Oase
Beranda » Penyesalan Ibnu Taimiyah

Penyesalan Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Di penjara ini saat aku di penjara kali ini Allah bukakan (futuh) untukku sebagian pesan-pesan al-Qur’an dan banyak hal terkait dasar-dasar keilmuan. Banyak ulama yang mengangankan bisa memahami dan mendapatkannya.
Aku menyesal karena telah membuang-buang mayoritas waktuku selain untuk menyelami pesan-pesan al-Qur’an” Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibnu Rajab 4/519.
Pesan yang bisa kita tangkap dari penyesalan ini adalah “ulama atau penuntut ilmu jika sibuk dengan pembahasan ilmu mendalam yang melalaikannya dari mengkaji, menyapa dan membaca al-Qur’an, mengamalkan petunjuk dan maksud-maksud al-Qur’an pasti akan menyesal.
Karena hal ini adalah sebuah keteledoran. Bagaimana tidak, sungguh telah dia korbankan nafas dan umurnya yang berharga dalam hal yang ternyata kurang afdhal bagi dirinya.
Secara tidak langsung Ibnu Taimiyah berpesan, janganlah kalian terlalu sibuk dengan pembahasan seputar ilmu dan berdalam-dalam dalam mengkaji secara berlebihan sampai-sampai kalian untuk mengkaji pesan-pesan al-Qur’an, punya amalan rutin baca al-Qur’an setiap harinya dan mengamalkan al-Qur’an siang dan malam.
Memahami ilmu-ilmu syariat itu hukumnya fardhu kifayah dan terkadang fardhu ‘ain.
Akan tetapi kewajiban pertama dan hal yang harus paling didahulukan adalah tekun merenungkan pesan kandungan al-Qur’an, maksud-maksudnya dan aturan-aturanya serta mengamalkannya.
Namun apa manfaat tahu pesan-pesan al-Qur’an jika seorang muslim terlebih sosok yang berilmu namun tidak menjaga diri dari perilaku yang haram semisal dusta, fitnah, gosip, adu domba, dengki, mengintai dan menunggu orang lain terjatuh dalam kesalahan untuk diserang habis-habisan.
Apatah artinya hafal dan faham kandungan al-Qur’an namun hobi menunda-nunda shalat dan berperilaku selayaknya para penggemar dosa yang tidak punya rasa takut kepada Allah dengan melakukan beragam dosa dan kemaksiatan.
Ketika seorang muslim membaca dan merenungkan kandungan al-Qur’an dengan jujur akan nampak gamblang baginya apa itu keikhlasan dan kekhusyuan.
Dengan merenungkan pesan-pesan al-Qur’an akan terang bagi orang yang benar-benar beriman hakikat amal shalih, hakikat dunia dan akhirat.
Akhirnya seorang mukmin akan sadar bahwa berlipatnya pahala itu tidak akan terjadi tanpa mengamalkan dan memahami al-Qur’an sesuai dengan kehendak Allah dan rasul-Nya”.
Aris Munandar.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *