Beliau sudah lama wafat. Hampir 4 tahun yang lalu. Tepatnya 22 September 2022. Beliau wafat pada usia 96 tahun, meninggalkan ratusan karya tulis yang mendapat penerimaan luas di berbagai negeri Islam. Ratusan Ulama dari berbagai negara ikut mengantarkan jenazahnya ke tempat pemakamannya.
Pasti banyak yang setuju dengan pendapat-pendapat Beliau, sebagaimana juga banyak yang tidak setuju. Banyak yang memujinya juga ada yang mencacinya. Tapi, dia sudah pergi menghadap Sang Pencipta dengan cara yang baik. Segala pujian dan cacian dari manusia takkan menambah atau mengurangi posisi Beliau di sisi Allah.
Kalau Beliau ada tersalah dalam ijtihadnya, itu manusiawi. Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Ratusan Ulama salafpun tidak luput dari kekhilafan. Yang ma’shum hanyalah Rasulullah Saw. Untuk Beliau, cukuplah bagi kita perkataan Imam Malik: “Semua orang dapat diterima perkataannya dan dapat juga ditolak. Kecuali penghuni kuburan ini (Imam Malik menunjuk kuburan Rasulullah Saw).”
Kalau sekarang ada yang mengkaji ulang karya dan pendapat Beliau, itu sah-sah saja. Selama hal itu dilakukan dengan semangat keilmuan, amanah ilmiah, adil, jujur dan jauh dari maksud-maksud duniawi dan hawa nafsu. Dan Allah Maha Mengetahui segala yang di dalam niat (hati).
Tapi, kalau ada yang niatnya untuk menjatuhkan kehormatan Beliau, merendahkan keilmuan Beliau, apalagi “menuduhkan” sesuatu yang tidak Beliau kerjakan (maksudkan), tentu orang tersebut kelak akan berurusan dengan Beliau di depan Mahkamah Allah Yang Maha Adil.
Umat dan banyak ulama sangat tahu betapa Beliau senantiasa konsisten dalam Islam dan dakwahnya. Tidak pernah mau “menjilat” kepada penguasa, untuk mendapatkan dunia. Baik di kampung halamannya di Mesir maupun di negeri “hijrahnya” di Qatar. Beliau rela mendekam di penjara rezim dengan segala ragam siksaannya, demi mempertahankan prinsip kebenaran. Di saat yang sama, tidak sedikit “ulama” yang lebih memilih nyaman di bawah “ketiak” rezim diktator demi rasa aman atau “sesuap” nasi. Bahkan tidak malu-malu memuji dan menjilat penguasa demi jabatan dan pengaruh, atau karena “kebencian” yang tersimpan mendalam terhadap lawan-lawan politiknya.
Sebagai seorang Ulama, Beliau juga memberikan keteladanan yang sangat baik dalam memuliakan para Ulama. Ketika Syekh Bin Baz wafat, Beliau menulis panjang kalimat duka dan memujinya. Padahal Beliau punya lumayan banyak perbedaan dengan Syekh Bin Baz dalam berpendapat. Bahkan begitu banyak murid-murid Bin Baz yang merendahkan atau mencelanya. Begitu pula di saat Syekh Albany wafat, Beliau juga menulis kalimat duka yang panjang dan memujinya. Walaupun begitu banyak perbedaan Albany dengan Beliau. Itulah sikap adil dan objektif (inshaf) Beliau.
Beliau telah pergi menghadap Allah Swt dengan membawa amal dan perjuangannya. Konsisten berpihak kepada Islam dan kaum muslimin yang tertindas sampai akhir hayatnya. Laa nuzakki ahadan ‘alallah. Kita yang masih hidup inilah yang belum aman dari berbagai fitnah. Kepada Allah kita memohon ampunan dan husnul khaatimah.
Irsyad Syafar

Komentar