Dunia Islam
Beranda » Konferensi Internasional Ketiga Khatib dan Dai Tegaskan Al-Aqsha Adalah Isu Sentral Umat

Konferensi Internasional Ketiga Khatib dan Dai Tegaskan Al-Aqsha Adalah Isu Sentral Umat

Konferensi Internasional Ketiga Para Khatib dan Dai yang mengusung tema “Dari Mimbar Umat Menuju Masjid Al-Aqsha yang Diberkahi” secara resmi ditutup di Istanbul, Turki, pada Jumat (12/12). Konferensi ini menegaskan kembali bahwa Masjid Al-Aqsha dan Palestina merupakan isu sentral umat Islam dan tanggung jawab kolektif dunia Islam.
Konferensi ini diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 93 tahun Konferensi Islam Pertama yang digelar di Masjid Al-Aqsha pada 1931, atas seruan Mufti Al-Quds saat itu, Haji Amin al-Husseini. Momentum sejarah tersebut dinilai sebagai tonggak awal kesadaran umat bahwa perjuangan membela Al-Aqsha bukan isu lokal, melainkan amanah peradaban.
Dalam pernyataan penutupnya, konferensi menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar ajang retorika, melainkan bagian dari proyek strategis untuk membangun kesadaran jangka panjang, memperkuat kerja kelembagaan, dan mengonsolidasikan peran ulama, khatib, serta dai dalam membela Palestina dan Masjid Al-Aqsha.
Konferensi juga berlangsung di tengah kondisi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan di Jalur Gaza, serta eskalasi agresi dan proyek israelisasi terhadap Masjid Al-Aqsha. Para peserta menilai bahwa Al-Aqsha kini berada dalam fase paling berbahaya menjelang tahun 2026, sehingga membutuhkan respons umat yang terorganisir dan berkelanjutan.
Selain itu, konferensi menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat Aceh, Indonesia, atas musibah bencana alam yang merenggut banyak korban jiwa, seraya mendoakan rahmat bagi para korban dan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Rekomendasi Utama
Dalam rekomendasinya, konferensi menyerukan:
• Penguatan peran ulama, khatib, dan dai untuk menjadikan isu Palestina sebagai agenda utama di mimbar, lembaga pendidikan, dan ruang publik.
• Mobilisasi umat untuk mengambil peran kesaksian peradaban melalui dukungan kemanusiaan, advokasi, dan upaya mematahkan blokade Gaza.
• Tanggung jawab para pemimpin dan pengambil kebijakan untuk segera membuka jalur bantuan, mendukung rekonstruksi Gaza, serta melindungi Masjid Al-Aqsha dari proyek yahudisasi dan israelisasi.
• Peluncuran kampanye strategis “SANAD” mulai tahun 2026, guna menopang keteguhan Al-Quds dan Palestina.
• Penguatan kapasitas kader dakwah melalui program pelatihan fatwa dan penguatan metodologi penanganan krisis umat.
• Pembentukan jaringan delegasi internasional untuk memperluas kerja-kerja pembelaan Al-Aqsha dan Palestina di berbagai negara.
Konferensi juga menyampaikan apresiasi kepada gerakan ulama, pemuda, dan masyarakat dunia yang selama fase Thufan Al-Aqsha berdiri menentang agresi Zionis, serta menilai dukungan global tersebut sebagai modal moral dan kemanusiaan yang harus terus dikembangkan.
Menutup pernyataannya, konferensi menegaskan bahwa perjuangan membela Masjid Al-Aqsha adalah perjuangan kesadaran, keberlanjutan, dan tanggung jawab sejarah. Mimbar umat, ditegaskan, akan terus menjadi garda terdepan dalam membela Gaza dan Palestina hingga hak-hak mereka dipulihkan sepenuhnya.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *