BANYAK orang mengejar uang sebanyak-banyaknya karena mengira itulah jalan menuju hidup yang kaya. Padahal kaya belum tentu cukup. Tetapi hati yang merasa cukup akan membuat seseorang tidak serakah dan tidak merasa kekurangan.
Ada orang bergaji ratusan juta, tetapi selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada yang penghasilannya biasa saja, namun hidupnya tenang, mampu berbagi, dan merasa cukup.
Mengapa? Karena rasa cukup bukan hanya soal jumlah uang, tetapi juga keberkahan dan keadaan hati.
Lalu bagaimana agar Allah memberi kita rezeki yang cukup tanpa kekurangan?
1. Jalan Langit: Meminta Pertolongan Allah
Allah adalah Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki. Karena itu, mintalah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Perbanyak doa, istighfar, taubat, shalat tepat waktu, sedekah, menjaga silaturahim, bertakwa, dan bertawakal.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Jangan hanya bekerja keras. Dekatkan juga dirimu kepada Zat yang menguasai seluruh pintu rezeki.
2. Jalan Bumi: Berikhtiar dengan Cerdas
Allah memerintahkan kita bekerja, bukan bermalas-malasan. Tingkatkan ilmu dan keterampilan. Bekerjalah dengan profesional dan jujur.
Carilah penghasilan yang halal. Hindari utang konsumtif. Bedakan kebutuhan dengan keinginan. Biasakan menabung dan berinvestasi secara bijak.
Jangan habiskan seluruh penghasilan hanya untuk gaya hidup. Karena penghasilan yang naik tidak akan pernah terasa cukup jika pengeluaran selalu ikut naik. Orang yang pandai mengelola uang sering kali lebih cepat merasa cukup daripada orang yang hanya pandai mencari uang.
Jadi, jalan langit tanpa jalan bumi akan melahirkan angan-angan. Jalan bumi tanpa jalan langit sering kali melahirkan kesombongan dan kegelisahan. Seorang mukmin menempuh keduanya sekaligus. Ia bekerja sebaik-baiknya, tetapi hatinya bergantung kepada Allah. Ia berikhtiar sekuat-kuatnya, tetapi tetap yakin bahwa yang mencukupkan bukan pekerjaannya, melainkan Rabb-nya.
Istilah lainnya, rezekinya menjadi pas-pasan tanpa kekurangan. Pas mau membeli kendaraan, pas ada uangnya. Pas anak ingin masuk sekolah, pas ada dananya. Pas ingin bayar listrik, pas ada duitnya. Pas masuk rumah sakit, pas ada biayanya.
Akhirnya, tujuan kita bukan sekadar menjadi orang yang banyak uang. Yang lebih penting adalah menjadi orang yang dicukupkan oleh Allah, sehingga tidak merasa kekurangan.
Sebab, orang yang banyak uang belum tentu bahagia. Tetapi orang yang Allah cukupkan hatinya akan hidup tenang, tidak serakah, mudah bersyukur, dan lebih mudah berbagi. Itulah kekayaan yang sesungguhnya.
Satria Hadi Lubis

Komentar