Oase
Beranda » Muslim yang Berilmu

Muslim yang Berilmu

Tom Nichols dalam bukunya “The Death of Expertis” atau “Matinya Kepakaran” pernah mengatakan bahwa, situasi-situasi di mana orang yang menguasai dan memegang teknologi justru tidak tumbuh menjadi orang yang semakin berilmu, dan tidak berkembang menjadi masyarakat yang semakin arif dan bijaksana, akan tetapi kadang-kadang mereka berkembang menjadi masyarakat yang bodoh.
Ada sebuah kisah yang mungkin sudah akrab kita dengar.
Pada suatu malam Rasulullah datang ke masjid, kemudian beliau melihat Iblis berdiri di depan pintu. Melihat kehadiran Iblis tersebut lantas Rasulullah menegurnya seraya mengatakan, hai Iblis, apa yang kamu perbuat?
Iblis lalu menjawab, ya Rasulullah aku hendak masuk ke Masjid untuk menggoda orang yang shalat, tapi aku takut karena di dekatnya ada orang tidur.
Mendengar ucapan Iblis Rasulullah merasa heran dan kembali bertanya, mengapa kamu tidak takut kepada orang yang sedang shalat, padahal ia sedang berdialog dengan Tuhannya? Dan kenapa kamu takut terhadap orang yang sedang tidur? Bukankah ia dalam keadaan lalai?
Iblis lantas menjawab, ketahuilah ya Rasulullah orang yang sedang shalat itu adalah orang bodoh sehingga mudah bagiku untuk mengganggunya. Tetapi dia yang sedang tidur itu adalah orang berilmu, kalau pun aku berhasil merusak shalat orang bodoh itu, lalu orang yang berilmu terbangun, niscaya ia akan segera membetulkan shalat orang bodoh itu!
Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidurnya orang alim itu lebih baik daripada ibadahnya orang bodoh.”
Kisah demikian mengingatkan pada kita. bahwa Islam adalah agama yang memuliakan orang berilmu, derajat orang-orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan orang yang tiada berilmu. Bahkan, ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca.
Menyambung dari buku yang saya paparkan di awal, orang mungkin bisa setuju atau tidak setuju dengan penyataan penulisnya. Hanya, bolehlah itu menjadi semacam refleksi kritis. Kita hidup di zaman, era media sosial yang setiap orang bebas berkomentar apa saja. Di sinilah sebenarnya ilmu menjadi bagian terpenting dalam interaksi demikian.
Bayangkan, betapa kacaunya ketika orang seenaknya berkomentar tanpa basis keilmuwan yang jelas, tanpa pengetahuan yang mencukupi. Hasilnya, kekacauan pandangan, kekacauan informasi, kekacauan narasi yang terjadi. Di sinilah urgensi muslim yang berilmu.
Hadirnya, menjadi bagian pencerah, bukan sebaliknya.
Dan kita berharap, ada dalam golongan pencerah ini. Bukan yang lain. Memberikan asupan-asupan ilmu atas beragam peristiwa, fenomena, dan kasus-kasus kontekstual yang terjadi. Jika ini yang kita lakukan, bolehlah kita berharap hadir sebuah masyarakat yang lebih terdidik sekaligus beradab. []
(Yons Achmad. Pegiat Dewan Dakwah)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *