Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) secara resmi mendeklarasikan dukungan dan mengusulkan sastrawan senior Indonesia, Dr. (HC) Taufiq Ismail, untuk mendapatkan penghargaan bergengsi Nobel Bidang Kesusastraan.
Deklarasi tersebut dibacakan langsung oleh Wakil Ketua 3 Bidang Kerja Sama HISKI, Dr. Sastri Sunarti, M.Hum., yang hadir mewakili Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., di Kementerian Kebudayaan. Momentum bersejarah ini dibacakan tepat pada peringatan Hari Sastra Indonesia.
Melalui pembacaan deklarasi oleh Dr. Sastri Sunarti, M.Hum., pihak HISKI menyampaikan bahwa sosok Taufiq Ismail dinilai telah berhasil merealisasikan kedua tujuan besar organisasi tersebut secara nyata sepanjang karier kepenulisannya.
Sebagai seorang sastrawan legendaris, Taufiq Ismail tidak hanya melahirkan karya-karya puisi yang monumental, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan kebudayaan yang memberikan dampak signifikan secara global.
“Dr. (HC) Taufiq Ismail telah merealisasi tujuan pelestarian dan peningkatan apresiasi sastra melalui karya sastra puisi serta kegiatan-kegiatannya yang berdampak secara global,” demikian bunyi petikan poin deklarasi HISKI yang dibacakan di Kementerian Kebudayaan.
Lebih lanjut, HISKI menilai kontribusi Taufiq Ismail dalam mengenalkan identitas budaya dan sastra Indonesia di kancah global terbukti sangat kuat. Dampak global tersebut meluas melalui jejaring pergaulan internasional yang dibangun oleh masyarakat Indonesia, termasuk para mahasiswa tanah air yang tengah menempuh studi di luar negeri. Karya-karyanya dinilai mampu menjembatani dialog antarbudaya dan mengharumkan nama bangsa di tingkat dunia.
Melalui rekam jejak, konsistensi, serta pengaruh besar sang penyair dalam dunia literasi internasional, HISKI memandang Taufiq Ismail sangat layak untuk masuk dalam jajaran penerima penghargaan tertinggi kesusastraan dunia tersebut. Momentum pembacaan deklarasi pada Hari Sastra Indonesia di Kementerian Kebudayaan ini diharapkan dapat memantik dukungan yang lebih luas dari berbagai elemen masyarakat, akademisi, serta pemerintah Indonesia guna mengawal pengusulan Taufiq Ismail menuju panggung Nobel Sastra.
Pengajuan Taufiq Ismail sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra sebelumnya juga telah dilakukan oleh Minang Diaspora Global Network, jaringan diaspora Minangkabau yang memiliki cabang di 22 negara.
Dukungan dari berbagai kalangan tersebut memperlihatkan semakin kuatnya aspirasi agar sastrawan Indonesia memperoleh pengakuan di panggung sastra dunia.
Taufiq Ismail sendiri adalah seorang penyair dan penulis esai terkenal di Indonesia.
Lahir pada 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat, ia disebut sebagai salah satu tokoh utama dalam sastra Indonesia modern.
Ia juga dikenal sebagai seorang penyair besar Indonesia, aktivis budaya, dan tokoh penting Angkatan ’66 yang dikenal lewat karya-karya puisinya yang kritis terhadap tirani dan penuh semangat kebangsaan.
Karyanya sering kali menggambarkan keprihatinan terhadap masalah sosial dan politik, serta keindahan alam Indonesia.
Namun, Taufiq dikenal luas bukan hanya karena puisi-puisinya yang menyentuh, tetapi juga peran pentingnya dalam membangun infrastruktur sastra nasional.
Salah satu tonggak sejarahnya adalah pendirian majalah Horison tahun 1966 bersama Mochtar Lubis, Arif Budiman, Zaini, dan PK Ojong.
Karya-karya Taufiq Ismail, yang berakar pada realitas sosial dan berjiwa nasional, tetap menjadi inspirasi lintas generasi.
Selain menulis puisi, Taufiq juga aktif dalam pendidikan dan pernah mendirikan Yayasan Indonesia Menulis.
Ia juga berperan besar dalam menghidupkan sastra bagi generasi muda melalui karya-karya puisinya. Atas dedikasinya, tentu sosok ini layak dapat penghargaan nobel sastra.
(Yons Achmad/EDITOR/ERABARU.ID)

Komentar