Oase
Beranda » Bahaya Teman yang Tidak Baik

Bahaya Teman yang Tidak Baik

Ubay bin Khalaf dan Uqbah bin Abi Mu’aith adalah teman dekat. Setiap kali Uqbah kembali dari perjalanan, ia menyiapkan makanan dan mengundang para bangsawan Quraisy. Ia sering duduk bersama Nabi saw.
Suatu ketika, setelah kembali dari perjalanan, ia menyiapkan makanan dan mengundang orang-orang, termasuk Nabi saw.
Ketika makanan disajikan, Nabi saw bersabda kepadanya, “Aku tidak akan memakan makananmu sampai kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah.”
Uqbah menjawab, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”
Kemudian Nabi saw memakan makanannya. Ubay bin Khalaf saat itu sedang keluar. Ketika ia kembali dan diberitahu tentang apa yang telah terjadi, ia pergi menemui Uqbah dan berkata kepadanya, “Apakah engkau telah masuk Islam, Uqbah?”
Uqbah menjawab, “Demi Allah, aku belum masuk Islam. Tetapi seorang laki-laki datang kepadaku dan menolak untuk makan makananku sampai aku bersaksi untuknya. Maka aku bersaksi, dan aku merasa malu karena ia meninggalkan rumahku tanpa makan.”
Ubay berkata kepadanya, “Aku tidak ridha denganmu sampai kamu pergi kepadanya dan meludahi wajahnya.” Maka Uqbah melakukan itu, semoga Allah menghinakannya.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Jika aku bertemu denganmu di luar Mekah, aku akan membunuhmu dengan pedangku!”
Pada hari Perang Badar, Uqbah ditawan dan dibunuh, tidak seperti tawanan lainnya, karena apa yang telah dilakukannya dan sebagai pemenuhan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Adapun Ubay bin Khalaf, Nabi saw membunuhnya pada hari Perang Uhud. Dan mengenai mereka, Allah Yang Maha Kuasa menurunkan firman-Nya:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّا لِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama rasul.” (QS. Al-Furqan; 27)
Pelajaran Pertama:
Dunia ini selalu berubah, jadi jangan tertipu. Yang kuat tidak akan tetap kuat selamanya, dan yang lemah tidak akan tetap lemah selamanya. Segala sesuatu di dunia ini diwariskan kepada manusia.
Tanyakan pada diri sendiri: Di ​​manakah kerajaan-kerajaan dan imperium yang pernah memerintah dunia?
Yang tersisa dari Romawi hanyalah reruntuhan yang berserakan, dan di manakah api orang-orang Majusi yang menyala selama berabad-abad? Api itu akhirnya padam, dan kaisar-kaisar Sassanid lenyap, hanya menjadi satu halaman dalam sejarah.
Lalu apa yang tersisa dari kerajaan Firaun di Mesir selain piramida dan batu, satu-satunya bukti bahwa mereka pernah ada di sana?
Dan di manakah peradaban besar Andalusia yang pernah menguasai dunia? Apa yang tersisa darinya selain peninggalan mereka?
Jika demikian keadaan bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan, lalu bagaimana keadaan umat manusia?
Di manakah Firaun, yang mengaku, “Akulah tuhanmu yang tertinggi”?
Di manakah Namrud, yang mengaku bisa menghidupkan dan mematikan?
Di manakah Qarun, pemilik emas, kekayaan yang melimpah, dan harta karun? Dan di manakah Dzul-Qarnain, yang menjelajahi bumi dari timur ke barat?
Di manakah Harun al-Rasyid, yang pernah berbicara kepada awan di langit, “Turunkanlah hujan di mana pun kalian kehendaki, karena upeti kalian akan kembali kepadaku”?
Di manakah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali? Di manakah para nabi dan orang-orang saleh sepanjang sejarah?
Mereka semua telah wafat, dan hanya amal perbuatan mereka yang tersisa di sisi Allah Yang Maha Kuasa.
Hanya beberapa tahun yang memisahkan gangguan yang ditimpakan kepada Nabi saw oleh Ubay bin Khalaf dan Uqbah bin Abi Mu’aith. Kemudian situasinya berubah, dan keseimbangan kekuasaan bergeser. Mereka dibunuh sebagai pembalasan yang adil dan hukuman yang pantas. Setelah itu orang yang mereka tindas memasuki Mekah sebagai penakluk.
Sekiranya kekuasaan bisa bertahan lama bagi orang lain, pasti kekuasaan itu bisa bertahan lama untukmu. Sekiranya kekayaan bisa bertahan lama bagi orang lain, pasti kekayaan itu bisa bertahan lama untukmu. Jadi, rendahkanlah dirimu. Tidak ada seorang pun yang tetap berada di puncak selamanya, tidak seorang pun!
Pelajaran kedua:
Pertimbangkanlah siapa orang yang kamu jadikan teman, karena seorang teman bisa memengaruhimu!
Jika kamu mencermati Surah Al-Kahfi, kamu pasti menemukan bahwa seekor anjing, yang kisahnya diabadikan Allah Yang Maha Kuasa dalam Al-Quran, mendapat keberkahan karena menyertai orang-orang yang saleh.
Kemudian renungkanlah kisah yang sedang kita pelajari ini: seorang teman yang buruk menyesatkan temannya, memerintahkannya untuk melakukan perbuatan tidak bermoral, dan dia menurutinya. Karena itu, bertemanlah hanya dengan orang-orang yang membantumu menjaga imanmu.
Seseorang tidak bisa hidup tanpa seseorang yang membimbingnya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Jika lupa, dia mengingatkannya; jika ingat, dia membantunya; dan jika tersesat, dia memegang tangannya dan berkata kepadanya, “Kamu telah tersesat. Orang yang selalu memperlihatkan kesalahanmu tampak menarik bukanlah sahabat sejatimu.”
Dalam Hilyat al-Awliya’ diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz berkata kepada temannya, “Jika kamu melihatku menyimpang dari jalan yang benar, pegang kerah bajuku, guncang aku dengan keras, dan katakan kepadaku, ‘Wahai Umar, takutlah kepada Allah, karena kamu pasti akan mati!’”
Pelajaran Ketiga:
Jika kamu ingin membedakan teman baik dari teman buruk, perhatikanlah bagaimana persahabatannya memengaruhi hubunganmu dengan Allah Yang Maha Esa. Jika persahabatan itu mendekatkanmu kepada Allah, maka dia adalah teman baik, dan tetaplah berteman dengannya. Jika persahabatan itu menjauhkanmu dari Allah, maka dia adalah teman buruk, dan berpisahlah dengannya tanpa penyesalan.
Teman buruk memiliki tanda-tanda duniawi yang dapat dikenali. Berikut beberapa di antaranya: Teman buruk membuatmu meragukan kemampuanmu, melemahkan tekadmu, terus-menerus merusak kemauanmu yang baik, dan berulang kali mengatakan bahwa kamu tidak mampu. Sebenarnya, mereka takut kamu akan berhasil dan mencapai tujuanmu.
Teman buruk seringkali adalah orang yang eksploitatif yang membuatmu merasa berkewajiban untuk membantu mereka, menguras materi dan perasaanmu seperti parasit yang hidup dari orang lain. Saat mereka tidak lagi membutuhkanmu, mereka akan pergi mencari orang lain.
Ini bukan berarti kamu tidak boleh membantu temanmu secara finansial dan mendukung mereka secara moral. Apa yang akan membuatmu menjadi seorang teman jika bukan dengan hal ini?
Intinya, bedakanlah antara mereka yang mencintaimu apa adanya dan mereka yang mengeksploitasi dirimu.
Salah satu ciri teman yang buruk adalah mereka tidak menghormatimu dan tidak ragu menghinamu di depan umum.
Jangan pernah menerima penghinaan dengan kedok nasihat. Seseorang yang tidak menghormati martabatmu tidak layak menjadi temanmu. Teman yang buruk selalu mengeluh dan menggerutu. Dia tidak mengabaikan kesalahanmu atau memaafkan kesalahanmu. Dia mengamati setiap gerak-gerik, ucapan, dan tindakanmu. Kamu tidak membutuhkan seorang hakim dalam hidupmu!
Pelajaran Keempat:
Hijrah dari Mekah ke Madinah mengajarkan kita bahwa seseorang tidak dapat hidup tanpa seorang teman, bahkan seorang nabi. Namun, orang bijak memilih dengan bijak, memilih seorang pendukung, pembela, dan sumber kekuatan.
Peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi, dan kaum Quraisy melihatnya sebagai momen yang tepat untuk menabur keraguan dalam pikiran Abu Bakar ra mengenai dakwah Nabi saw. Peristiwa itu tampak di luar nalar, dan Abu Bakar ra, sebagai salah satu orang yang paling bijaksana, tidak menerima apa pun yang bertentangan dengan akal sehat. Saat Nabi saw belum bertemu dengannya untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Mereka berkata kepadanya, “Wahai Abu Bakar, temanmu mengaku dibawa dalam perjalanan malam ke Baitul Maqdis dan kembali ke Mekah dalam sebagian malam!”
Ia menjawab, “Jika ia mengatakannya, maka ia telah mengatakan yang sebenarnya.”
Inilah teman sejati, yang mengenalmu seperti ia mengenal dirinya sendiri. Sekalipun seluruh dunia datang untuk membuatmu meragukannya, tetapi iman, kepercayaan, dan keyakinanmu hanya akan bertambah.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sangat mengenal karakter temannya, itulah sebabnya beliau menjaganya tetap dekat untuk menjadi temannya dalam perjalanan yang mengubah wajah dunia ini selamanya.
Setiap hari, Abu Bakar ra meminta izin kepadanya untuk berhijrah, dan Nabi saw selalu menjawabnya, “Tunggu, mungkin Allah akan memberimu seorang teman.”
Maka ia pun menjadi sahabat Nabi saw dalam perjalanan hijrah.
Adham Syarqawi

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *