Oase
Beranda » OTW Ayah Kuat

OTW Ayah Kuat

Saya setuju ungkapan, ketika ayah beres semua insyaallah beres. Saat seorang lelaki belum punya istri dan anak, mungkin kehidupan lebih bebas. Tapi, ketika sudah punya istri dan anak, satu hal yang menjadi pilar utamanya satu saja. Tak lain tak bukan “Tanggung Jawab.” Untuk memikul ini, apapun kondisinya kita perlu menjadi sosok, sebut saja “Ayah Kuat”.

Menjadi ayah bukan sekadar status biologis, tetapi sebuah proses untuk menjadi qawwam, pemimpin dan penanggung jawab keluarga. Dalam konteks ini, seorang ayah tidak cukup hanya memiliki otoritas, tetapi juga harus memiliki kapasitas untuk melindungi, menafkahi, membimbing, dan menjadi teladan. Bagi saya, perjalanan menuju “Ayah Kuat” setidaknya membutuhkan tiga kekuatan utama.

  1. Kuat Finansial

Saya sengaja menaruh ini yang paling awal. Kenapa? Mungkin secara teori, dalam perspektif agama nomor sekian. Tapi, berdasar pengalaman. Betapun solehnya seorang ayah, kalau finansial rapuh, kadang semua tak ada artinya. Orang boleh tak sependapat, tapi lagi-lagi ini pendapat saya pribadi.

Ya, kekuatan pertama adalah finansial. Bukan berarti seorang ayah harus kaya, tetapi ia harus memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya dan memiliki kesungguhan dalam mencari serta mengelola nafkah. Islam sendiri menempatkan tanggung jawab ekonomi sebagai bagian penting dari peran laki-laki dalam keluarga.

Dalam kehidupan nyata, kekuatan finansial juga berpengaruh terhadap wibawa dan kemandirian seorang ayah. Kesalehan dan kecakapan sosial akan lebih kuat ketika disertai kemampuan menjalankan tanggung jawab ekonomi. Karena itu, ayah perlu memiliki etos kerja, kemampuan mengelola keuangan, perencanaan masa depan, dan keberanian untuk terus meningkatkan kapasitas ekonominya.

  1. Kuat Spiritual

Kekuatan kedua adalah spiritual. Seorang ayah membutuhkan iman yang matang, kedewasaan emosional, integritas dan kesadaran bahwa kepemimpinan keluarga adalah amanah. Ayah yang kuat secara spiritual bukan hanya pandai memberikan nasihat agama, tetapi mampu menghadirkan nilai agama dalam perilaku sehari-hari.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan ayah, tetapi terutama dari apa yang dilakukan ayah. Karena itu, kesalehan seorang ayah harus terlihat dalam cara ia memperlakukan istri, mendidik anak, mencari nafkah, menghadapi masalah dan mengendalikan emosinya. Di sini, keterlibatan ayah juga menunjukkan bahwa kehangatan, responsivitas dan keterlibatan positif ayah berkaitan dengan perkembangan sosial-emosional anak.

  1. Kuat Sosial

Selanjutnya, kekuatan ketiga adalah sosial. Ayah perlu memiliki kecakapan berkomunikasi, kemampuan membangun relasi dan jaringan yang sehat di tengah masyarakat. Keluarga tidak hidup sendirian. Ada tetangga, keluarga besar, lingkungan kerja, komunitas dan berbagai jaringan sosial yang dapat menjadi sumber dukungan.

Ayah yang kuat secara sosial bukan hanya dikenal banyak orang, tetapi juga mampu menjadi jembatan bagi keluarganya. Ia komunikatif, mudah bergaul, mampu menyelesaikan persoalan, memiliki jaringan yang luas dan tetap hadir dalam kehidupan sosial anak-anaknya.

Jadi, Ayah Kuat adalah perpaduan tiga kekuatan: kuat finansial, kuat spiritual dan kuat sosial. Finansial memberikan daya untuk menopang keluarga, spiritual memberikan arah dan nilai, sedangkan sosial memberikan kemampuan untuk membangun relasi dan menghadapi kehidupan.

Menjadi ayah kuat bukan proses sekali jadi. Ia adalah perjalanan panjang. Karena itu saya menyebutnya OTW, On The Way. Kita mungkin belum sempurna secara finansial, spiritual maupun sosial. Tetapi yang terpenting adalah terus belajar, bertumbuh dan memperbaiki diri agar suatu hari benar-benar menjadi ayah yang layak dijadikan sandaran oleh keluarga.

(Yons Achmad. Storyteller. Pendiri Komunitas “Ayah Kuat”.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *