Oase
Beranda » Keadaan Genting di Rumah Rasulullah

Keadaan Genting di Rumah Rasulullah

Kecemburuan adalah salah satu bahasa cinta, ketika meluap melampaui batas toleransi.
Itu bukan kecurigaan buta, melainkan pembelaan terhadap hak milik hati.
Di rumah tempat ayat-ayat diturunkan dan akhlak dibentuk sebelum kata-kata, kecemburuan muncul sebagaimana adanya di setiap rumah manusia: murni, spontan, didorong oleh naluri, tanpa kepura-puraan atau kepalsuan.
Nabi saw biasa membagi malamnya di antara istri-istrinya, masing-masing memiliki malamnya sendiri. Saat itu adalah giliran malam Aisyah ra. Nabi saw sedang duduk di rumahnya bersama beberapa sahabatnya, yang akan mendapat pelajaran besar dalam kehidupan rumah tangga. Pelajaran yang menunjukkan bagaimana seorang suami yang bijak dapat meredakan masalah dan mengatasi keadaan genting.
Semuanya berjalan baik sampai ketukan di pintu terdengar. Aisyah ra pergi membuka pintu dan mendapati pelayan Zainab binti Jahsh memegang semangkuk makanan yang telah dimasaknya. Ia berharap Nabi saw akan memakannya.
Kecemburuan Aisyah ra berkobar. Menurut standar istri-istri lain, itu adalah pelanggaran terang-terangan terhadap giliran malamnya. Tetapi bagi seorang wanita yang memahami wanita lain, itu bukan hanya semangkuk makanan; itu adalah pesan cinta: “Aku tidak tahan makan tanpamu.”
Aisyah ra memukul tangan pelayan itu, menyebabkan mangkuk itu jatuh dan pecah, isinya tumpah ke lantai.
Betapa memalukannya situasi itu bagi seorang suami! Bayangkan dirimu berada di posisi Nabi saw, dan katakan padaku bagaimana perasaanmu saat itu. Mungkin pikiran pertamamu adalah bahwa kamu telah dipermalukan di depan tamu, dan bahwa tindakan seperti itu membutuhkan respons untuk menyelamatkan muka, dan tidak boleh diabaikan dalam keadaan apa pun.
Sekarang, lihatlah bagaimana Nabi saw bertindak dalam situasi yang kamu dan saya anggap sebagai perendahan harga diri kita, dan marilah kita belajar dari orang-orang terbaik.
Nabi saw tidak melakukan apa pun selain berlutut, mengumpulkan pecahan mangkuk, mengumpulkan sisa-sisa makanan yang berserakan, dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya sambil tersenyum: “Ibumu cemburu.”
Kemudian Nabi saw berkata kepada Aisyah ra: “Berikan mangkukmu kepadanya.”
Perang rumah tangga akan segera meletus, atau lebih tepatnya, percikan api perceraian akan segera menyala. Tetapi Nabi saw memadamkan semuanya dengan ketenangan, keteguhan, dan kebijaksanaannya.
Nabi saw tahu bahwa wanita cemburu dalam situasi seperti itu, dan bahwa seorang kekasih, ketika cemburu, kehilangan sebagian ketenangan dan kebijaksanaannya. Kita merasakan hal ini ketika menyangkut masalah hati.
Kehidupan rumah tangga, interaksi sehari-hari, dan tekanan hidup terus-menerus menempatkan kita pada potensi konflik dan putus hubungan, tetapi reaksi kitalah yang akan menyiramkan bahan bakar ke api atau menjinakkan bom sebelum meledak.
Dan siapa pun yang percaya bahwa kehidupan rumah tangga adalah medan perang di mana seseorang harus memenangkan setiap pertarungan di dalam, sangat keliru.
Justru sebaliknya; kehidupan rumah tangga hanya bisa bertahan melalui pengabaian kesalahan: pengabaian oleh suami dan istri. Jika kita terus memikirkan setiap kesalahan, meneliti setiap tindakan, dan menganalisis setiap kata, kehidupan rumah tangga akan menjadi neraka yang tak tertahankan.
Kemudian perhatikan Nabi saw: beliau tidak hanya mengabaikan tindakan istrinya tetapi juga berusaha memaafkannya, dengan mengatakan, “Ibumu cemburu.” Nabi saw mempertimbangkan sifat alami wanita, sifat seorang wanita yang mudah terbawa emosi, membiarkan kecemburuannya menyesatkannya, dan kehilangan ketenangannya jika merasa terancam. Dan tidak ada ancaman yang lebih besar bagi seorang wanita selain wanita lain.
Pernikahan adalah perjanjian yang sangat kuat, sebuah janji yang tertulis di langit dan diwujudkan di bumi. Ini adalah bangunan yang kita bangun dalam sekejap, dan kita harus melindungi dan memeliharanya setiap hari. Ini adalah pengalaman bersama; terkadang kamu harus bersabar terhadapnya, dan terkadang dia harus bersabar terhadap dirimu.
Terkadang kamu harus mengabaikan kesalahannya, dan terkadang dia harus mengabaikan kesalahanmu. Kamu harus memaafkan karena kamu juga perlu dimasfkan, dan kamu harus mengampuni karena kamu juga perlu diampuni.
Kisah ini tidak diceritakan hanya untuk menggambarkan suatu kejadian, tetapi untuk mengajarkan kita bahwa keluarga Nabi saw bukanlah contoh yang jauh dari kehidupan manusia, melainkan rumah tangga yang paling dekat dengan hati manusia. Karena Nabi saw menjalani kehidupan sebagai manusia, kemudian meningkatkan nilai dan kualitasnya.
Adham Syarqawi

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *