Dulu saya pernah mendengar dari Habib Ali al-Jufri, kisah Gurunya, Habib Abu Bakr al-Adni yang menjadikan mobilnya sebagai perpustakaan berjalan, karena hidup beliau hanya dakwah dari satu tempat ke tempat lain. Maka satu-satunya kesempatan untuk sibuk membaca saat berada dalam mobil.
Dulu saya pernah membaca kisah yang serupa:
Ibnu al-Arabi ahli tafsir yang juga ahli fiqih, selalu membawa kitab-kitabnya saat berpergian. Ia dibantu oleh murid-muridnya, di antara kitab yang selalu beliau bawa saat berpergian: Tafsir Anwar al-Fajr fi Tafsir al-Quran (80 jilid).
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, tidak hanya sibuk membawa kitab untuk safar dan mutalaah, tapi ia juga sibuk menulis, meski sedang safar. Ada 6 kitab karyanya yang ditulis saat safar, di antaranya Zad al-Ma’ad fi hadyi Khairil Ibad (6 jilid), Raudhah al-Muhibbin, dan Miftah Dar al-Sa’adah.
Imam Fairuzabadi, penulis Qamus al-Muhith, sebagaimana yang diceritakan oleh al-Suyuthi dalam kitab Bughyah al-Wu’ah, ia tidak akan pernah safar kecuali akan membawa beberapa bawaan kitab, untuk ia baca saat safar.
Seorang ahli sastra arab, al-Shahib Ibnu ‘Abad (w. 385 H), membawa 30 onta lebih saat safar untuk membawa buku-buku sastra yang akan ia baca dalam perjalanan.
Sunnah para ulama ini tidak hilang.
Sekarang tersebar foto Guru kami, Syaikh Usamah al-Azhari yang sedang menjabat sebagai menteri agama Mesir, di dalam mobilnya ada tumpukan buku. Dengan ini kita bisa tahu, mengapa kehebatan beliau dalam keilmuan terus meningkat dan melesat jauh, meski kesibukan dan jabatan beliau sangat banyak. Semoga Allah senantiasa menjaga para Guru-Guru.
Fahrizal Fadil

Komentar