Sudah genap sebulan “Ngaji UPA” anak-anak muda ini melangkah. Awalnya banyak yang bertanya, “Mungkin gak ya?” Mengumpulkan anak muda yang sehari-harinya lekat dengan gawai dan dunia maya, lalu mengajak mereka berbicara tentang iman dan dakwah?
Namun alhamdulillah, jalan itu terbuka lebar. Sebagai generasi 90an, sedikit banyak mengerti bahkan pernah memainkan game-game tersebut. Saya paham: kita tak perlu memaksa mereka keluar dari dunianya. Kita cukup masuk bersama mereka.
Itulah awal dari apa yang disebut para ahli psikologi sebagai teknik pencerminan atau mirroring: kita menyelaraskan nada bicara, topik, dan cara pandang dengan lawan bicara, hingga mereka merasa “ini orang satu frekuensi dengan saya”.
Saat berkumpul, kami tak langsung membuka buku. Kami mulai dengan antusiasme yang sama seperti mereka: membahas pembaruan terkini, strategi pertarungan, siapa yang baru saja naik pangkat, dan kehebatan karakter andalan masing-masing.
Perlahan dinding pembatas runtuh. Mereka tak lagi merasa sedang “dibina”, melainkan sedang berdiskusi dengan teman yang juga mengerti kesenangan mereka. Di sinilah hati mulai terbuka.
Suatu saat kami berbincang tentang sosok yang kerap menjadi andalan: Khaleed. “Karakter ini hebat sekali, bang! Serangannya kuat, sulit dikalahkan!” seru salah satu dari mereka.
Saya tersenyum: “Benar. Di sini ia petarung andalan. Tahukah kalian, di dunia nyata ada sosok yang namanya diambil untuk karakter ini? Ia adalah Khalid bin Walid, panglima yang dijuluki ‘Pedang Allah yang terhunus’. Dalam sejarah, ia memimpin ratusan peperangan dan tak pernah sekalipun mengalami kekalahan—persis seperti ketangguhan yang kalian rasakan saat mengendalikannya.”
Mata mereka berbinar. Rasa penasaran pun tumbuh.
Kemudian kami menyinggung Lapu-Lapu dalam game Mobile Legend. Sebagian hanya tahu ia pahlawan Filipina.
Namun kami berbagi: “Banyak catatan dan cerita masyarakat menyebutkan ia adalah seorang muslim sejati, bernama asli Khalifa Lapu, yang berlayar dari Jolo menuju Mactan demi mempertahankan tanah air dan imannya.”
Bahkan sosok Badang yang dikenal dari kekuatan luar biasa, kami hubungkan dengan jejak di tanah sendiri: “Ia bukan sekadar tokoh dongeng. Banyak yang meyakini ia pernah hidup di wilayah kerajaan Melayu lama, dan makamnya masih bisa dikunjungi hingga kini di Pulau Karimun, Kepulauan Riau—tak jauh dari tanah air kita.”
Tak berhenti di sana. Saat membahas Rise of Kingdoms, sosok Salahuddin Al-Ayyubi menjadi jembatan yang kokoh.
“Di permainan ini ia pemimpin yang bijak dan disegani,” ujar mereka.
“Sama persis dengan aslinya,” jawab saya. “Ia tak hanya merebut kembali Yerusalem, namun juga dikenal musuhnya sebagai sosok yang berbudi luhur, menjaga amanah, dan penuh kasih sayang—sifat yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemenangan di medan perang.”
Inilah hakikat pembinaan yang saya usahakan di UPA ini, persis seperti jiwa sebuah halaqoh. Bukan menjauhkan mereka dari apa yang mereka sukai, melainkan memperluas pandangan mereka.
Mengubah apa yang awalnya hanya hiburan, menjadi pintu untuk mengenal sosok-sosok teladan, menanamkan nilai keberanian, kejujuran, dan kecintaan pada sejarah iman kita.
Dari sisi psikologis, pencerminan ini bekerja begitu kuat:
– Ketika kita hadir di dunia mereka tanpa menghakimi, rasa curiga dan pertahanan diri mereka luruh;
– Kesamaan topik membangun rasa percaya dan ikatan emosional lebih cepat daripada sekadar nasihat;
– Saat mereka melihat kesesuaian antara karakter yang mereka kagumi dengan sosok nyata yang penuh teladan, nilai-nilai itu akan melekat jauh lebih dalam dan sulit terlupakan;
– Perlahan kesukaan mereka pada permainan berubah menjadi kekaguman pada sifat mulia, yang kelak akan terbawa ke dalam sikap sehari-hari.
Satu bulan baru saja berlalu. Namun benih itu sudah jatuh di tanah yang subur. Kini mereka tak sekadar bertanya “bagaimana cara memenangkan pertandingan”, tapi juga “cerita selanjutnya tentang pahlawan itu apa lagi, bang?”
Dan itulah awal terbaik: ketika mereka sendiri yang ingin tahu lebih banyak tentang jejak para pendahulu kita. Semoga dari sekedar penasaran jadi pencinta tokoh – tokoh Islam dan mencinta Agamanya.
Moga mereka semua istiqamah dalam kebaikan.
Mujibu Rahman (Kab. Buru, Maluku)

Komentar