Seorang sahabat mengirim pertanyaan kepada saya. “Sering kali kegiatan-kegiatan yang saya lakukan ‘berkedok’ dakwah. Namun melalaikan tugas sebagai kepala keluarga. Mohon masukannya”.
Sangat menarik pertanyaannya. Pertanyaan yang mungkin mewakili beberapa kalangan aktivis dakwah. Ada kondisi paradoks, satu sisi “merasa” sibuk dengan berbagai kegiatan dakwah, namun di saat yang sama melalaikan peran sebagai kepala rumah tangga.
Pertama kali yang harus dipahami adalah makna dakwah dan syumuliyah dakwah. Sebagaimana kita ketahui, dakwah adalah usaha mengajak manusia menuju nilai-nilai kebaikan sesuai tuntunan Ketuhanan dan petunjuk Kenabian.
Maka aktivitas dakwah mencakup aspek yang sangat sangat sangat luas. Usaha membahasabumikan nilai-nilai langit, bisa kita wujudkan dalam beragam aktivitas.
Oleh karenanya dakwah bersifat syamil, utuh menyeluruh. Syumuliyah dakwah, adalah adalah pandangan tentang keutuhan dakwah, tanpa membuat dikotomi antara peran “publik” dan “domestik”.
Antara peran di dalam dan di luar rumah. Antara peran sebagai kepala rumah tangga dengan kepala desa. Antara peran sebagai orang tua dengan peran sebagai pejabat publik, dan lain sebagainya.
Dalam konteks syumuliyah dakwah, kita memahami dakwah itu ada yang di dalam rumah, ada pula yang di luar rumah.
Dakwah di dalam rumah adalah membina keluarga, mendidik anak, menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah.
Jika keluarga harmonis, anak-anak tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah, seluruh anggota keluarga mentaati aturan Allah dan Rasul, itulah keberhasilan dakwah di dalam rumah. Ini dilakukan secara sinergis dan kolaboratif antara suami dan istri.
Sedangkan dakwah di luar rumah bisa berupa berbagai aktivitas kemasyarakatan, sosial, politik, seni, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya, yang mengajak masyarakat menuju keluhuran diri, ketinggian pekerti, dan kekuatan nurani.
Perbaikan individu, keluarga, masyarakat dan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi fokus dari aktivitas dakwah kita di luar rumah.
Keduanya, dakwah di dalam rumah dan di luar rumah, harus sukses dan berhasil. Jangan hanya berorientasi keberhasilan di salah satu sisi, namuan keduanya harus diperjuangkan untuk mendapatkan keberhasilan.
Maka tidak boleh ada dikhotomi, “saya berdakwah di luar rumah, sedangkan kegiatan di dalam rumah bukanlah dakwah”. Itu adalah pemahaman yang keliru dalam konteks syumuliyah dakwah.
Justru dakwah itu mencakup peran yang harus kita jalankan di dalam rumah, dan peran yang harus kita lakukan di luar rumah. Keduanya adalah aktivitas dakwah.
Semoga kita semua mampu mencapai keseimbangan serta kesuksesan dakwah di dalam dan di luar rumah. Tidak ada yang dikorbankan. Semua diutamakan secara proporsional.
Cahyadi Takariawan

Komentar