Oase
Beranda » OTW Muslim Merdeka

OTW Muslim Merdeka

Saya sedang suka menggunakan istilah OTW alias “On the Way” yang artinya sedang dalam perjalanan atau menuju kepada sesuatu. Lebih luas lagi, diartikan sebagai suatu proses. Ya, sebagaimana hidup memang sebuah proses. Di mana, hidup bukan tentang hasil akhir yang instan, melainkan perjalanan panjang penuh pembelajaran, perubahan, dan pengalaman dari setiap langkah yang kita lewati setiap hari.
Begitu juga ketika bicara perkara merdeka. Perkara menjadi seorang muslim yang merdeka. Itu juga sebuah proses. Setiap tahun, umpamanya, banyak orang merayakan hari kemerdekaan Indonesia, saya juga ikut merayakannya. kali ini bukan dengan upacara bendera. Tapi dengan merenungkannya.
Sebagai anak cucu Adam, bolehlah makna kemerdekaan kita telisik melalui awal mula kisah turunnya ada ke bumi. Sebuah permulaan yang akan menentukan makna kehadiran manusia di dunia. Sebuah tafsir menarik, kita bisa membaca pemikiran intelektual muslim bernama Muhammad Iqbal dalam “The Reconstruction of Religious Thought in Islam.” Ia, mendiskusikan kebebasan atau kemerdekaan manusia melalui kisah Adam di dalam Al-Qur’an.
Iqbal memiliki cara pandang menarik tentang kisah ini. Tidak seperti penjelasan Biblikal bahwa “kejatuhan Adam” adalah sebuah hukuman sebagai akibat dari dosa makan buah pohon keabadian, Iqbal justru memaknai ini sebagai transformasi diri kemanusian. Jika dunia dipandang sebagai penjaraan abadi manusia karena “dosa pertama” ini, Iqbal sebaliknya, memaknai dunia sebagai ladang bagi kreativitas manusia merdeka.
Di sini, hadir transformasi kesadaran. Alih-alih tentang kejatuhan manusia, kisah Adam justru menunjukkan pada munculnya manusia yang memiliki kesadaran atas diri yang merdeka. Manusia seperti ini adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk meragukan dan bahkan ketidakpatuhan.
Ketidakpatuhan di sini menandai pilihan bebas sebagai kapasitas yang dimiliki manusia. Mengapa manusia perlu memiliki kondisi merdeka untuk taat atau membangkang? Jawabannya adalah karena kesadaran kemerdekaan bukan tentang keterpaksaan.
Itu sebabnya, kita bisa menafsirkan bagaimana makna turunnya Nabi Adam ke bumi adalah menjalankan takdir utama sebagai khalifatullah fil ardhi (pemimpin dan pengelola muka bumi), bukan sekadar hukuman buang. Peristiwa memakan buah terlarang di surga bisa kita tafsirkan merupakan bagian dari skenario Allah untuk melatih mental, memberi pengalaman menghadapi godaan iblis, serta memulai peradaban manusia.
Lantas, bagaimana seharusnya kiprah manusia merdeka di bumi ini? Iqbal melukiskannya dalam sebuah puisi berjudul “Tuhan Manusia.”
Kau menciptakan malam, aku menciptakan lampu yang meneranginya.
Kau buat lempung, kubikin darinya cawan minuman.
Kau bikin hutan, gunung dan padang rumputan. Kucipta kebun, taman, jalan-jalan
Begitulah kira-kira gambaran bagaimana manusia merdeka menjalankan takdir utamanya. sebagai khalifatullah fil ardhi (pemimpin dan pengelola muka bumi). Sebuah proses panjang yang bakal terus dijalani, sepanjang hidup, sampai ajal menjemput.
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *