Saya mulai mengenal tarbiyah saat kuliah di UI. Waktu itu, seorang pelajar sebuah SMA Negeri di Jakarta, mengajak saya bersama beberapa aktivis UI untuk mengikuti pengajian di daerah Tanah Abang.
Di pengajian inilah saya pertama kali bertemun dan mengenal Ustadz Hilmi Aminuddin –Allahuyarham. Belakangan saya mengetahui, inilah sistem tarbiyah.
Penampilan beliau sangat berbeda dengan penampilan umumnya Syaikh atau Ustadz waktu itu. Beliau tidak berjanggut ataupun kumis, tidak berbaju koko atau sarung, lebih sering mengenakan kaos atau baju batik. Penampilan yang sangat sederhana dan bersahaja.
Saya teringat saat pertama kali beliau membina kami. Mengenakan kopiah nasional hitam dan berbaju batik warna coklat. Saat itu ada seorang sahabat berbisik kepada saya, “Jangan-jangan ini bukan ustadz beneran”; karena beliau memakai batik.
Sejujurnya, saya dan teman-teman mendapatkan banyak sekali pencerahan dari Ustadz Hilmi. Beliau mengajar sangat sistematis dan di akhir pelajaran selalu memberikan kepada kami pointers berupa skema pelajaran yang disebut “rasmul bayan”.
Materi “rasmul bayan” ini berbentuk bagan (panah panah) yang sangat memudahkan kami dalam menyerap pelajaran yang beliau sampaikan. Penjelasan yang begitu gamblang dari beliau membuat saya terkesima, seperti menemukan suatu kebenaran yang indah, baru dan istimewa.
Alhamdulillah, setiap penjelasan beliau mampu membuka bashirah (mata hati) dan menundukkan jiwa kami untuk mengikuti kebenaran.
Selalu terngiang di telinga saya, nasihat Beliau, “Antum harus menjadi agen-agen rahmat (kasih sayang) Allah. Semua manusia harus kalian sayangi dengan tulus bahkan mereka yang kafir sekali pun seharusnya dapat merasakan kebaikan Islam.”
Bagitulah, setiap forum pembinaan rutin bersama beliau, selalu menarik untuk dikenang, mudah dipahami, mudah diduplikasi dalam bentuk pengajian yang serupa. Sehingga kami termotivasi menjadi agen perubahan dan turut berdakwah.
Dari sinilah saya menemukan kesimpulan penting : bahwa tarbiyah itu mudah. Tarbiyah bisa dilakukan oleh siapapun yang tulus ingin membina umat. Tidak rumit, tidak bertele-tele, tidak njlimet.
Aus Hidayat Nur

Komentar