Menurut Mustafa Abdurrahman, mantan wartawan senior Kompas, kini pertarungan yang terjadi di Palestina bukan lagi Israel vs Pan Arabisme, tapi Zionis vs Islamis.
Hal itu diungkapkan oleh Mustafa dalam diskusi dengan Serikat Jurnalis Islam Indonesia (Sajid), yang dipandu Ustadz Bachtiar Nasir di AQL Islamic Centre di Tebet Jakarta Selatan, hari ini (19/6). Menurutnya, Israel kini menjadi negara terkucil di dunia. Eropa yang dulu pro Israel, sekarang banyak yang mendukung negara Palestina Merdeka. “Saya yakin nanti negara Palestina akan terwujud,“ kata wartawan yang bertugas puluhan tahun di Timur Tengah ini.
Mustafa juga menjelaskan tentang kegagalan-kegagalan besar Amerika Serikat dan Israel secara strategis dalam perang melawan Iran. “Pada akhirnya, hubungan Amerika Serikat dan Israel pun mulai kurang harmonis, bahkan mulai terlihat adanya perpecahan,“terangnya. Presiden Trump sempat memarahi Netanyahu karena terus melakukan serangan ke Libanon.
“Kalau harus memilih, Israel, antara nuklir sama rezim, antara rezim berubah atau Iran punya nuklir, Israel itu sebetulnya memilih perubahan rezim. Walaupun Iran punya nuklir, tapi rezimnya bersahabat dengan Iran seperti pada zaman Syah Iran, itu mungkin tidak masalah bagi Israel. Yang paling bahaya bagi Israel itu adalah rezim. Walaupun Iran tidak punya nuklir, tapi rezimnya tidak berubah, kemudian semakin berkembang, Israel itu akan takut,“ terangnya.
Menurutnya, masalah Iran sama Israel tidak akan pernah selesai selama rezim para Mullah ini masih berkuasa. “Terlepas dia punya senjata nuklir atau tidak. Jadi problemnya adalah di rezim ini,“jelas laki-laki lulusan Universitas Al Azhar Kairo Mesir, yang kini tinggal di Jakarta.
Dalam pandangan Mustafa, kepentingan Israel beda dengan Amerika. Amerika tidak ada masalah dengan rezim ini. Masalahnya adalah Iran punya atau tidak senjata nuklir. Di situ perbedaan antara Amerika dengan Israel. Makanya sekarang setelah tercapai kesepakatan damai yang ditandatangani, kemudian dilanjutkan perundingan enam puluh hari, Israel itu tidak suka. “Jadi kepentingan strategis Israel masih belum terakomodasi oleh Amerika dalam konteks sekarang dalam kesepakatan damai (Amerika-Iran). Jadi belum selesai. Maka pertarungan ke depan akan lebih seru. Dan siapa yang memenangkan pertarungan ini, ini akan menentukan masa depan Palestina,“ paparnya.
Mustafa menyatakan bahwa ke depan diperkirakan akan terjadi pertarungan strategis yang melibatkan Iran, Israel, dan Turki. Misalnya, apabila dalam 60 hari persoalan nuklir Iran berhasil diselesaikan, persaingan strategis di antara ketiga negara tersebut justru akan semakin mengemuka. “Dengan demikian, persoalan ini belum selesai.
Pertarungan strategis ke depan justru diperkirakan akan semakin menarik. Siapa pun yang nantinya memenangkan pertarungan tersebut akan sangat menentukan masa depan Palestina,“ujarnya.
Sesuai perjanjian, Amerika memang telah menyetujui pemberian dana sekitar 300 miliar dolar AS kepada Iran. Karena itu, akan ada proyek, atau bahkan megaproyek, pembangunan kembali Iran secara besar-besaran pascakonflik dengan uang itu. “Dana sebesar 300 miliar dolar AS tersebut nantinya akan disalurkan melalui berbagai skema pembiayaan. Negara-negara Teluk diperkirakan akan menjadi pihak yang melakukan investasi. Jadi, dana itu bukan berasal dari pajak rakyat Amerika Serikat (US taxpayers), melainkan melalui investasi dan pendanaan dari negara-negara Teluk serta investor lainnya,“ terangnya.
Mustafa juga menyoroti perubahan lanskap media global. Menurutnya, dominasi media Barat dalam pemberitaan internasional mulai mengalami pergeseran sejak munculnya jaringan televisi Al Jazeera dari Qatar.
Sebelum kemunculan Al Jazeera, kata dia, pemberitaan internasional didominasi media-media Barat seperti CNN dan BBC. Namun kehadiran Al Jazeera menghadirkan perspektif baru yang mampu menarik perhatian publik dunia, khususnya masyarakat Timur Tengah.
“Hegemoni media Barat terhadap pemberitaan internasional mulai berakhir setelah munculnya Al Jazeera. Pengaruhnya luar biasa dan menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat Timur Tengah,” katanya.
Ia menilai media-media dunia Islam perlu terus diperkuat agar mampu menghadirkan perspektif yang lebih berimbang dalam pemberitaan internasional.
Sebagai wartawan yang lama bertugas di Timur Tengah, Musthafa mengaku rutin mengikuti berbagai media Israel seperti Haaretz, Jerusalem Post, dan Yedioth Ahronoth.
Menurutnya, meskipun secara politik ia mengkritik ideologi Zionisme, memahami media Israel tetap penting untuk mengetahui dinamika politik dan opini publik di negara tersebut.
“Saya membaca media Israel hampir setiap hari. Mereka sangat cepat dan profesional dalam pemberitaan. Kita harus memahami bagaimana mereka berpikir dan bagaimana lanskap politik mereka bekerja,” ujarnya.
Mustafa mencontohkan kebijakan Presiden Mesir Anwar Sadat pasca-Perang Arab-Israel 1973 yang mendorong pembelajaran bahasa Ibrani di berbagai universitas Mesir sebagai bagian dari strategi memahami Israel secara lebih mendalam.
“Sadat pernah mengatakan, ‘Kenalilah musuhmu.’ Karena itu berbagai universitas di Mesir membuka program studi bahasa Ibrani agar masyarakat dan para ahli memahami Israel secara lebih baik,” katanya.
Menurut Mustafa, pemahaman yang mendalam terhadap lawan merupakan bagian penting dalam membangun strategi politik, diplomasi, maupun media yang efektif di kawasan Timur Tengah
Mustafa Abdurrahman adalah jurnalis senior yang telah lama berkecimpung dalam peliputan isu-isu Timur Tengah dan Afrika Utara.
Bergabung dengan Harian Kompas sejak tahun 1991, ia pernah bertugas sebagai koresponden di Kairo, Mesir, serta aktif menulis berbagai laporan jurnalistik dan analisis geopolitik internasional. Selain aktif menulis artikel di Kompas, ia juga telah menulis buku, antara lain:
* Afganistan di Tengah Arus Perubahan: Laporan dari Lapangan (2002)
* Napak Tilas Negeri Mesir: Dari Era Firaun, Romawi-Yunani, Islam hingga Modern (2023)
* Operasi Senyap Mossad di Dunia Arab dan Iran (2023), bersama Fajar Riza Ul Haq
Nuim Hidayat

Komentar