biasa.
Kemenangan mereka yang sering tidak dilihat.
Mungkin kita juga lupa keberhasilan dakwah bukan hanya ketika seseorang masuk ke dalam organisasi, *melainkan ketika nilai-nilai yang kita yakini hidup di tengah masyarakat.
Tanpa harus membawa atribut organisasi.
Bahwa kejujuran, kesederhanaan, kepedulian, kecerdasan, keberpihakan kepada rakyat, menjadi nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Bukan sekadar identitas kelompok dan punya KTA
“Selamat, Pak Guru Mukmin. Kami ikut bangga.”
Cukup.
Karena ga semua yang membuat kita bangga harus menjadi milik kita. Dan ga semua momentum yang baik harus diperas sampai habis.
Ga akan meleset takdir Allah.
Afwun minkum.
Detti Febrina. Kader PKS Lampung.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *